Selasa, 08 Juli 2014

Khotbah Minggu 13 Juli 2014. Thema: “MENDENGAR, MENGERTI DAN BERBUAH” Matius 13:1-9, 18-23


Pengantar:
Perumpamaan ini adalah salah satu perumpamaan yang paling dikenal dalam Alkitab karena sering diajarkan atau dikhotbahkan. Tampaknya perumpamaan ini tidak membutuhkan terlalu banyak penafsiran karena Yesus sendiri sudah menjelaskan maknanya kepada para murid. Tapi walaupun perumpamaan ini cukup mudah dipahami, perumpamaan ini tetap harus diperhatikan. "Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar, mengerti dan berbuah!"
Secara umum kita pasti sudah mengetahui bahwa tempat terbaik untuk menanam benih itu adalah di tanah yang baik dan subur bukan di jalan, bebatuan maupun di semak duri. Seperti perumpamaan Tuhan Yesus tentang seorang penabur, bahwa Firman Allah itu diumpamakan seperti benih yang membutuhkan tanah yang baik dalam perkembangannya. Dengan harapan bahwa benih itu nantinya akan bertumbuh dengan baik dan menghasilkan buah yang banyak.
Hal ini menjadi perenungan bagi kita, ketika Firman Tuhan diberitakan haruslah kita bertanya pada diri, dimana posisi kita dalam mendengar Firman Tuhan? Di pinggir jalan, di bebatuan, di semak duri atau di tanah yang baik? Sebab Firman Tuhan hanya akan tumbuh dan berbuah di tanah yang baik. Seperti halnya tanah yang baik yang sudah siap menerima benih untuk di tanamkan padanya, demikianlah kita dalam mendengar Firman Tuhan bahwa dari dalam diri kita ada kesiapan menerima pertumbuhan Firman Tuhan dan yang akan menghasilkan buah.
Keterangan:
 Sdr/i Yang dikasihi Tuhan Yesus.!    Bagi yang akrab dengan dunia pertanian tentu mudah  memahami perumpamaan Tuhan Yesus dalam bacaan Injil pada ibadah Minggu ini. Kita juga dapat mengerti bahwa memang ada tanah yang menjadi jalan untuk menuju tanah garapan, ada tanah yang dipenuhi oleh semak karena tidak terawat, ada tanah yang bercampur bebatuan, serta ada tanah yang memang telah disiapkan dengan baik. Kita tentu juga dapat mengerti, karena itu memang bisa terjadi, benih yang kita bawa ’kececer’ (jatuh secara tidak disengaja dan tidak diketahui). Benih yang kececer itu dapat di jalan, yang juga dilewati oleh unggas yang kemudian memakannya, di tanah yang berbatu, di semak dan akhirnya ditabur di tanah yang digarap dengan baik. Dan kita tahu bahwa benih yang tumbuh di tanah yang telah dipersiapkan dengan baik, akan menghasilkan panen yang baik. Dengan dasar pemahaman yang dekat dengan hidup, kita melihat dua faktor dalam perumpamaan yaitu benih dan tanah.
Pertama, benih yang tertabur di tanah yang berbatu dan bersemak duri tetap dapat tumbuh. Hal itu berarti benih yang ditabur itu adalah benih yang berkualitas baik, yang mampu tumbuh dalam kondisi apapun. Yesus menyatakan bahwa benih itu adalah firman Tuhan tentang Kerajaan Allah. Kita yakin bahwa dalam setiap firman Tuhan selalu ada kehendak baik dari Tuhan bagi kita, saudara dan saya. Itulah benih yang berkualitas baik dan dapat tumbuh dalam segala kondisi tadi.  
Kedua, macam-macam tanah menggambarkan kondisi hati dan hidup kita. Hati dan hidup kita bisa seperti jalan tanah. Firman Tuhan yang kita terima dengan cepat hilang, bak ungkapan ’masuk telinga kiri keluar telinga kanan’, tidak ada kesediaan untuk mendengar mengerti, menghayati dan melakukannya. Hati dan hidup kita bisa seperti tanah yang tipis di atas batu. Kita bersukacita menerima firman Tuhan, tetapi tidak tahan uji ketika diperhadapkan dengan kondisi riil kehidupan yang menghimpit kita. Hati dan hidup kita juga bisa seperti tanah yang dipenuhi semak duri, dipenuhi ambisi dan keegoisan karena kekuatiran hidup, sehingga kita hanya melihat kepentingan kita dan melalaikan firman yang mengajar kita untuk berlaku sebaliknya. Namun kita juga bisa seperti tanah yang baik, yang dapat membuat benih tumbuh dengan baik dan menghasilkan buah, yang dapat terjadi apabila kita setia menjadi pendengar dan pelaku firman. Benih yang baik akan tumbuh di segala kondisi tanah, tetapi untuk menghasilkan buah atau panen yang baik ia harus tumbuh di tanah yang baik pula.
Yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah seperti jenis tanah apakah hati dan hidup kita saat ini? Kalau kita ditanya, hati dan hidup kita ingin seperti tanah yang macam apa, tentu kita semua akan menjawab menjadi seperti tanah yang baik. Namun jika ditanyakan jenis tanah yang mana yang sesuai dengan hati dan hidup kita saat ini,kita akan memberi jawaban yang bermacam-macam. Bisa jadi kita seperti tanah yang menjadi jalan, seperti tanah yang berbatu, tanah yang penuh semak, atau, puji Tuhan, kalau sudah seperti tanah yang baik.
Apa yang dikehendaki oleh Tuhan atas hati dan hidup kita, pastilah bahwa kita menjadi seperti tanah yang subur, yang membuat benih menjadi tumbuh dengan baik dan menghasilkan buah. Mengapa Tuhan menghendaki kita menjadi tanah yang subur? Hal ini sesuai dengan visi Kerajaan Allah itu sendiri, yaitu pemulihan seluruh ciptaan ke dalam keadaan damai sejahtera. Dengan menjadi tanah yang subur berarti kita telah hidup di dalam Kerajaan Allah dan kebenarannya. Dengan menjadi tanah yang subur itu kita berarti menjadikan firman Tuhan itu nyata dan dapat dirasakan oleh kehidupan.
Bagaimana supaya kita menjadi tanah yang subur? Ya seperti tanah pada umumnya; tanah yang subur adalah:
1.   -  Bersih dari kotoran-kotoran, bibit penyakit, bebatuan, semak-semak. Artinya hati dan hidup kita:
   -     Kudus / hidup dalam kekudusan
   -     Bersih dari segala nafsu,
   -    Memiliki hati yang bersih seperti seorang anak kecil
2.     Mengandung air dan unsur hara yang cukup untuk kebutuhan hidup tanaman. Supaya memiliki kandungan-kandungan seperti itu, maka tanah perlu perlakuan, seperti disiram, dipupuk, dicangkul. Siapa yang melakukan, ya pemilik tanah itu. Siapa pemilik tanah itu, Ia adalah Tuhan sendiri. Oleh sebab itu sebagai tanah kita harus mau dicangkul disiram dan dipupuk oleh Tuhan. Bagaimana ia memupuk kita, yaitu melalui Roh Kudus di dalam hati nurani. Artinya kita mau menerima Roh Kudus dan tuntunanNya
Bagaimana setelah kita menjadi tanah yang subur, apa yang harus kita lakukan?
1.     Tanah mau menerima benih. Artinya kita mau menerima firman Tuhan
2.     Tanah memberi kehidupan bagi benih. Artinya
-        Merenungkan firman itu / membuat firman itu selalu tinggal dalam hati kita
-        Mempercayaai firman itu dan taat kepadanya
-        Menjadikan firman itu menjadi nyata dengan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari
Yang sering terjadi di dalam hidup kita: kita bisa mempercayaai banyak hal, tetapi sulit mempercayai firman Tuhan. Contoh:
-        Saat kita naik bis / taksi; biasanya langsung naik dan duduk & tanpa pernah menanyakan apakah mobil itu layak jalan, remnya baik, mesinnya baik, sopirnya punya sim atau tidak, berapa lama ia menjadi sopir, dll.
-        Saat kita lapar dan haus kemudian kita masuk ke rumah makan, kita langsung pesan makanan dan setelah dihidangkan langsung disantap. Kita tidak pernah bertanya apakah makanan itu mengandung zat-zat berbahaya / tidak, mengandung bibit penyakit / tidak, apakah dagingnya mengandung cacing / tidak?
Bapak, ibu dan saudara yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus,
”Kalau saat ini hati dan hidup kita masih seperti jalan tanah, masih seperti tanah yang berbatu, seperti tanah yang dipenuhi semak, mari kita berjuang, mengolah, dan mengubahnya untuk menjadi tanah yang baik. Kita bersihkan hati dan hidup kita dari segala nafsu dan keinginan yang tidak baik dan dengarlah Roh Kudus kemudian kita menerima firman itu dengan sepenuh hati, percaya dan melakukannya. Dengan begitu hidup kita akan mampu menghasilkan buah yang baik bagi kemuliaan Tuhan dan bagi sesama.”
Selamat mengolah hati dan hidup, selamat berbuah. Amin. Dari berbagai sumber.


Rabu, 04 Juni 2014

Khotbah Minggu 06 Juli 2014 Nats : Mazmur 145:8-14 Thema : “Pemerintahan Allah Kekal Selamanya Dan Penuh Kasih Sayang” Minggu: 3 Set-Trinitatis


Pendahuluan
Nama kitab ini dalam Septuaginta adalah psalmoi yang artinya “memetik dan mendentingkan”. Mula-mula digunakan untuk permainan alat musik petik. Kemudian kata itu menunjukkan kepada nyanyian “psalmos”  artinya kumpulan nyanyian. Sedangkan dalam Bahasa Ibrani yaitu “mismor” yang artinya sebuah nyanyian yang dinayanyikan dengan iringan musik.
Kitab Mazmur 145 diterima sebagai mazmur yang berasal dari Daud. Mazmur ini merupakan mazmur pujian yang mengumandangkan keagungan Tuhan di dalam kemurahanNya yang mengasihi dan setiaNya yang dicurahkan kepada yang diciptakanNya. Dalam Mazmur 145 ini, pemazmur secara keseluruhan memperlihatkan kesaksian (pengakuan) iman yang mengambarkan segala kemaha-kuasaan, kemaha-muliaan, dan kemaha-murahan hati Tuhan yang nyata di dalam seluruh kehidupan
Secara khusus, nats kotbah ini, pemazmur menyatakan imannya bahwa Tuhan itu adalah Tuhan yang pengasih, penyabar, setia, dan Allah yang penuh rahmat kepada seluruh yang dijadikanNya, baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan. Pemazmur memperlihatkan dinamika dan realitas dari Tuhan yang mengasihi itu nyata di dalam sikap secara ciptaanNya yang mau memuliakan dan memasyurkan namaNya
Penjelasan Nats
Ada bebarapa hal yang ingin dikatakan pemazmur melalui nats ini, yaitu:
Pengakuan iman: dalam nats ini dapat diperhatikan bahwa ada suatu pengakuan iman dari pemazmur yang menyatakan bahwa Tuhan itu adalah Allah yang pengasih, penyayang, panjang sabar, besar kasih setiaNya baik kepada semua orang, penuh rahmat kepada yang dijadikanNya. Tuhan yang memiliki kerajaan yang tidak berkesudahan. Tuhan yang menopang bagi yang terjatuh, penegak yang tertunduk. Pernyataan iman yang dipaparkan secara ringkas di atas ini menegaskan bahwa hakikat dan eksistensi (keberadaan) Allah nyata di dalam tindakanNya di tengah-tengah sejarah umat manusia dan segala ciptaanNya. Hal ini telah dibuktikan secara umum kepada segala makhluk di tengah-tengah dunia melalui penciptaan, pemeliharaan dan penyelamatan (lih Kej.1-11) dan secara khusus dibuktikan dalam pengalaman umat Israel selaku bangsa pilihanNya. Pengakuan iman ini merupakan pernyataan iman yang yang dirumuskan berdasarkan realitas karya dan perbuatan-perbuatan Allah. Orang-orang percaya selalu dituntut untuk menyatakan pengakuan imannya. Sebab pengaakuan iman bukan saja bermaksud untuk menyaksikan, melainkan juga sebagai pertanggungjawaban manusia terhadap Allah.
Realitas Tindakan Allah: pemazmur menyadari bahwa realitas tindakan Allah sebagaimana dinyatakan dalam pengalaman Israel ialah tindakan Allah yang membentuk umat itu menjadi suatu kerajaan yang kuat dan utuh di bawah pemimpin dari suatu bangsa yang dipilih Tuhan, merasakan bahwa Tuhan sungguh-sungguh mengasihi dan menyanyangi Israel disertai sikap yang panjang sabar dan setia, walaupun sesungguhnya umatNya itu sering memperlihatkan sikap yang tindakan tidak setia dengan melakukan tindakan penyelewengan terhadap ilahi-ilahi. Dalam keseluruhan kesaksian Perjanjian Lama diperlihatkan bahwa sekalipun umat manusia (khusus Israel) yang selalu bersikap jahat, tetapi Tuhan senantiasa membuka hati untuk mengampuninya. Allah dikisahkan selalu berulang-ulang mau mengalah dan menerima keberadaan umatNya dan mengampuninya. Sikap dan tindakan Allah yang mengampuni inilah yang memperlihatkan sikap yang mengasihi. Oleh karena itu dapat dipahami bahwa Allah tidak bertindak di dalam angan-angan, melainkan di dalam realitas hidup, di mana orang-orang dan segala yang dicptakan Allah dapat merasakan dan mengalami secara real perbuatan-perbuatan Allah.
Kerajaan Allah Tidak berkesudahan: dalam kesaksian Perjanjian Lama pada umumnya konsep kerajaan di lingkungan umat Israel sebagai kerajaan yang bersifat “Teokrasi”[1] yang artinya Allah yang memerintah. Pertama: dalam keluaran 19:6 disebutkan melalui istilah “kerajaan imam”. Konsep kerajaan imam ini diimplementasikan melalui kepemimpinan para imam yang berperan sebagai wakil Tuhan untuk memimpin umat Israel. Dalam zaman Samuel, konsep teokrasi dengan model kerajaan imam tersebut ditolak oleh Israel (I Sam 8-10). Lalu dipakailah model yang sama dengan kerajaan dunia yaitu dengan mengangkat seorang raja Israel, seperti Saul dan kemudian untuk menggantikanya diangkatlah Daud. Sekalipun demikian, seseorang yang diangkat menjadi raja untuk memimpin umatNya, hal itu tetap dipahami sebagai konsep teokrasi. Allah yang memerintah melalui seorang raja, oleh karena Allah yang mengurapinya. Raja adalah wakil Allah untuk memelihara hidup umat dalam hubungannya dengan ketata-negaraan, keadilan dan kesejahteraan. Maka seorang raja yang diangkat untuk memimpin umat Israel, selalu dipahami sebagai bentuk kerajaan Allah. Kedua: di dalam kerajaan Daud, Allah yang telah menyatakan janjiNya untuk menetapkan dan menjadikan keturunan Daud sebagai raja yang memerintah Israel secara turun-temurun. Pemahaman tentang hal ini dikemudian hari berkembang dalam dua pandangan yaitu: kerajaan yang bersifat sekular  artinya sama dengan kerajaan dunia umumnya, dan kerajaan yang bersifat spritual. Kedua hal ini berkaitan dengan pecahnya kerajaan  Yehuda di Selatan, dan dikemudian hari tidak ada lagi pemimpin yang kuat di Israel. Maka keadaan Israel diarahkan kepada pengharapan akan kedatangan Mesias keturuan Daud.  Ketiga: gagalnya sistem kerajaan sekular di Israel mengalihkan segala pengharapan dan kerinduan Israel atas pemerintahan Allah melalui kedatangan seorang Mesias. Mesias yang dinanti-nantikan itu akan membangun suatu kerajaan yang tidak berkesudahan, Israel mengharapkan kerajaan yang tidak berkesudahan itu direalisasikan Allah melalui kerajaan yang masih bersifat sekular, sehingga pengharapan akan kedatangan Mesias tidak lain adalah kedatangan Mesias secara politis. Namun yang sesungguhnya bahwa kerajaan yang mau dibangun oleh Allah bukanlah kerajaan yang bersifat sekular dan temporal (sementara) melainkan kerajaan yang brsifat spiritual dan kekal yang akan diwujudkan oleh Yesus Kristus
Allah Penopang bagi orang yang jatuh dan tertunduk: dalam ayat 14 hal itu ditegaskan, bahwa tindakan Allah yang mengasihi dan menyanyangi manusia ialah karena Allah rela menopang (menolong, menguatkan, menyertai) orang-orang yang jatuh dan tertunduk. Dalam hal ini, Allah selalu berpihak pada mereka-mereka yang mengalami ketertekanan, keterbelengguan dan ketertindasan. Tuhan membangun dan mencurahkan kasih setianya kepada mereka yang lemah (bnd. Mat. 25:40-45). Pemazmur menyatakan bahwa Allah bukanlah Allah yang berdiam diri, tetapi Allah adalah Allah yang peduli terhadap penderitaan manusia. Dosa secara umum diterima sebagai penyebab semua penderitaan itu. Karena itu, Allah berperan sebagai penopang dan penegak, agar manusia dapat berdiri dengan kokoh. Dengan kata lain, Allah mengampuni setiap orang, agar memperoleh keselamatan yang kekal.
Semua ciptaan memuji, mensyukuri dan bersaksi: Pemazmur  juga dalam nats ini mengemukakan bahwa segala ciptaan akan bersyukur dan memuji Tuhan; mengumumkan, membicarakan, memberitahukkan kemuliaan kerajaan Allah. Melalui ucapan itu pemazmur hendak menyatakan bahwa oleh karena kasih setia Tuhan yang dilimpahkan kepada segala ciptaan, maka segala ciptaan itu akan bersaksi tentang kemuliaan Allah. Bersyukur dan bersaksi merupakan tugas penting yang seharusnya diperlihatkan oleh umat Tuhan disepanjang masa. Aktualisasi dan implementasi pemujaan dan kesaksisan kepada dan tentang Allah dapat direalisasikan melalui banyak cara seperti: nyanyian, doa, pemberian persembahan, pengakuan dan perbuatan.
Renungan
Dalam perjalanan orang –orang percaya dewasa ini, mau tidak mau harus berhadapan dengan berbagai perubahan, khususnya dampak era keterbukaan dan perkambangan Zaman, maka gereja senantiasa harus memiliki identitas yang jelas untuk menciptakan syalom Allah di tengah-tengah kehidupan dunia ini:
Dapat mengaktualisasikan pengakuan-pengakuan imannya, bahwa Allah yang disaksikan oleh Pemazmur ini bukanlah Allah yang ketinggalan zaman, melainkan Allah yang dipersaksikan oleh Pemazmur selalu hadir dan menyatakan diri di setiap zaman dan tempat. Allah adalah Allah yang kekal, Dialah Allah yang menciptakan ruang dan waktu. Allah itu selalu mengasihi dan menyanyangi setiap orang dan seluruh makhluk di dunia ini. Inilah yang senantiasa perlu diaktualisasikan oleh gereja.
Kerajaan Allah yang dibangun dan dihadirkaan di tengah-tengah dunia ini adalah gereja sebagai persekutuan yang kudus, persekutuan di dalam Kristus atau persekutuan tubuh Kristus. Gereja adalah wujudnyata dari kehadiran Allah di tengah-tengah dunia ini. Kerajaan Allah yang mau dibangun adalah adanya persekutuan orang-orang percaya. Untuk  bagaimanakah orang-orang percaya dapat merefleksikan dirinya selaku anggota persekutuan di dalam kerajaan Allah
Gereja harus menyadari peranannya sebagai wakil Tuhan di tengah-tengah dunia ini. Melalui pengutusan dalam amanat agung Yesus, gereja di utus untuk terus menerus bersaksi, melayani dan bersekutu. Kehadiran gereja ialah menyatakan syalom kerajaan Allah untuk menopang dan membebaskan mereka-mereka yang lemah, tertindas, menderita dan dll. Gereja harus hadir sebagai sarana kesembuhan bagi dunia yang sedang sakit.
Pemujaan terhadap Allah dapat kita wujudkan melalui dua hal yaitu: peribadahan yang diwujudnyatakan melalui dinamika persekutuan antar orang-orang percaya, dan yang kedua adalah pengaktualisasian pemujaan di dalam realitas kehidupan dunia dan ciptaanya.  Amen



[1] Teokrasi berasal dari bahasa Yunani yaitu Teos yang artinya adalah Allah dan Kratos artinya kuasa atau pemerintahan. Jadi dapat dikatakan bahwa teokrasi adalah pemerintahan Allah, atau Allah yang menjadi raja suatu umat.

Khotbah Minggu 29 Juni 2014- Roma 6 : 12-23 Thema: “Hiduplah dalam Pembenaran, Pengudusan dan Kasih”


Setelah mempelajari tentang implikasi perbedaan manusia pertama dan kedua poin kedua yaitu kehidupan yang mati vs kematian yang hidup di pasal 6 ayat 1 s/d 11, mulai ayat 12 s/d 23, Paulus mulai mengimplikasikan secara praktis di dalam hidup yang melawan dosa.
Setelah kita dibaptiskan di dalam kematian-Nya dan memperoleh hidup baru di dalam kebangkitan-Nya, kita tidak boleh lagi hidup di dalam dosa. Apa artinya ? Ada dua arti.
Pertama, tidak lagi hidup di dalam dosa berarti hidup kita tidak ditundukkan di bawah dosa. Hal ini diajarkan Paulus di ayat 12, “Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.” Kata “berkuasa” dalam KJV diterjemahkan reign yang dalam bahasa Yunani berkaitan dengan kerajaan. Dengan kata lain, Paulus memakai metafora ketika ia mengajar bahwa dosa di sini sebagai tuan manusia ketika manusia masih menjadi hamba dosa. Ketika manusia masih menjadi hamba dosa, manusia itu tetap manusia lama yang menjadikan dosa sebagai tuannya. Karena itu Paulus mengajar jemaat Roma (dan kita juga) untuk tidak menyerah kalah terhadap kedagingan kita, melainkan kita harus berani menolak dosa. Bagaimana caranya ? Paulus menjelaskan bahwa kita bisa menolak dosa dengan tidak menuruti keinginan dosa.
Kedua, tidak hidup di dalam dosa berarti kita tidak menyerahkan anggota tubuh kita sebagai alat dosa. Di ayat 13, Paulus mengajarkan hal ini, “Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.” Kata “menyerahkan” berarti ada unsur penyerahan aktif dari pribadi tertentu kepada pribadi lain. Demikian pula, ketika ayat ini mengajarkan bahwa kita jangan menyerahkan anggota-anggota tubuh kita kepada dosa berarti kita tidak boleh lagi secara aktif berperan serta di dalam dosa apalagi untuk sesuatu yang lalim. Kata “kelaliman” dalam ayat ini bahasa Yunaninya adikia berarti injustice (=ketidakadilan). Dengan kata lain, kita tidak boleh menyerahkan tubuh kita untuk dipakai iblis dalam mengerjakan apapun yang tidak adil atau jahat karena itu melawan Allah dan berdosa. Mengapa kita bisa melakukan semuanya itu ? Paulus memberikan jawabannya di ayat 14, “Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” Yaitu, karena kita tidak dikuasai lagi oleh dosa, atau tidak memerintah hidup kita, maka kita tidak hidup di dalam dosa.
Hari ini, setelah kita merenungkan ketiga ayat ini, adakah hati kita tergerak untuk tidak lagi hidup bermain-main di dalam dosa ? Adakah kita berkomitmen untuk menggemari dosa, tetapi sebaliknya menggemari Firman Allah dan Kebenarannya ? Itulah citra diri manusia baru yang telah ditebus Kristus dari hidup yang sia-sia
Rasul Paulus mengatakan, “Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran…sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran…Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal” (Rm. 6:18, 20, 22). Di sini rasul Paulus sedang berbicara tentang perubahan status dari orang-orang yang menerima dan percaya kepada Yesus Kristus, yaitu mereka yang tadinya adalah “hamba dosa” sekarang menjadi “hamba kebenaran.” Berdasarkan ayat-ayat ini, menjadi hamba kebenaran berarti menjadi “hamba Allah.” Apa istimewanya menjadi hamba Allah? Kita membaca di sini bahwa dengan menjadi hamba Allah akan menghasilkan buah berupa pengudusan, dan dari pengudusan akhirnya kepada hidup yang kekal. Sedangkan “hamba dosa” telah menyebabkan kemerosotan (Rm. 3:23) dan berujung kepada kebinasaan (Rm. 6:23).
Dalam Perjanjian Baru penebusan selalu dikaitkan dengan kata hamba (=budak) dan kebebasan (=kemerdekaan). Ketiga kata ini merupakan kata-kata kunci dalam konsep keselamatan menurut teologi Kristen sebagaimana diperkenalkan oleh Paulus dan rasul-rasul lainnya di abad pertama. Perlu diingat, teologi Kristen yang diajarkan Yesus Kristus dan disebarluaskan oleh murid-murid dan rasul-rasul lainnya itu diperkenalkan tatkala perbudakan sedang marak-maraknya. Istilah-istilah yang lazim dalam dunia perbudakan itu digunakan sebagai metafora dalam rangka menyajikan rencana keselamatan Allah dan pelaksanaannya secara lebih mudah untuk dipahami oleh masyarakat pada masa itu. Orang berdosa itu sama seperti seorang hamba atau budak yang sedang berada di tangan majikan yang menguasainya, dan untuk memerdekakannya harus dengan tebusan.
“Bila kita memahami penebusan sebagai kemerdekaan dari suatu bentuk perbudakan yang menuntut bantuan dari luar, kita bisa menyimpulkan bahwa umat manusia yang berdosa itu terikat oleh suatu kuasa atau pengaruh yang lebih kuat daripada dirinya. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah: Oleh kuasa atau perantara apakah umat manusia yang berdosa itu telah begitu terikat?” [alinea pertama].
Zaman perbudakan adalah masa di mana kemanusiaan berada di titik nadir, keadaan terendah dalam peradaban, tatkala manusia diperlakukan seperti benda atau barang dagangan yang diperjual-belikan. Perbudakan memiliki sejarah terpanjang dalam hikayat manusia, di mana menurut catatan perbudakan telah dikenal sejak zaman Hamurabi sehingga hal itu termaktub dalam Code of Hammurabi (1760 SM); perbudakan baru berakhir secara resmi tahun 1981 ketika Mauritania, sebuah negara bekas jajahan Prancis di Afrika Barat, mengumumkan pemberlakuan UU Abolisi Perbudakan dan menjadikannya sebagai negara terakhir di dunia yang melarang perbudakan.
Dalam Roma 6:12-23, ini rasul Paulus juga mengingatkan bahwa sebagai orang-orang yang sudah ditebus dari perhambaan dosa kita tidak lagi menjadi “hamba dosa” tetapi sudah menjadi “hamba kebenaran.” Penggunaan kata “hamba” di sini untuk mempertahankan pemahaman tentang makna kepatuhan, yang semula tunduk kepada keinginan dosa sekarang tunduk kepada tuntutan kebenaran. Kalau tadinya sebagai hamba dosa telah menimbulkan kecemaran yang akan berakhir dalam kebinasaan, sekarang sebagai hamba kebenaran membuahkan kekudusan yang berujung kepada hidup kekal.
Peralihan dari “hamba dosa” kepada “hamba kebenaran” (=hamba Allah) adalah sebuah pengalaman sangat istimewa yang momentumnya perlu terus dipelihara, agar seseorang yang semula diperhamba oleh dosa menyadari akan kemerdekaannya sehingga tidak selalu merasa dikendalikan oleh kuasa dosa. Sebaliknya, menjadi hamba kebenaran adalah memiliki kebebasan untuk melakukan hal-hal yang benar tanpa dihalang-halangi lagi oleh kuasa dosa yang sudah tak berdaya lagi. Namun, seringkali kebiasaan hidup berdosa yang sudah mendarah-daging itu masih terbawa terus walaupun kita sekarang sudah menjadi hamba Allah. Seperti mantan narapidana yang baru dibebaskan setelah bertahun-tahun meringkuk di balik jeruji besi, acapkali agak sukar baginya untuk bisa langsung berperilaku sebagai orang merdeka. Sehingga rasul Paulus mengingatkan, “Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup.
Apa yang kita pelajari tentang dimerdekakan dari perbudakan dosa?
1. Kemerdekaan dari perbudakan dosa adalah keadaan di mana manusia tidak lagi terikat pada keinginan alamiah untuk berbuat dosa. Sebagaimana seorang budak yang dibebaskan dari perbudakan memiliki kesempatan untuk menikmati hidup yang lebih bermartabat, demikianlah seorang hamba dosa yang sudah dimerdekakan itu beroleh kesempatan untuk hidup lebih suci/Kudus.
2. Dimerdekakan dari perhambaan dosa bukanlah atas kekuatan kita sendiri melainkan itu adalah karunia Tuhan. Status baru ini memberi suatu kesempatan kepada kita untuk hidup terlepas dari kekangan dosa, dan untuk melakukan kebenaran sehingga kita disebut sebagai “hamba kebenaran.”
3. Meskipun Allah telah menyediakan kemerdekaan dari perhambaan dosa bagi setiap orang, namun pilihan tetap berada pada diri orang itu sendiri. Tidak seperti perbudakan fisik yang berasal dari kehendak di luar diri orang yang dijadikan budak itu, perhambaan dosa berpangkal di dalam diri orang yang menjadi hamba dosa itu sendiri. Jika kita benar2 mengasihi Kristus yang telah melahirkan kita kembali melalui KasihNya, kita tidak akan melakukan dosa lagi.
Amen


Senin, 02 Juni 2014

Khotbah Minggu 22 Juni 2014 Mateus 10: 24-39 Thema: Mengakui Yesus di depan Manusia”


Dalam buku kumpulan cerita bermakna, saya membaca sebuah cerita bagus yang menceritakan tentang seorang ibu yang menulis sebuah artikel menarik tentang pengalamannya mendekor ulang rumahnya. Segala sesuatu berjalan dengan lancar sampai suatu hari, suaminya menolak nasihat ahli dekorasi interior yang mereka sewa. Sang suami ingin tetap memasang sebuah lukisan Yesus yang besar pada dinding di ruang tamu.
          Ibu itu mencoba untuk menasihati suaminya agar berpikir ulang, tetapi ia menolaknya dengan keras. Kemudian, setelah diskusi dengannya, sang istri teringat pada sabda Tuhan ini: “Setiap orang yang mengakui Aku di depan orang lain, Aku akan mengakuinya di hadapan Bapa-Ku yang di surga (Mat 10:32).” Perdebatan di antara mereka selesai. Suaminya yang menang.
          Kini, ibu itu mengaku bahwa ia gembira karena suaminya yang menang sebab lukisan itu ternyata mempunyai pengaruh yang luar biasa bagi keluarga dan para tamu. Suatu hari, seorang tamu bgerkunjung dan memandangi lukisan itu. Akhirnya tamu itu berkata kepadanya, “Sebetulnya mata Yesus itu tidak sedang memandang kepada kalian, tetapi ia memandang lewat kalian.”
Dan suatu malam, seorang sahabat yang lain duduk di seberang lukisan itu berkata,  “Aku selalu merasa begitu damai bila berada di rumahmu ini.”
Ibu itu menutup artikelnya dengan berkata, dia tahu orang lain akan tersenyum mendengar kata-katanya itu, bahkan mungkin menertawakannya, tetapi dia tidak peduli. “Inilah yang saya ketahui,” katanya, “Ketika anda mengundang Yesus masuk ke dalam rumahmu, Anda tidak akan menjadi orang yang sama lagi.”
          Saudara/iku terkasih, penginjil Matius dalam bacaan hari ini memberi pesan kepada kita akan 2 hal penting yakni: Teladan dan Ketaatan! Dalam perutusan para murid, Yesus berpesan kepada mereka supaya di dalam menjalankan perutusan mereka harus tetap taat dan setia kepada tugas dan perutusan Yesus; selain itu pula mereka harus mampu untuk menjadi teladan dalam hal cara hidup bagi orang-orang di tempat mereka berkarya.
          Kedua poin ini diharapakan oleh Yesus untuk menjadi keutamaan yang harus dimiliki oleh setiap keluarga Kristiani. Tak terkecuali saudara/i sekalian. Yesus senantiasa mengharapkan agar dalam hidup kita sehari-hari, kita mampu untuk menjadi pewarta kabar sukacita Kristus bagi orang lain; siapapun dia, terlepas dari status kita; baik kita sebagai pelayan umat atau sebagai bapa keluarga, ibu rumah-tangga ataupun sebagai anak dalam keluarga. Pola pewartaan kita tentu harus sesuai dengan status kita masing-masing.
          Pertama, kepada setiap orang tua diharapkan agar menjalankan fungsinya dengan baik; tentu dengan cara memberikan teladan yang baik kepada anak-anaknya. Teladan yang dimaksudkan ialah cara hidup yang baik, keharmonisan yang terjalin antara suami dengan istri atau istri dengan suami, serta rasa cinta dan kasih kepada anak-anaknya. Selain itu pula para orangtua diharapkan memberi nasehat serta pelajaran berharga yang nantinya dapat berguna bagi anak-anaknya untuk tumbuh berkembang menjadi pribadi yang dewasa baik dalam iman, harap dan kasih.  
         Kedua, kepada setiap anak-anak sebagai generasi  Kristiani diharapkan memiliki ketaatan yang mantap kepada orangtuanya. Ketaatan yang dimaksudkan ialah rasa hormat dan patuh kepada orangtua, yang dibarengi oleh rasa pengabdian dan kesadaran bahwa orangtua merupakan perpanjangan tangan dari Tuhan untuk membentuk kita menjadi pribadi yang dewasa dan matang.
Saudara/I Dalam kehidupan sehari-hari betapa sering tanpa kita sadari makna percaya kepada Kristus hanya dihayati sebagai perjuangan spiritualitas untuk menghayati pengajaran-pengajaran Kristus. Sehingga tokoh Yesus Kristus sering hanya dihayati sebagai seorang “guru moral” atau pengajar yang bijaksana dan berpengaruh luas. Padahal kita akan dimampukan untuk melaksanakan seluruh pengajaran dari Kristus, ketika kita memiliki hubungan yang personal dan intim dengan Dia. Ketika dalam kehidupan iman sehari-hari kita mau menerapkan hubungan kita dengan Kristus sebagai seorang mempelai, maka kehidupan kita akan dipenuhi oleh kuasa anugerahNya yang memampukan kita untuk melaksanakan kehendak dan rencana Allah. Karena itu  persekutuan atau relasi yang personal dengan Kristus pada hakikatnya tidak dapat ditawar atau dinegosiasi lagi jikalau kita ingin menanggalkan dan menyalibkan manusia lama yang kita miliki. Bahkan makna relasi kita dengan Kristus harus melebihi relasi dan kasih kita kepada orang-orang yang kita cintai. Di Mat. 10:37, Tuhan Yesus berkata:“Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku”.  Perkataan Tuhan Yesus tersebut hendak menegaskan sesuatu yang sangat fundamental, yaitu bahwa Dia memiliki hak untuk memperoleh prioritas yang paling utama sehingga manusia harus mengasihi Dia dengan segenap hati, segenap jiwa dan akal-budinya melebihi kasih mereka kepada orang-orang yang dicintainya seperti kasih kepada ayah, ibu dan anak-anaknya. Bukankah dalam perkataan Tuhan Yesus tersebut menggemakan firmanNya agar manusia mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal-budinya (Mat. 22:37)? Jadi bukankah terdapat paralelisme gagasan teologis antara ajaran Tuhan Yesus di Mat. 22:37 dengan Mat. 10:37?  Bukankah inti dari Mat. 22:37 dan Mat. 10:37 merupakan panggilan dan dasar pijak bagi umat manusia untuk memprioritaskan diri Kristus sebagai yang paling utama, sehingga setiap orang tanpa terkecuali dengan hati yang tulus mempersekutukan dirinya sebagai seorang mempelai wanita yang sungguh-sungguh mau mengasihi mempelai pria dengan seluruh hidupnya?
                 Kesediaan diri untuk  mempersekutukan dengan Kristus pada satu pihak memberikan karunia bagi kita untuk terus dimampukan melaksanakan kehendak Allah;  dan pada pihak lain mengajak kita untuk berani mengambil pilihan hidup secara tepat. Pilihan hidup yang perlu ditempuh dan dilakukan oleh setiap orang percaya kepada Kristus adalah:
“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat. 10:38).
“Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat. 10:39).
 Ungkapan Tuhan Yesus yang menyatakan “barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” jelas suatu ungkapan yang berkias. Arti “memikul salib” secara harafiah lebih tepat diterjemahkan dengan “memikul palang salib” sebab pada zaman dahulu orang-orang yang dihukum salib dipaksa untuk memikul sebuah balok berat  (crossbeam) ke tempat dia akan dieksekusi. Jadi arti simbolis dalam ucapan Tuhan Yesus tersebut merupakan suatu panggilan agar setiap orang percaya mau mengambil keputusan yang disadari yaitu mau menyangkal diri secara total dan berjalan di belakang Kristus menuju tempat Dia akan dieksekusi mati. Kesediaan mau menyangkal diri berarti pula kesediaan untuk menampik atau menolak berbagai keinginan duniawi yang pada puncaknya rela kehilangan nyawa. Di sinilah kita sering gagal untuk mengikut Kristus dalam arti yang sesungguhnya karena kita sering gagal untuk menolak berbagai keinginan duniawi. Padahal seseorang yang sedang  memikul palang salib senantiasa berjuang dan berupaya sedemikian rupa untuk tetap tegar menuju ke tempat eksekusi! Jadi seharusnya setiap orang Kristen yang ingin memperoleh kehidupan sebagai manusia baru di dalam Kristus harus bersedia  menyalibkan manusia lamanya dengan jalan senantiasa mau menyangkal diri.  Tapi kehausan kita untuk serakah, egois, iri-hati dan memperoleh sebanyak-banyaknya kenikmatan duniawi yang menyebabkan kita tidak tahan untuk berjalan memikul palang salib di belakang Kristus.
 Perkataan Tuhan Yesus yang menyatakan: “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat. 10:39) sering disalahpahami maknanya. Dalam hal ini Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa hidup atau nyawa seseorang itu tidak bernilai sehingga tidak perlu diperjuangkan dan dipertahankan. Sebab yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus justru mau menegaskan bahwa hidup atau nyawa manusia begitu bernilai, karena itu janganlah hidup itu dipertahankan dengan cara-cara yang merugikan nilai dan martabat dirinya. Karena betapa sering manusia berupaya untuk “mempertahankan nyawa” (hidupnya) dengan cara-cara yang tidak etis, tidak bermoral dan bersifat egosentris. Karena keadaan yang sulit, seseorang merasa berhak untuk merampas hak milik orang lain. Karena kemiskinan, seseorang merasa berhak melakukan perbuatan tercela. Karena merasa dirinya kuat dan berkuasa, maka seseorang sering merasa berhak untuk menindas dan menekan sesamanya yang lemah. Sikap mereka secara duniawi tampaknya berhasil mempertahankan hidup, tetapi sesungguhnya mereka telah menghancurkan nilai-nilai dan makna dari hidupnya yang paling esensial. Mereka gagal total menghargai kehidupan atau nyawanya sendiri dengan cara merebut atau merampas hak hidup orang lain. Itu sebabnya mereka tetap hidup sebagai manusia lama yang tetap dibelenggu oleh kuasa dosa. Tetapi hidup mereka akan berubah secara drastis dan dapat menjadi manusia baru di dalam Kristus, ketika mereka mau menanggalkan pola hidupnya yang lama dengan cara mempersekutukan diri secara personal dengan Kristus; yaitu ketika mereka bersedia kehilangan nyawa karena Kristus. Mereka bersedia menolak godaan dan tawaran duniawi dengan tetap konsisten berjalan di belakang Kristus. Jadi dalam persekutuan dengan Kristus, seseorang yang kehilangan hidupnya secara duniawi justru bertujuan supaya mereka dapat mengalami suatu kehidupan yang bermakna dan otentik.
 Jika demikian, apakah saudara saat ini secara pribadi telah memiliki persekutuan dengan Tuhan Yesus? Ataukah saudara masih menempatkan Kristus sekedar sebagai guru moral atau pengajar yang bijaksana, tetapi saudara belum memiliki hubungan yang personal dengan Dia? Apabila kita belum memiliki hubungan yang personal dan khusus dengan Tuhan Yesus, maka kasih kita kepadaNya tidak pernah melebihi kasih kita kepada orang-orang yang kita cintai. Mereka terlalu kita cintai, tetapi pada sisi yang lain sebenarnya kita telah menjerumuskan hidup kita dan orang-orang yang kita cintai kepada kuasa dunia ini.  Tetapi sebaliknya ketika kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan Yesus dengan segenap hati dan kasih kita kepadaNya melebihi semua hal di dunia ini, kita justru akan dimampukan untuk mengasihi secara benar setiap orang yang ada di sekitar kita. Bagaimanakah sikap saudara sekarang? Amin. Dari berbagai sumber.


Minggu, 01 Juni 2014

Khotbah Minggu 15 Juni 2014 Kejadian 1:1-2+ 4a Thema: “Memuji Allah Sang Pencipta”

Pendahuluan:
Kitab Kejadian adalah kitab yang pertama dalam  Alkitab. Kitab ini dibagi atas 50 pasal dan berisi dua hal penting: Pertama: Sejarah peristiwa-peristiwa penting.  Kedua: Sejarah Bapak-bapak orang beriman. Melalui dua pembagian ini, dapat dilihat kemahakuasaan Allah dalam setiap peristiwa  penting dan juga kemahakuasaan kehendak Allah yang bekerja  dalam kehidupan setiap Bapak orang beriman.
Kitab Kejadian memberikan penjelasan mengenai Manusia sbb: Pertama, manusia adalah ciptaan Tuhan Allah. Manusia bukan hasil evolusi panjang dan berjuta-juta tahun dari mahluk yang paling sederhana seperti mikroba, lalu berkembang menjadi mahluk-mahluk yang lebih kompleks yang disebut binatang kemudian menjadi manusia, seperti anggapan penganjur teori Evolusi Darwin. Manusia, bukan “percikan api Ilahi” yang terperangkap dalam tubuh yang harus mengalami pembebasan kepada hakikatnya yang abadi, sebagaimana diajarkan kaum Gnostik, Kebatinan, Gerakan Zaman Baru, Hinduisme, Budhisme. Manusia adalah “keberadaan yang adanya diadakan oleh Yang Ada secara kekal”. Dialah Tuhan Allah yang memulai segala sesuatu dan Ada sebelum segala sesuatu dan Ada dengan sendirinya.
I.             1)   Kej 1 merupakan fakta sejarah:
Ada orang-orang (golongan Liberal) yang mengatakan bahwa Kej 1-11 bukanlah fakta sejarah, tetapi sekedar suatu dongeng, illustrasi, perum-pamaan dsb. Ini salah, dan bahkan sesat! Karena itu hati-hatilah dengan semua pengkhotbah / pendeta / gereja yang mempunyai pandangan demikian. Perlu diperhatikan bahwa pada awal dari Kej 1 tidak digunakan kata-kata ‘once upon a time / pada suatu waktu’ seperti yang digunakan dalam dongeng-dongeng pada umumnya! Tetapi di sini digunakan kata-kata ‘in the beginning / pada mulanya’ (Kej 1:1). Ini jelas menunjukkan bahwa Kej 1 itu bukanlah suatu dongeng atau illustrasi, tetapi merupakan fakta sejarah. Disamping itu:
·        Kej 2:1 yang berbunyi: “Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya” jelas menunjukkan bahwa Kej 1 adalah fakta sejarah.
·        Kel 20:11 yang berbunyi: “Sebab enam hari lamanya TUHAN menja-dikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan mengu-duskannya”, jelas juga menunjukkan bahwa Kej 1 merupakan fakta sejarah. Kalau Kej 1 itu hanyalah dongeng, illustrasi, dsb, maka itu berarti bahwa Allah menetapkan hari ke 7 sebagai hari Sabat berda-sarkan suatu dongeng! Ini betul-betul tidak masuk akal.
2)   Alkitab menyatakan Allah.
Pada awal dari Alkitab, pada Kej 1:1 sudah dikatakan tentang ‘Allah’. Alkitab memang menyatakan Allah kepada kita. Jadi, pada waktu meng-hampiri Alkitab, kita harus mempunyai keinginan untuk mengenal Allah.
Penerapan: Apakah saudara mempunyai keinginan untuk mengenal Allah? Dan apakah saudara belajar Firman Tuhan dengan tujuan supaya mengenal Allah atau lebih mengenal Allah? Kalau tidak, tidak ada guna-nya saudara belajar Alkitab!
3)   Allah adalah pencipta segala sesuatu.
Allah yang disebut dalam Kej 1:1 itu adalah Pencipta! Ini salah satu bagian Kitab Suci yang mendasari kalimat pertama dari 12 Pengakuan Iman Rasuli yang berbunyi: “Aku percaya kepada Allah, Bapa yang mahakuasa, khalik langit dan bumi”.

II) Penciptaan yang dilakukan oleh Allah.
 Allah menciptakan langit dan bumi (Kej 1:1-2).
Ada suatu teori / penafsiran yang salah tentang Kej 1:1-2 ini, yang disebut ‘Gap Theory’. Teori ini mengatakan bahwa di antara Kej 1:1 dan Kej 1:2 terdapat ‘gap’ (= celah / selang waktu) yang lamanya jutaan tahun atau bahkan ratusan juta tahun. Mereka menganggap bahwa dalam Kej 1:1, langit dan bumi dan segala isinya sudah sempurna. Lalu terjadi pemberontakan Lucifer / Iblis, sehingga bumi menjadi tidak berbentuk dan kosong seperti dalam Kej 1:2. Lalu dalam Kej 1:3-dst Allah melakukan penciptaan ulang.
Dasar dari ‘gap theory’ ini adalah:
1)   Mereka berpendapat bahwa Allah tidak mungkin mencipta sesuatu yang kacau seperti yang tertulis dalam Kej 1:2 – ‘bumi belum berben-tuk dan kosong, gelap gulita menutupi samudera raya’. Karena itulah mereka beranggapan bahwa penciptaan dalam Kej 1:1 sudah sempur-na, tetapi lalu menjadi rusak / kacau karena pemberontakan Iblis.
2)   Dengan adanya ‘gap’ jutaan tahun ini maka Alkitab menjadi cocok dengan ilmu Geologia yang mengatakan bahwa umur bumi sudah jutaan tahun.
3)   Kej 1:2 berbunyi: ‘Bumi belum berbentuk dan kosong’.
NIV menterjemahkan sebagai berikut: ‘Now the earth was formless and empty’ (= Bumi adalah tidak berbentuk dan kosong).
Ditinjau dari sudut bahasa Ibrani, kata ‘HAYETAH’ yang diterjemahkan ‘was / adalah’, juga bisa diterjemahkan ‘became / menjadi’. Kalau dipilih terjemahan ini, maka Kej 1:2 menjadi: ‘Dan bumi menjadi tidak berbentuk dan kosong’. Terjemahan ini cocok dengan ‘gap theory’.
Saya berpendapat bahwa ‘Gap theory’ ini harus ditolak dengan alasan / penjelasan sebagai berikut:
a)   Kej 1:1-2 tidak berarti bahwa Allah menciptakan sesuatu yang kacau, tetapi bahwa Ia menciptakan yang sempurna secara bertahap.
Penganut ‘gap theory’ tidak mau mempercayai bahwa Allah melaku-kan penciptaan secara bertahap, tetapi dalam teori mereka sendiri mereka berpendapat bahwa pada waktu Allah melakukan ‘penciptaan kembali’ dalam Kej 1:3-dst, maka Allah melakukannya secara berta-hap. Ini menunjukkan ketidak-konsekwenan teori ini.
b)   Ilmu Geologia sama sekali tidak mempunyai kepastian dalam menen-tukan umur bumi.
Perlu diketahui bahwa ada banyak metode yang bisa digunakan untuk menentukan umur bumi, dan ternyata metode-metode ini menghasil-kan hasil yang sangat bervariasi. Misalnya metode pertama meng-hasilkan bilangan 100 juta tahun, maka metode kedua ternyata meng-hasilkan bilangan 20 ribu tahun, dsb. Disamping itu perlu diketahui bahwa para ahli ilmu pengetahuan itu kebanyakan adalah orang yang bukan kristen, bahkan anti kristen. Karena itu, kalau dengan metode tertentu mereka menemukan bahwa umur bumi adalah jutaan tahun, maka hasil itu dipublikasikan, sedangkan kalau dengan metode yang lain menghasilkan bilangan ribuan atau puluhan ribu tahun (sehingga cocok dengan Alkitab), maka hasil itu mereka sembunyikan.
Hal lain yang perlu diketahui adalah bahwa pada waktu Allah men-ciptakan segala sesuatu dalam Kej 1, maka semua itu diciptakan dalam keadaan sudah mempunyai umur tertentu (yang tidak kita ketahui).
  Misalnya:
·        Pada waktu Adam diciptakan pada hari ke 6, ia tidak diciptakan sebagai seorang bayi yang baru lahir, tetapi sebagai manusia dewasa. Karena itu, andaikata pada hari ke 7 seorang ilmuwan memeriksa Adam, maka mungkin sekali ia mendapatkan bahwa Adam sudah berumur 30 tahun, atau 50 tahun, padahal Adam baru berumur 1 hari!
·        Pada waktu pohon-pohonan diciptakan oleh Allah pada hari ke 3, mereka tidak diciptakan sebagai tunas yang baru tumbuh, tetapi sebagai pohon yang sudah besar. Karena itu, andaikata pada hari ke 4 seorang ilmuwan memeriksa sebuah pohon, maka mungkin sekali ia akan mendapatkan bahwa pohon itu sudah berumur 100 tahun, padahal sebetulnya baru berumur 1 hari.
·        Demikian juga pada waktu Allah menciptakan bumi dengan lapisan batu-batuannya, Allah menciptakannya dalam keadaan sudah mempunyai umur tertentu. Dan kita tidak tahu berapa umur bumi pada waktu diciptakan. Bisa saja 1000 tahun, atau satu juta tahun, atau bahkan ratusan juta tahun!
Karena itu, kalaupun para ilmuwan jaman sekarang bisa menemu-kan suatu metode penentu umur bumi yang betul-betul dapat di-percaya, dan dengan metode itu didapatkan bahwa umur bumi sudah 5 juta tahun, maka itu tidak menunjukkan bahwa Kitab Sucinya salah. Siapa tahu bahwa Allah memang menciptakan bumi ini dalam keadaan sudah berumur mendekati 5 juta tahun?
c)   Kalau ‘gap theory’ mau mencocokkan Alkitab dengan Ilmu Geologia dalam persoalan umur bumi, lalu bagaimana dengan umur dari tulang-tulang manusia yang jutaan tahun (ini menurut ‘ilmu pengetahuan’; tetapi inipun tidak bisa dipercaya!)? Apakah mereka mau berkata bahwa dalam Kej 1:1 itu juga sudah ada manusia?
·        Kalau dikatakam bahwa dalam Kej 1:1 sudah ada manusia, maka:
*        itu berarti bahwa Adam bukan manusia pertama, dan ini ber-tentangan dengan 1Kor 15:45a yang berbunyi: “Seperti ada tertulis: ‘Manusia pertama, Adam menjadi makhluk hidup’”.
*        perlu dipertanyakan: bagaimana manusia itu bisa mati, padahal belum ada dosa?
·        Kalau mereka berkata bahwa dalam Kej 1:1 itu belum ada manu-sia, maka mereka tetap tidak bisa mencocokkan Alkitab dengan ‘ilmu pengetahuan’.
d)   Kalaupun di antara Kej 1:1 dan Kej 1:2 ada pemberontakan setan, mengapa alam semesta harus menjadi kacau / rusak? Iblis memang kuat, tetapi ia jelas sama sekali bukan tandingan Allah, sehingga ‘pertempuran’ antara Iblis dan Allah sama sekali ‘tidak seru’ dan tidak perlu sampai menghancurkan alam semesta. Pandangan yang me-ngatakan bahwa pertempuran Iblis melawan Allah itu sampai harus menghancurkan ciptaan Allah, adalah pandangan yang terlalu me-rendahkan Allah, karena secara tidak langsung mereka beranggapan bahwa kekuatan Iblis dan Allah itu tidak terlalu berbeda jauh. Amen. Dari Berbagai Sumber



Khotbah Minggu 08 Juni 2014 1 Korintus12 : 3-13 Thema : “Aneka Karunia dan Pelayanan Tetapi satu Roh dan satu Tuhan”


 Pembukaan:
      Peristiwa Pentakosta senantiasa menghadirkan terciptanya suatu kehidupan bersama yang dibangun secara transformatif. Secara fisik keadaan para murid Tuhan Yesus tidak berubah tetapi secara spiritualitas mereka benar-benar berubah. Apabila mereka dahulu dibelenggu oleh perasaan takut dan tidak berdaya, maka dalam peristiwa pencurahan Roh mereka dipenuhi oleh perasaan damai-sejahtera yang membuat mereka berani untuk menyampaikan kesaksian iman kepada lingkup yang lebih luas. Para murid Tuhan Yesus juga dilengkapi oleh karunia-karunia Roh sehingga mereka dapat melaksanakan peran mereka secara efektif. Sehingga sejak peristiwa Pentakosta, para murid Tuhan Yesus berhasil dipakai oleh Allah untuk mengumpulkan umat yang waktu itu jauh dari perasaan damai-sejahtera. Melalui peristiwa Pentakosta, maka terbentuklah suatu komunitas jemaat yang dapat mengalami perasaan damai-sejahtera dan pengampunan Allah di dalam Kristus.  Mereka dapat mengalami makna pendamaian (rekonsiliasi) yang riel dengan Allah, sesama dan diri mereka sendiri. Karena itu hari ini kita merayakan suatu hari raya turunnya Roh Kudus yang menjadi pemberian termahal dan  pemberian Allah yang terbaik (Mat 7:11 ; Yak 1:17).
Pemberian Allah adalah pernyataan kasihNya yang terbesar, Anaknya yang tunggal (Yoh 3:16), Roh Kudus adalah pemberian Allah yang termahal (Yoh 14:15-19)
Roh Kudus bukan Kuasa, tapi pribadi Allah Tri tunggal (Yoh 14:26). Artinya Roh Kudus akan menolong kita yang buka diri dipenuhi dan dituntunNya untuk hidup menurut kehendakNya (Gal 5:22-25; 1 Kor 6 : 19-20)
Betapa malangnya orang Kristen yang tidak mengenal karunia-karunia Rohani Roh Kudus. Karena Roh Kudus adalah karunia Allah bagi setiap orang percaya, maka karunia Roh Kudus harus di beri membantu kita untuk menjalankan pekerjaan pelayananTuhan berikan kepada kita. Roh Tuhan yang menghidupkan dan membaharui, Aku memberi hidup kembali (Yes 36:26-27; Yes37:1-9). Biarlah kemuliaanTuhan tetap untuk selama-lamanya, biarlah Tuhan bersukacita karena perbuatan-perbuatanNya (Maz 104)

Khotbah dari  1 Kor 12:3-13
Karunia-karunia Roh Memfokuskan pada rupa-rupa karunia Roh, rupa-rupa pelayanan dan berbagai-bagai perbuatan ajaib, merupakan sarana yang diberikan secara spontan kepada kita untuk tugas pelayanan.
Dalam kenyataannya muncul dua pemahaman tentang rupa-rupa karunia dan pelayanan yaitu:
=> Apakah rupa-rupa karunia menentukan pelayanan artinya: Kita perlu menentukan dulu karunia yang kita miliki baru cari pelayanan.
=> Rupa-rupa pelayanan itu didukung oleh karunia-karunia apapun yang mungkin dariTuhan (1 Kor12:6-8, Efesus 4:11) dimanfaat dan digunakan semaksimal mungkin.
Orang Kristen perlu aktif dan kreatif dalam pelayanan, maka Roh Kudus akan mengurapi kita dengan Karunia-karunia Roh.
Kepada kita dikaruniakan antara lain (1 Kor12:4-11, 27-31)
Karunia berkata-kata dengan hikmat dimanifestasikan dalam pelayanan
Seorang mengucapkan kata nubuat tidak selalu berarti bahwa dia memiliki pelayanan untuk bernubuat.
Seorang pernah sekali mengusir Roh Jahat, tidak berarti pelayanan yang dimilikinya adalah pelepasan. Kita harus percaya pada mujizat, karena bagi Allah tidak ada yang mustahil (Maz 46:2-3; Yoh 6:35; Kis 2:3).
Karunia menyembuhkan, Manusia memiliki tubuh, jiwa dan Roh, Tuhan ingin manusia itu sehat dalam ketiganya (kesembuhan jasmani, jiwa dan Rohani (Markus 16:18; Mat 10:8)
Karunia memberi nasehat, untuk mendorong, membesarkan hati, memberi kekuatan, jadi bukan mengeritik, melemahkan (1 Kor12:9 ; Roma 12:8)
Setiap orang percaya memiliki karunia Roh Kudus, salah satu adalah karunia melayani, untuk menolong sesama dan memuliakanTuhan serta membangun (1 Kor12:12-13, 18).
Rasul Paulus katakan, semua karunia yang diberikan Allah bagi setiap orang percaya untuk melengkapi pelayan, karunia kemurahan adalah karunia yang indah memberi kekuatan pengharapan (Roma 12:8), dan karunia memberi, bukan saja melengkapi pelayanan, tetapi mempengaruhi kehidupan Gereja, waktu, uang, talenta. Pelayanan pekerjaan Tuhan akan lumpuh jika karunia memberi tidak dimiliki orang percaya pada TuhanYesus (Amsal 3:9-10; 2 Kor 8:2-3).
Untuk beroleh selamat, kita harus memiliki iman kepada Yesus Kristus, bila iman disertai rasa lapar dan haus akan kebenaran (Mat 5:6; 12:9). Iman memampukan orang percaya untuk segala perkara, Bagi orang percaya tidak ada yang mustahil (Markus 9:23).
Oleh Roh Kudus seorang mengakuYesus Tuhan (1 Kor 12:13)
 Penerapan:
Gereja adalah suatu keragaman yang harus nyata dalam kesatuan (12 : 26-27). Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama (1 Kor 12:31)
=> Sadarlah kita karunia yang diberikan Tuhan kepada kita bukan untuk diri sendiri tapi membangun kebersamaan dan memuliakan Tuhan.
=> Ada gereja yang menonjolkan Karunia Roh tertentu saja (Karunia penyembuhan).
Bagi kita, seperti Tuhan Yesus katakan “Tetapi kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun keatas kamu, dan kamu akan menjadi saksiku sampaikeujungBumi (Kis 1:8)
Roh Kudus memberi kekuatan dan keberanian untuk melayani, mempersatukan dan bersaksi tentang kristus.
Kita semua adalah satu didalam Kristus,
Janganlah ada merasa karunianya lebih hebat, yang lain lebih rendah.
“Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita, jika satu anggota di hormati, semua anggota bersukacita (1 Kor 12:26).

Amen. Dari Berbagai Sumber

Minggu, 18 Mei 2014

"Yesus Bagi yang Saleh dan Sekuler"


John Shelby Spong penulis buku “Yesus bagi Orang Non Religius” bersikukuh menggugat doktrin yang diimani orang saleh dalam kurun waktu yang cukup panjang. Buktinya, ia tidak meragukan Yesus sebagai Tuhan, tapi ia tidak ingin menyembah suatu Allah yang tidak dapat ditatang atau setia pada suatu tradisi yang mengharuskan mengunci rapat-rapat pikiran.
Yesus sebagai seorang wisatawan sorgawi yang datang dari Allah di balik langit melalui suatu kelahiran ajaib dan yang ketika karyanya sudah selesai kembali kepada Allah itu melalui suatu perjalanan kosmik. Bagi John Shelby Spong penulis bestseller “The Sins of Scripture” ini, kisah ajaib itu sesuatu yang secara harfiah tidak masuk akal, tetapi juga sedikit lebih dari uraian teologis yang berbelit-belit dan sukar dipahami. “Mereka tidak mengerti bahwa mereka sebetulnya telah mengubur Yesus di dalam peti dan suatu dunia lain, suatu waktu lain dan suatu tempat lain,” papar Spong.
Pada ulasan lain ia mengimbuhkan argumen yang radikal sekitar kelahiran Yesus. Tidak ada bintang di atas Betlehem. Tempat lahir Yesus di Betlehemn bukan sejarah. Nabi Mikha tidak meramalkannya. Sebuah bintang tidak memberitahukannya. Para Majus tidak mengikuti bintang itu. Bintang itu tidak membawa mereka ke istana raja atau ke rumah Betlehem, tempat yang dikatakan oleh tradisi sebagai tempat kelahiran bayi Kristus. Para Majus tidak mempersembahkan emas, mur dan kemenyan. “Semua rincian ini adalah bagian dari sebuah mitologi yang sedang tumbuh yang harus dipisahkan dari Yesus jika kita ingin melihatnya sebagaimana dia adanya.”
Tempat kelahiran Betlehem adalah suatu bagian lain dari suatu tradisi tafsir mesianik yang sedang berkembang. Jika sejarah adalah agenda utama kita, pada perayaan Natal kita harus bernyanyi “Hai kota mungil Nazaret” sebab kota inilah yang kuat kemungkinan sebagai tempat di mana orang yang dikenal sebagai Yesus dari Nazaret dilahirkan. “Ada apa dengan Yesus ini, sehingga membuat orang merasa perlu menyelimuti kelahirannya dengan asal-usulnya dari Betlehem dan dengan tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban?” (hal. 28)
Buku yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Umum ini pun, berupaya membeberkan kisah orang tua Yesus dari sudut pandang Matius, Markus, Lukas dan sumber tertulis yang dinamakan Q (Jerman Quelle—sumber) “Bukankah ia ini anak tukang kayu. Bukankah ibunya bernama Maria?” (Matius 13:55)
Bagi Spong ayat ini rupanya menggugah, kenapa musti melibatkan Maria? Apakah nama itu sekedar melengkapi atau mempertanyakan siapakah sesungguhnya Maria? “Hanya dari penulisan ulang oleh Matius atas perikop Markus ini muncul tradisi Yusuf sebagai seorang tukang kayu. Matius melicinkan teks Markus sehingga teks ini selaras dengan perikop tentang kelahiran ajaib Yesus yang baru ia masukkan ke dalam injilnya.”
“Saya tidak percaya bahwa orang bernama Yusuf ini, yang menjadi ayah insani yang melindungi Yesus, pernah hidup. Teks-teks yang kita teliti di atas mendukung pernyataan saya ini. Yusuf dari awal sampai akhir adalah sosok mitologis ciptaan murni penulis yang kita sebut Markus.” (hal. 40) 
“Saya tidak berpikir ada orang yang mengetahui siapa ayah Yesus, termasuk para penulis Perjanjian Baru. Markus tidak pernah mengatakannya. Matius dan Lukas mengatakan bahwa Roh Kudus adalah ayah Yesus sebenarnya. Injil Yohanes, yang sering disebut Injil Keempat, menyingkirkan kisah kelahiran ajaib Yesus, tetapi merujuk pada Yesus sebabagai anak Yusuf pada dua kesempatan (Yohanes 1:45; 6:42)”
Menurut penulis buku yang aslinya “Jesus for the Non-Religions” ini, alasan mengapa Yusuf tetap menjadi sosok tidak jelas sepanjang sejarah Kristen, karena ia memang merupakan karakter sastrawi sejak dari awalnya, diciptakan dari mitologi interpretatif yang berkembang.
Memang, Spong tidak serta-merta menerima mitos interpretatif yang menyelimuti kehidupan Yesus dari sisi pemahaman tradisionil. “Namun, kendatipun telah mengatakan itu, saya tetap seorang Kristen yang setia. Saya masih meyakini kebenaran yang ditemukan dalam realitas asasi yang saya namakan Allah dan saya masih melihat di dalam Yesus keallahan dan kemanusiaan menetap sepenuh-penuhnya.” (hal. 84)
Terus terang, banyak informasi dijumpai saat membaca buku ini, bahkan membuat yang saleh akan geleng-geleng kepala dengan paparan John Shelby Spong yang amat berani. Soalnya, penulis yang juga dosen tamu di berbagai universitas di Amerika Utara ini, hendak membersihkan potret Yesus dari batas-batas agama yang dipahami secara tradisionil.
Buku ini bisa dijadikan refrensi perbandingan serta pantas dibaca para teolog, mahasiswa dan pendeta yang melayani di abad 21 ini. Baharuddin Silaen