Rabu, 05 November 2014

Khotbah Minggu 23 Nopember 2014 Yohanes 11:25-26 Thema : Yesus Adalah Kebangkitan dan Hidup



I.                 Pendahuluan
Dulu Yesus sering berkunjung ke rumah seorang bernama Lazarus, saudara Maria dan Marta. Rumah Lazarus itu dekat kota Yerusalem. Yesus mengasihi keluarga itu. Pada suatu hari Ia mendengar kabar bahwa Lazarus sakit keras. Ketika Yesus sampai di rumah Lazarus, ternyata Lazarus sudah mati dan dikuburkan selama empat hari.
Semua orang di rumah itu menangis, dan banyak orang berkabung karena kematian Lazarus. Tetapi Yesus berkata kepada Marta, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepadaKu, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?”
Tema Injil Yohanes adalah hidup kekal atau hidup sejati yang dikaruniakan kepada semua orang yang percaya kepada Kristus. Yang dimaksudkan disini bukanlah sekadar hidup yang berdurasi sangat panjang atau tidak pernah berakhir dari segi waktu, melainkan hidup Allah yang kekal atau hidup sebagaimana dihayati dan dijalani oleh Allah sendiri. Dalam Dia ada hidup (Yoh 1:4). Supaya setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16, 3:36). Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. (Yoh 6:36). Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal (Yoh 6:54). Barangsiapa mengikut Aku, ia akan mempunyai terang hidup (Yoh 8:12). Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. (Yoh 10:10). Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yoh 14:6).

II.               Pembahasan
Ada beberapa hal yang ingin Yesus sampaikan melalui nats kotbah pada saat ini yaitu:
a.     Kematian menunggu setiap orang
Kematian adalah kenyataan bagi semua orang. Tetapi apakah sesungguhnya kematian itu? Banyak istilah tentang kematian. Kematian pertama yang sering disebut di Alkitab ialah “kematian rohani.”
Kita mati secara rohani artinya hubungan kita dengan Allah sudah putus. Tidak ada hubungan lagi dengan Allah. Kita tidak mendengarkan suara Allah, dan Dia tidak mendengarkan kita.
Mengapa kita mati secara rohani? Alkitab mengatakan ini disebabkan karena pelanggaran-pelanggaran kita. Karena dosa kita. Dosa memisahkan kita dari Allah. Setiap orang sudah berdosa, maka kematian rohani dialami oleh setiap orang.
Tetapi di sini Yesus tidak berbicara tentang kematian rohani. Dia sedang berbicara tentang kematian jasmani. Yaitu kematian yang sudah dan akan dialami oleh semua orang. Kalau jiwa kita melayang (berpisah) dari tubuh kita, maka dikatakan kita mati (jasmani). Raja Salomo berkata bahwa ada waktunya untuk lahir, dan ada waktunya untuk mati. Dalam kitab Mazmur ada ayat yang menyatakan kepastian kematian jasmani akan menimpa setiap orang: “Siapakah orang yang hidup dan yang tidak mengalami kematian, yang dapat meluputkan nyawanya dari kuasa dunia orang mati?” Atas pertanyaan ini kita semua akan menjawab: “Pasti semua orang akan mati.” Semua orang yang masih hidup, sedang menunggu kematiannya.
b.     Kristus adalah pengharapan setiap orang
Ketika Yesus berkata kepada Marta bahwa Ia dalah kebangkitan dan hidup, maksud Yesus ialah bahwa Ia bukan sekedar guru yang mengajarkan perkara kebangkitan, tetapi Yesus adalah kebangkitan!.
Marta menjawab bahwa memang pada akhir zaman semua orang akan dibangkitkan kembali. Tetapi Yesus mengatakan bahwa sekarang ini juga Lazarus akan dibangkitkan. Kebangkitan yang berasal dari Dia. Yesuslah sumber kebangkitan. Itulah sebabnya Yesus Kristus adalah pengharapan setiap orang yang rindu akan hidup kekal. Yang rindu akan kebangkitan dan tidak mati lagi.
Selain itu dalam ayat ini sebenarnya Yesus meramalkan kebangkitanNya sendiri. Ayat ini diucapkan tujuh minggu sebelum Ia sendiri bangkit dari antara orang mati. Bagaimana akhirnya bukti-bukti dari kebangkitan Yesus, kita melihat bahwa kuburanNya kosong. TubuhNya tidak ada lagi di dalam kubur itu, Ia sudah bangkit. Yang tinggal di kubur hanyalah kainNya saja. Sesudah itu Alkitab memberitahu bahwa menyusul kebangkitanNya, Yesus menampakkan diri kepada banyak orang selama tidak kurang dari sepuluh kali. Ia berbicara kepada mereka, makan dengan mereka, berjalan dengan mereka. Yah, Yesus hidup, sebab Ia adalah kebangkitan. Bagaimana dengan hari Minggu? Orang-orang Kristen pada umumnya berhimpun pada hari Minggu untuk berbakti di gereja. Sebenarnya setiap hari Minggu kita merayakan kebangkitan Yesus, sebab Yesus memang bangkit pada hari Minggu pagi.  Karena Yesus Kristus bangkit dari kematian, Ia menjadi pengharapan kita satu-satunya untuk hidup yang kekal. Dulu ada perang saudara di Amerika Serikat, dan dalam peperangan itu seorang tentara tertembak. Ia tahu ia akan mati, sebab banyak mengeluarkan darah. Maka ia berbaring di dalam kemahnya sambil membuka dan membaca Alkitabnya. Beberapa hari kemudian ada seorang tentara lain menjumpai dia di dalam kemah itu.
c.      Percaya adalah kunci setiap orang.
Ayat ini mengatakan bahwa “barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup …......” kita sudah melihat bahwa setiap orang akan mati. Kita sudah melihat bahwa Kristuslah satu-satunya harapan setiap orang. Tetapi percaya adalah kunci bagi setiap orang. Alkitab menekankan berulang kali bahwa barangsiapa percaya akan Dia, beroleh hidup yang kekal. Tetapi orang yang tidak percaya, tidak akan melihat hidup melainkan murka Allah tetap berada di atasnya. Percaya adalah kunci, dan jikalau orang tidak mau percaya, tidak mungkin mempunyai hidup kekal.
Percaya sangat penting sekali. Orang-orang Kristen di Alkitab disebut “orang-orang percaya.” Apakah maksudnya orang percaya? Percaya berarti apa? Percaya berarti yakin! Yakin akan adanya Allah? Yakin akan Yesus? Yakin bahwa bila Allah berjanji, pasti jadi? Yakin kalau kita percaya akan Yesus, lalu Allah akan memberi hidup yang kekal? Orang percaya ialah orang yang yakin bahwa hal yang dipercayainya itu pasti akan jadi pada dia. Begitu juga kita sering mengatakan bahwa kita percaya kepada Yesus, tetapi kita tidak pernah mempercayakan nasib kita kepadaNya. Tidak pernah mempercayakan dosa-dosa kita kepadaNya. Tidak pernah mempercayakan hidup kita kepadaNya. Percaya yang tidak meliputi mempercayakan, belum merupakan percaya! Kalau saudara mau mempunyai kemenangan kekal, mau punya hidup kekal, percayakanlah dosa dan hidup saudara kepada Yesus. Ia mampu memelihara sampai pada akhirnya apa yang saudara pertaruhkan ke dalam tanganNya.
d.     Hidup kekal tersedia bagi setiap orang.
Dalam ayat itu Yesus berkata, “Setiap orang yang ….. percaya kepadaKu, tidak akan mati selama-lamanya.” Tidak akan mati selama-lamanya artinya mempunyai hidup kekal. Apa artinya mempunyai hidup kekal. Apa artinya hidup ini? Kita sendiri membaca bahwa Yesus Kristus sendiri berkata bahwa Ia adalah kebangkitan dan hidup. Berarti Ia adalah sumber buat kehidupan setiap orang. Baik kehidupan jasmani, kehidupan rohani, maupun kehidupan kekal. Bila nyawa kita terpisah (putus) dari tubuh kita, kita mengatakan bahwa kita mati secara jasmani. Tubuhnya memang mati tetapi jiwanya hidup terus. Dan bila jiwa mati, kita mengatakan bahwa kita mati secara rohani. Dan bila kita selama-lamanya dipisahkan dari Allah, kita mati kekal., Saudara/i, Tuhan Yesus sudah bangkit. Tetapi kebangkitanNya tidak berarti apa-apa untuk saudara, jikalau saudara tidak sadar bahwa kematian menunggu saudara, bahwa saudara akan binasa selama-lamanya kalau tidak memiliki Kristus sebagai satu-satunya pengharapan saudara. Tetapi sebaliknya kematian tidap perlu menakuti saudara, kalau saudara percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat saudara pribadi. Kiranya hari ini juga saudara mau bertobat dari dosa dan mengambil keputusan untuk datang kepada Yesus Kristus serta menerima Dia sebagai satu-satunya Juruselamat yang dapat memberi hidup kekal kepada saudara. Kalau saudara menerima Yesus, saudara dapat berkata: “Yesus adalah kebangkitan dan hidup!
Orang percaya yang masih hidup seharusnya tetap mempertahankan kepercayaannya kepada Yesus. Ketika orang itu tetap percaya kepada Yesus, maka dia akan menikmati kehidupan yang sejati. Secara rohani, dia tidak akan mati selama-lamanya. Secara jasmani, dia juga akan memperoleh kehidupan yang sejati, yaitu kehidupan yang penuh dengan damai sejatera. Kepercayaan kepada Yesus membuat seseorang tidak dihantui kekhawatiran dan ketakutan. Kepercayaan kepada Yesus membuat seseorang tidak gelisah tentang masa depannya. Kepercayaan kepada Yesus membuat seseorang merasakan sukacita sorgawi dan tidak terus berduka. Itulah hidup yang sejati itu. Sebagai orang percaya yang masih hidup, mari kita tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Percayalah bahwa orang yang kita kasihi yang meninggal sudah berbahagia di kehidupan yang baru bersama Tuhan. Jagalah kepercayaan kita kepada Tuhan. Dan, nikmatilah hidup yang penuh damai sejahtera, sekalipun kekhawatiran dan ketakutan menyerang kita.
Perjanjian Baru memang tidak menceritakan kematian dengan panjang lebar dan gamblang. Namun Perjanjian Baru dengan tegas menyaksikan bahwa sengat atau kuasa kematian itu telah dikalahkan dengan kebangkitan Yesus dari antara orang mati. Kematian tidak lagi sesuatu yang sungguh menakutkan sebab Yesus telah mati dan kemudian bangkit dari antara orang mati itu sebagai Pemenang. Sebab itulah Paulus meneriakkan kemenangan itu: Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu? (1 Korintus 15:55). Sebab itu gereja pun bermazmur bersama-sama Daud: sekalipun aku harus berjalan dalam lembah kekelaman aku tidak takut. Maksudnya: sekalipun orang-orang percaya harus mati dan masuk ke dalam kematian itu kita tidak akan takut lagi sebab Kristus menemani kita melewati kematian yang gelap itu. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup. (Roma 14:8-9). Baik hidup atau mati tidak dapat memisahkan kita dari kasih Allah dalam Kristus Yesus (Roma 8:38-39). Lebih dalam dari itu Rasul Paulus mengatakan: Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. (Filipi 1:20-22).

Khotbah Minggu 16 Nopember 2014 Nats : Zefanya 1:7+12-18 Thema : Hari Tuhan Sudah Dekat



I.                Pendahuluan
Zefanya, yang namanya berarti "Tuhan menyembunyikan," adalah putra dari buyut Raja Hizkia yang bernubuat selama masa pemerintahaan Yosia (639-609 SM), penguasa saleh yang terakhir di Yehuda (Zef 1:1). Dengan mengacu kepada Yerusalem sebagai "tempat ini" (Zef 1:4) dan penggambaran yang tepat dari topografi dan dosa-dosanya, menunjukkan bahwa dia adalah penduduk ibu kota. Sebagai keturunan keluarga raja dan kerabat Raja Yosia berarti bahwa ia bisa keluar-masuk istana kerajaan. Dapat dipahami bahwa nubuat-nubuatnya berfokus pada firman Tuhan bagi Yehuda dan bangsa-bangsa lainnya.
Zefanya bernubuat dan menulis untuk memperingatkan Yehuda dan Yerusalem mengenai datangnya hukuman Allah yang mengancam yang disebut "hari Tuhan yang hebat" (Zef 1:14). Penerapan jangka pendek nubuat ini ialah bahwa Yehuda yang murtad akan menerima ganjaran yang sesuai dengan kejahatan mereka, sebagaimana halnya bangsa-bangsa kafir di sekitar mereka, yang disebut satu per satu oleh Zefanya. Penerapan jangka panjangnya berkenaan dengan gereja dan dunia pada akhir sejarah. Zefanya juga menulis untuk membesarkan hati orang saleh bahwa Allah kelak akan memulihkan umat-Nya; ketika itu Yehuda akan menyanyikan pujian kepada Allah mereka yang adil, yang tinggal di antara mereka.
II.              Pembahasan
Ayat 7: Berdiam dirilah di hadapan Tuhan ALLAH! Bangsa ini telah murtad sampai pada titik di mana mereka tidak dapat kembali lagi. Penghukuman sekarang tidak dapat dielakkan. Seruan mereka yang sia-sia mengingatkan  pada generasi yang binasa dalam Air Bah ketika pintu bahtera tertutup. Mereka telah menolak untuk mempersembahkan kurban bakaran kepada Tuhan; sekarang mereka sendiri yang akan menjadi kurban persembahan itu. Kurban itu ialah segala sesuatu yang akan dihukum dan yang dianggap sebagai kurban, yang diadakan Jahwe sendiri. Ia menyediakan pula jamuan kurban para undanganNya, yang harus ditahirkan untuk ikut serta dalam ibadah itu dan undanga-undangan  Jahwe itu adalah musu-musuh, yang akan melaksanakan hukuman Allah itu.. Hari Tuhan adalah hari penghakiman, sebagaimana ditulis dalam Amos 5:18. Para undangan adalah musuh-musuh Yehuda, dan korban adalah Yehuda.

Ayat 12-13: Beberapa orang Yehuda memiliki pandangan deistik (pandangan bahwa Allah tidak terlibat secara aktif dalam kehidupan sehari-hari manusia); mereka percaya Allah tidak akan menghukum dosa umat-Nya. Namun  Orang yang mempunyai sikap ini akan menemukan pada hari penghakiman bahwa Allah sungguh minta pertanggungjawaban atas dosa-dosa yang mereka tidak mau tinggalkan. dan  manusia juga perlu tahu bahwa Allah bukan menjauhkan diri atau tidak terlibat dalam kehidupan manusia; Ia akan memberikan upah kepada orang yang mencari Dia dan menghukum orang yang berbalik dari Dia dan mengikut kejahatan (lih. Rom 2:5-11).
Dalam kitab Zefanya Tuhan melalui nabiNya mengingatkan hari kedatanganNya sebagai hukuman bagi mereka yang terus menerus hidup dalam dosa. Mereka hidup dalam dosa yang bertumpuk-tumpuk, mengental seperti anggur di atas endapannya. Mereka merasakan bahwa Tuhan acuh tak acuh terhadap apa yang mereka lakukan, Tuhan tidak berbahaya dan lepas tangan terhadap mereka. Dan ini adalah sikap hidup yang keliru dalam menantikan kedatanganNya.

Ayat 14-18: Sudah dekat hari Tuhan, yaitu hari penghakiman Allah akan manusia. Hari Tuhan itu yang akan datang dan umat manusia harus bersiap menyambut kedatangan hari Tuhan itu , Zefanya menggambarkan bahwa hari Tuhan itu pahit, bahkan sampai membuat pahlawan menangis, sementara Paulus memberikan gambaran pentingnya berjaga-jaga.
Kedatangan Tuhan Yesus kembali adalah sebuah kebenaran dan janji Tuhan yang pasti digenapi, meskipun kita tidak tahu kapan dan saatnya. Dan memang bukan persoalan kita untuk menghitung menit, jam, dan hari kedatanganNya, melainkan sikap yang dituntut dari manusia adalah meningkatkan spiritualitas kita dengan jalan meninggalkan dosa-dosa kita dan menjalani panggilan hidup kita dengan sebaik-baiknya.
Dalam “Matius 25:14-30” sebagai bagian dari Kotbah Yesus tentang akhir zaman, kita diingatkan tentang sikap hidup yang semestinya kita miliki dalam menantikan kedatanganNya kembali, yaitu setia memakai setiap talenta yang telah Tuhan karuniakan bagi setiap anak-anakNya dengan setia, maksimal dan bertanggungjawab. Namun, meskipun ini adalah kehendak Tuhan bagi kita, tetapi realitanya orang-orang meresponi kehendak Tuhan ini dengan beragam tanggapan. Ada yang meresponi kehendak Tuhan ini dengan baik sehingga mendapatkan pujian dan promosi dari Tuannya, sebaliknya ada yang mengabaikan, mensia-siakan talenta yang dipercayakan kepadanya sehingga mendapatkan hukuman dari Tuannya. Pertanyaannya adalah yang mana yang menggambarkan sikap dan respon kita dalam menantikan kedatangan Tuhan kembali.
III.            Renungan
Saudara/i, Hari Tuhan menggambarkan tentang kedatangan Tuhan di dunia ini. Hari itu adalah hari penghukuman. Tuhan akan menghukum siapa saja yang melakukan kejahatan, kekerasan dan penipuan. Pada hari Tuhan itu, ratapan terdengar di mana-mana. Suasana semakin mencekam manakala kota dan pemukiman digeledah untuk menemukan pelaku-pelaku kejahatan. Hari Tuhan juga pahit dan kelam, jauh dari suasana gembira dan semarak. Darah tercurah dan tidak ada keselamatan. Emas dan perak tidak berguna untuk membeli keamanan apalagi kenyamanan.
Pemberitaan tentang hari Tuhan perlu dilakukan saat ini. Orang-orang masa kini sering terlena dengan gaya hidup yang serba nikmat dan serba mudah. Kejahatan pun makin marak dan kualitasnya semakin meninggi. Orang-orang hidup menurut nilai-nilai yang mereka anut sendiri. Tuhan tak menentukan apa-apa. Dia bahkan disebut “tidak berbuat baik dan tidak berbuat jahat”, karena itu orang-orang juga hidup semaunya, nyaman dengan perbuatan masing-masing.
Pemberitaan tentang hari Tuhan seperti diberitakan oleh Zefanya masih tetap relevan untuk disuarakan. Satu ketika ia akan terjadi. Sudah dekat hari Tuhan dan datang dengan cepat sekali. Ini mengingatkan kita untuk tidak terlena dengan kesibukan kita masing-masing, apalagi dengan gaya hidup yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Tuhan akan melakukan pembalasan sebab mereka telah berdosa kepada Tuhan. Kita hanya akan terhindar apabila kita mau bertobat, meninggalkan kebiasaan hidup kita selama ini, mencari Tuhan dan hidup dalam kerendahan hati. Tak perlu bertanya kapan itu akan tiba. Yang perlu adalah berjaga-jaga menyambut hari Tuhan.

Khotbah Minggu 09 Nopember 2014 MATIUS 25:1‑13. Thema: "Berjaga-jagalah; Bawalah Pelita dan Minyak"



Kita mengetahui bahwa pada waktu yang lalu muncul film yang berjudul 2012 “The End of The World” karangan Roland Emmerich. Film ini laku di pasaran karena mengisahkan tentang akhir dari dunia. Film ini juga menggambarkan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi pada saat hari kiamat. Di dalam film ini, digambarkan bagaimana akan terjadi gempa bumi yang dahsyat sehingga bangunan-bangunan besar runtuh, tanah dan jalan terbelah. Selain itu juga, digambarkan bagaimana akan terjadi jatuhnya meteor dari langit yang membakar. Selain itu juga digambarkan bagaimana terjadi tsunami yang menghancurkan dataran dan pulau-pulau. Itu semua hanya gambaran-gambaran saja. Latar belakang dibuatnya film ini karena adanya perhitungan terhadap kalender suku maya di mana pada bulan Desember 2012, kalender mereka akan habis atau kembali lagi ke angka nol. Selain itu juga ada isu mengenai planet Nibiru yang akan melintasi orbit bumi atau bertabrakan dengan bumi pada tahun 2012. Semua itu hanya prediksi belaka, akan tetapi kita sebagai orang percaya, kita berpegang sepenuhnya pada Firman Allah. Kita tidak tahu kapan datangnya kiamat? Kita tidak tahu juga kapan Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya? Semuanya itu adalah Rahasia Allah. 
Kunci dari Matius 25:1-13 ada pada ayat 13 yang menyatakan: Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya. Bagaimana kita harus berjaga-jaga dapat dibaca pada ayat 1-12, dan inti dari 12 ayat tersebut adalah kita termasuk orang yang bijaksana ataukah orang yang bodoh. Seringkali yang menganggap diri bijaksana adalah yang bodoh sedangkan yang dianggap bodoh adalah yang bijaksana. Di tengah dunia yang demikian dimanakah kita bisa menempatkan diri di posisi yang tepat. Ayat 12 menyatakan: Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. Tuhan Yesus hendak menyatakan bahwa di titik terakhir yang menjadi point adalah bagaimana seseorang berelasi dengan Tuhan dan mengerti apa yang Tuhan katakan, bagaimana dia menjadi milik Tuhan dimana Tuhan menjadi gembalanya, bagaimana mereka bersekutu.
1)   Ay 1: ‘Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama ...’.
a)   Bagian ini adalah suatu perumpamaan, dan dalam menafsirkan suatu perumpamaan, yang perlu diperhatikan adalah tujuan / penekanan utama dari perumpamaan itu. Sedangkan detail‑detail / hal yang kecil-kecil hanya boleh ditafsirkan kalau detail‑detail itu sesuai dengan arah dari tujuan / penekanan utama perumpamaan itu. Detail‑detailyang tidak sesuai dengan arah dari tujuan / penekanan utama perumpamaan, harus diabaikan.
Dalam perumpamaan ini terlihat jelas bahwa tujuan / penekanan utama dari perumpamaan ini adalah supaya kita semua bersiap sedia / berjaga‑jaga menghadapi akhir jaman / kedatangan Yesus yang kedua kalinya (ay 13).
Detail‑detail yang tidak sesuai dengan tujuan perumpamaan, misalnya: apa arti pelita, minyak, buli‑buli, penjual minyak, bilangan 10, bilangan 5 dsb. Ini semua harus diabaikan!
Memang ada banyak orang yang menafsirkan bahwa ‘minyak’ adalah Roh Kudus. Kalau ditinjau sepintas lalu, kelihatannya cocok, karena 5 gadis yang bijaksana mempunyai minyak dan ini menggambarkan orang kristen sejati yang mempunyai Roh Kudus, sedangkan 5 gadis yang bodoh tidak mempunyai minyak, menggambarkan orang kristen KTP yang tidak mempunyai Roh Kudus. Tetapi kalau kita perhatikan lebih seksama, terlihat bahwa penafsiran ini tidak bisa dipertahankan, karena:
·        kelima gadis yang bodoh itu bukan tidak pernah mempunyai minyak, tetapi mereka kehabisan minyak (ay 8). Ini tentu tidak bisa diartikan sebagai orang yang kehabisan Roh Kudus / ditinggal oleh Roh Kudus, karena ini akan bertentangan dengan Yoh 14:16 yang menunjukkan bahwa Roh Kudus akan tinggal diri orang percaya selama‑lamanya.
·        kalau minyak menggambarkan Roh Kudus, lalu apa artinya cadangan minyak yang dibawa oleh 5 gadis yang bijaksana itu? Apa artinya buli‑buli tempat minyak itu? Apa artinya membeli minyak? Apa artinya penjual minyak?
b)   Kata‑kata ‘hal Kerajaan Sorga’ menunjukkan bahwa bagian ini berke­naan dengan gereja / lingkungan kristen (baik asli maupun palsu), tetapi tidak berhubungan dengan orang kafir total yang ada diluar lingkungan kristen.
Jadi, 5 gadis yang bijaksana menggambarkan orang kristen yang sejati, dan 5 gadis yang bodoh menggambarkan orang kristen KTP.
Bahwa 5 gadis yang bodoh itu tidak menggambarkan orang kafir total, juga terlihat dari fakta bahwa mereka juga mau menyambut kedatangan mempelai laki‑laki yang jelas merupakan gambaran dari Tuhan Yesus.
2)   Sekalipun bagian ini mempunyai tujuan / penekanan yang sama dengan Mat 24:45‑51, tetapi dalam bagian ini ada hal‑hal tambahan, yaitu:
a)   Dalam bagian ini ditekankan perlunya ketekunan dalam bersiap sedia menghadapi kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya. Tindakan bersiap sedia yang tidak disertai ketekunan sampai akhir, adalah sia‑sia!
Ada 2 macam penafsiran tentang kata‑kata ‘tidak membawa minyak’ dalam ay 3:
·        William Hendriksen menafsirkan bahwa 5 gadis yang bodoh itu bukan sekedar tidak membawa cadangan minyak, tetapi sama sekali tidak membawa minyak.  Jadi mereka hanya membawa pelita yang kosong. Ia juga berkata bahwa ay 7 merupakan saat pertama kalinya 10 gadis itu mau menyalakan pelita mereka.
·        Mayoritas penafsir menafsirkan bahwa 5 gadis bodoh itu mempunyai minyak dalam pelita mereka, tetapi tidak membawa cadangan minyak.
Bahwa ini merupakan pandangan yang benar, terlihat dengan jelas dari ay 8 dimana 5 gadis bodoh itu berkata: ‘pelita kami hampir padam’ (: ‘our lamps are going out’).
Jadi jelaslah bahwa 5 gadis yang bodoh itu juga mengadakan persiapan, tetapi karena tidak bisa bertekun sampai akhir, maka semua persiapan mereka sia‑sia sama sekali. Ini menunjukkan bahwa orang kristen yang bersiap sedia, tetapi tidak bertekun sampai akhir, akan binasa!
Penerapan:
Apakah saudara bertekun dalam mencari Firman Tuhan, mentaati Firman Tuhan / menguduskan diri, berbakti kepada Tuhan, berdoa, melayani Tuhan dan memberitakan Injil?  Atau saudara sering malas dalam melakukan hal‑hal itu? Kalau ya, bertobatlah dan bertekunlah, atau semua itu akan sia‑sia belaka!
b)   Adalah mungkin bagi seseorang untuk melakukan persiapan yang tidak / kurang memadai! Ingat bahwa 5 gadis yang bodoh itu bukannya tidak melakukan persiapan sama sekali. Mereka melakukan persiapan, yaitu membawa pelita dengan minyak di dalamnya. Tetapi persiapan mereka tidak memadai karena mereka tidak membawa cadangan minyak.
Kesalahan mereka terletak bukan pada apa yang mereka lakukan (kontras dengan Mat 24:49 dimana kesalahan hamba itu terletak pada apa yang ia lakukan), tetapi pada apa yang tidak mereka lakukan (dosa pasif)!
Penerapan:
·        Jangan sekali‑kali membatasi persiapan saudara dengan pemikiran bahwa apa yang saudara lakukan itu sudah cukup! Misalnya: sudah cukup saya ke gereja pada hari minggu, saya tidak perlu ikut Pemahaman Alki­tab. Atau, sudah cukup saya ikut Kebaktian dan Pemahaman Alkitab, saya tidak perlu ikut Persekutuan Doa, dsb. Bisa saja itu sudah cukup dalam pandangan saudara, tetapi tidak memadai dalam pandangan Allah!
·        Hati‑hatilah dengan dosa pasif, yaitu dosa dimana saudara tidak me-lakukan apa yang seharusnya saudara lakukan. Contoh: tidak berdoa untuk gereja (bdk. 1Sam 12:23), tidak memberitakan Injil, dsb
3)   Ay 5: ‘mempelai itu lama tidak datang‑datang juga’.
Dalam Kitab Suci terdapat:
a)   Bagian‑bagian yang menunjukkan bahwa Yesus akan segera datang keduakalinya, seperti Wah 3:11  22:20.
b)   Bagian‑bagian yang menunjukkan bahwa Yesus tidak akan segera datang / kedatangan Yesus untuk keduakalinya masih lama (ditinjau dari saat itu, yaitu abad I), seperti Mat 24:6‑8,14  Mat 25:5,19  Luk 19:11‑12  2Tes 2:1‑8.
Bagian‑bagian ini tidak bertentangan satu sama lain, karena Tuhan tidak terbatas oleh waktu (bdk. 2Pet 3:8). Ini adalah sesuatu yang tidak bisa kita bayangkan / mengerti, karena ini adalah sesuatu yang melampaui akal kita.
4)   Ay 5: ‘mereka semua lalu tertidur’.
Ada bermacam‑macam penafsiran tentang bagian ini:
a)   Ada yang menafsirkan ‘tidur’ di sini dalam arti negatif / jelek, yaitu bahwa mereka tidak / kurang berjaga‑jaga.
Ini disebabkan karena ‘tidur’ memang sering mempunyai arti seperti itu (bdk. Mat 26:40  Mark 13:36  1Tes 5:6‑7).
Tetapi, bagaimanapun juga, terlihat dengan jelas bahwa penafsiran ini tidak sesuai dengan seluruh perumpamaan, karena dalam perumpa­maan itu 5 gadis yang bijaksana, yang menggambarkan orang kristen sejati yang bersiap sedia menghadapi kedatangan Yesus yang keduakalinya, ikut tertidur. Dan mempelai laki‑laki tidak mengecam mereka karena hal itu. Juga, dalam perumpamaan ini, ketidaksiapan digambarkan dengan ‘tidak dibawanya cadangan minyak’, bukan dengan ‘tidur’.
b)   Ada juga yang menafsirkan bahwa ‘tidur’ berarti ‘mati’, dan ay 6‑7 menunjuk pada kebangkitan orang mati (bdk. Yoh 5:28‑29).
Ini juga jelas merupakan penafsiran yang salah, karena penafsiran ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa semua orang sudah mati pada saat Yesus datang keduakalinya, dan ini bertentangan dengan bagian‑bagian Kitab Suci yang menunjukkan bahwa pada saat Yesus datang keduakalinya masih ada orang‑orang (baik Kristen maupun kafir) yang masih hidup (bdk. 1Tes 4:17  Wah 6:15‑17).
c)   Calvin menafsirkan bahwa ‘tidur’ di sini menunjuk pada ‘pekerjaan duniawi / sehari‑hari’
Sekalipun seseorang betul‑betul berjaga‑jaga terhadap kedatangan Kristus yang keduaka­linya, tetapi tidak mungkin ia hanya berjaga‑jaga (terus menerus berdoa, belajar Firman Tuhan, melayani Tuhan, memberitakan Injil, dsb, dan membuang pekerjaan sehari‑harinya).
Jadi, sekalipun kita berjaga‑jaga, kita boleh tetap melakukan pekerjaan kita sehari‑hari.
Bandingkan dengan sekelompok orang Kristen di Korea yang percaya bahwa Yesus akan datang kembali pada Oktober 1992, yang lalu mem-buang peker­jaannya, menjual rumahnya, bahkan menggugurkan kandungannya, dan lalu berkumpul di suatu tempat hanya untuk menunggui kedatangan Yesus yang keduakalinya. Ini jelas merupakan tindakan extrim yang tidak bisa dibenarkan!
d)   ’Tidur’ bisa diartikan secara positif, yaitu sebagai suatu tindakan yang bertujuan untuk mengumpulkan tenaga dan kesegaran untuk penyambutan mempelai dan pesta nanti.
Jadi, ‘berjaga‑jaga senantiasa’ tidak berarti bahwa kita tidak boleh relax, istirahat, santai, cuti dsb. Semua ini boleh dilakukan asal dengan tujuan supaya kita bisa berjaga‑jaga / hidup lebih baik bagi Tuhan (bdk. 1Kor 10:31).
5)   Ay 8‑12:
a)   Para gadis bodoh itu meminta minyak (ay 8), dan lalu berusaha untuk membeli minyak (ay 10), tetapi akhirnya ditolak untuk masuk ke pesta!
Ini merupakan peringatan bagi pertobatan yang terlambat!
Ada penafsir yang mengatakan:
kerajinan di kemudian hari tidak bisa menebus kelalaian pada masa lalu).
kesempatan‑kesempatan yang hilang / disia‑siakan tidak pernah akan kembali / terulang).
Penerapan:
Jangan menunda persiapan saudara! Lakukanlah sekarang, sebelum semuanya terlambat! Dan kalau saudara mau rajin / giat bagi Tuhan, rajinlah / giatlah sekarang! Besok mungkin sudah terlambat!
b)   Gadis‑gadis yang bijaksana tidak mau memberi minyak (ay 9).
Ini bukan merupakan egoisme, tidak kasih dsb! Memang ada hal‑hal yang tidak bisa kita berikan / bagikan kepada orang lain, seperti iman, keselamatan (bdk. Kel 32:31-32  Ro 9:3), ketaatan, hubungan / persekutuan dengan Tuhan, persiapan menghadapi kedatangan Yesus yang keduaka­linya, dsb.
Ingat baik-baik bahwa Kitab Suci mengajarkan bahwa setiap orang harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri (Ro 14:12  Yeh 18:20) dan karena itu jangan harap saudara bisa ‘nunut’ pada persiapan orang lain! Saudara sendiri harus bersiap sedia menghadapi kedatangan Yesus yang kedua-kalinya!
c)   Para gadis bodoh itu mengetok pintu tetapi ditolak (ay 11‑12  bdk. Luk 13:25).
Pada saat itu, kata‑kata Tuhan Yesus yang berbunyi ‘Ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu’ (Mat 7:7) tidak berlaku bagi orang-orang itu!
Semua orang yang dalam selama hidupnya mengabaikan ketokan Tuhan Yesus pada pintu hati mereka (bdk. Wah 3:20), pada akhir jaman akan mengalami penolakan pada saat mereka mengetok pintu Kerajaan Sorga! Seseorang mengatakan:
mereka yang menolak untuk menerima undangan untuk ‘datang’ akan harus mentaati perintah untuk ‘pergi / enyah’).
d)   Ay 12: ‘aku tidak mengenal kamu’.
 ‘I don’t know you’. Ini ada dalam present tense!
Tetapi dalam Mat 7:23, NIV menterjemahkan ‘I never knew you’ (= Aku tidak pernah mengenal kamu), yaitu dalam past tense!
Jadi, kalau pada saat itu Yesus tidak mengenal saudara, itu menunjukkan bahwa Ia memang tidak pernah mengenal saudara! Kalau Yesus pernah mengenal saudara, Ia pasti akan mengenal saudara selama‑lamanya!
Penerapan:
Boleh jadi semua orang mengenal saudara sebagai orang kristen. Tetapi yang penting adalah: apakah Yesus mengenal saudara? Apakah saudara sudah pernah datang kepadaNya, menerimaNya sebagai Juruselamat pribadi dan sebagai Tuhan saudara, dan apakah saudara mempunyai hubungan pribadi dengan Dia?
Amen.


Kamis, 30 Oktober 2014

Khotbah Minggu 02 Nopember 2014 Mazmur 43:1-5 Tema : ”Allah Sumber/tempat Pengharapan Kita"

Ada sebuah lagu mengungkapkan “Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain (Mzm 84:11) menunjukkan bagaimana kerinduan dan keyakinan pemasmur dekat bersama Allah. Keyakinan ini dinyatakan karena pengalaman bersama dengan Allah senantiasa lebih baik dari pada bersama atau ditempat lain. Pengharapan seperti ini tentu didasari keyakinan bersama dengan Allah senantiasa mendapatkan sukacita dan damai sejahtera.
Demikian halnya didalam kehidupan kita sekarang ini, ditengah kehidupan jaman yang semakin canggih, ditengah tawaran-tawaran dunia yang semakin hebat menawarkan segalanya bagi kita, sering sekali kita diperhadapkan dengan pilihan mana yang harus kita ambil. Ikut bersama dengan Tuhan atau bersama dengan dunia ini. Situasi ini semakin sulit ketika ikut dalam Tuhan sering sekali kita belum mendapatkan seperti yang kita inginkan, sementara kita menyaksikan ada pula orang yang ikut dunia ini terlihat semakin baik dan sukses di dalam kehidupannya, sementara orang yang setia mengikuti Allah seolah tidak baik dan selalu gagal bahkan banyak sekali tantangan yang harus dihadapinya. Semuanya ini dapat membuat tertekanya jiwa kita serta gelisah di dalam diri kita (Mzm 42:6).
Mengapa Engkau Tertekan, hai Jiwaku?
1. Seorang anak yang dibawa ibunya ke suatu acara, berdiri, meski dia mempunyai kursi untuk duduk. Ibunya memintanya untuk duduk. Anak itu duduk, tapi tidak berapa lama kemudian dia kembali berdiri. Dan hal ini berulang beberapa kali, sampai ibunya marah dan menekan kepada anaknya untuk menyuruhnya duduk. Lalu anak itu berkata, ‘ibu menyuruh aku duduk, tapi dalam diriku aku sedang berdiri!’
2. Illustrasi ini menggambarkan betapa sering kita ditekan, dipaksa untuk melakukan yang tidak kita inginkan. Kita ingin mengatakan kebenaran, tapi sistim melarang, budaya melarang, etika melarang, sehingga kita merasa tertekan, karena suara kita tidak dapat keluar. Ketika suatu hari kita berbeda dari kelmpok kta, maka kita akan dikucilkan, dianggap merusak komunitas dan hal sering membuat kita menjadi bingung untuk menentukan sikap.
3. Pemazmur, dalam perikope ini (termasuk dalam pasal 42), merasakan tekanan karena dikucilkan dari kelompoknya ketika dia menyatakan kebenaran. Di tengah masyarakat kafir, dia menjadi bahan olok-olok karena imannya. Dia merasa sendiri dan jauh dari omunitas dan Tuhannya. Maka dia berteriak melampiaskan kerinduannya akan pertolongan Tuhan karena dia rindu untuk pulang ke baitNya, bertemu dengan Tuhan.
4. Kesadaran bahwa hidup kita hanya aman bersama Tuhan membuat Pemazmur memasrahkan dirinya pada kehendak Tuhan. Ketika musuh (Orang yang tidak saleh, penipu dan orang curang) mengepung, tidak ada yang bisa kita andalkan untuk membela diri, maka pemazmur berharap supaya Tuhan menjadi pengacaranya, membela dan memberi keadilan baginya. Itu yang dikatakan seorang anak pada ibunya, yang haknya sebagai anak perempuan dalam keluarga besarnya diabaikan. Keponakan ibu itu mengambil tanah yang diberikan ayahnya padanya karena dia perempuan dan tidak berhak atas marga ayahnya. Ketika ibu itu akan memperkarakan ketidakadilan itu, putrinya berkata: ‘Tuhanlah pembelamu, jangan andalkan hakim di bumi ini, sebab dia tidak akan membelamu di tengah masyarakat Batak yang kuat dengan adat dan garis keturunan ayah’. 
5. Tuhanlah kekuatan , yang memberi kekuatan di atas kelemahan kita. Tanah, warisan tidak akan membuat jiwa kita bergembira, sebalikny penderitaan sering membuat kita menderita karena hak kita dirampas. Kalau Tuhan kekuatan kita, kitapun akan dikuatkan. Itu berarti kita akan keluar dari ketertakanan jiwa hanya karena ketidakbenaran yang dikatakan orang pada kita. Apakah orang mengatakan kita curang, sombong, sok suci, sok pintar atau sok lainnya, kita tidak akan tertekan dengan olok-olok itu karena kita yang tahu siapa kita dalam diri kita. Struktur boleh menyuruh kita diam, tapi kita dalam diri kita akan terus berteriak bahwa kita tidak setuju pada ketidakbenaran.
6. Perikope ini sangat penting untuk meneruskan ketegaran kita dalam iman agar tetap setia, tidak diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin, bahkan di tengah penderitaan sekalipun, kita setia dalam iman kita padaNya. Kita tidak terimbas dengan karakter dunia ini, karena kita telah dibangun dalam karakter kristus yang tegar dan kuat dalam penderitaan. Yang konsisten dalam perjalanan salibNya.
7. Apakah kita perlu berkabung karena penderitaan yang dibebankan orang di atas kita? Sejauh kita mengingat bahwa hidup kita adalah pertolongan Tuhan belaka, tentu kita akan keluar dari penderitaan itu. Meskipun dia dulu kelompok kita, tapi karena kita keluar karena berbeda pemahaman tentang keyakinan dengan kelompok tersebut, dan mereka mengucilkan kita, mengolok-olok kita, tapi pemazmur berkata: mengapa engkau berkabung, mengapa engkau tertekan hai jiwaku? Pemazmur hendak menegaskan, bahwa perkabungan itu tidak perlu, sebab Allah lah kekuatan kita, yang akan menyuruh terang dan kesetiaanNya datang untuk menuntun kita masuk ke gunungNya yang Kudus. 
8. Ay 3, menegaskan bahwa Allah selalu membawa kita pada jalan-jalanNya, sehinggga kita tidak terkontaminasi dengan jalan-jalan orang curang, penipu dan umat yang tidak saleh tersebut. Tuhan memagari kita dari impitan dukacita supaya kita boleh memuji Tuhan di rumahNya yang kudus. Itu berarti kebaikan Tuhan akan selalu menolong kita untuk bertahan dalam kesetian. Kita akan membangun diri dengan menatalitas seorang pemenang. Kita tidak akan dikalahkan musuh, meskipun dia merancang pedang untuk memusnahkan kita, karena Allah lah yang ahli membuat dan memusnahkan pedang. Kita tidak kalah oleh penderitaan yang kita alami, karena Yesus pun megalami penderitaan di kayu Salib (I Petrus 2, 21-25 :epistel minggu). Nabi Yeremia (11,20); mengatakan bahwa dia mau melihat pembalasan Tuhan atas bangsa yang jahat itu, maka dia tidak memusingkan perkaranya lagi, tapi dia menyerahkan perkaranya pada Tuhan. 
9. Bila kita telah menyerahkan perkara kita pada Tuhan, kita akan selalu menang, seperti seorang yang di PHK, ketika dia akan bertemu dengan Pendetanya, pendeta itu berkata, bahwa dia akan melihat jemaatnya yang marah, sedih karena kehilangan pekerjaan. Tapi tahukah apa yang terjadi? Ketika pendeta itu bertemu dengan jemaatnya, dia melihat wajah yang tersenyum dan berkata, ‘saya sudah tidak sabar menanti apa yang akan diperlihatkan Tuhan kepadaku esok’. Sungguh, dia mempunyai mentalitas seorang pemenang. Dia tidak menyesali perusahaan yang mengeluarkannya, dia tidak menyesali Tuhan karena kehilangan pekerjaan, tapi dia sedang menanti pertolongan Tuhan dan apa yang sudah Tuhan rancang untuk masa depannya (Yer 29,11).
10. Menanti pertolongan Tuhan membawa kita masuk ke rumahNya yang kudus akan menegarkan kita di tengah persoalan hidup penderitaan tidak akan membuat kita menjadi tertekan sebab kita tahu bahwa Tuhan lah penolong kita, Dia akan membawa kita ke gunung yang kudus, masuk ke rumahNya yang kudus untuk memuji dan bersukacita dalam kasih setiaNya.
11. Meskipun kita merasa jau dari Tuhan, tapi Dia tidak jauh dari kita, sebab kasih setia Tuhan mengelilingi kita dan mengkuti kita seumur hidupku! Amin

Diambil dari Berbagai sumber.

Selasa, 21 Oktober 2014

Khotbah Minggu 26 Oktober 2014 1 Tesalonika 2:1-8 “Menyukakan Allah yg Menguji Hati”


Apakah Indikator Keberhasilan Jemaat dan seorang Pelayan….?

1 Tesalonika 2:1-8 merupakan apologia Paulus atas serangan dari pihak-pihak yang tidak senang terhadap pelayanan pemberitaan Paulus. Pertama, adanya tuduhan bahwa Paulus telah memberitakan ajaran palsu tentang kedatangan Mesias yang kedua kali dan dianggap telah melanggar ketetapan-ketetapan Kaisar (Kis. 17:7). Kelompok berpendapat kemungkinan perlawanan ini berasal dari orang-orang Yahudi terutama kaum Saduki karena mereka tidak mempercayai kedatangan Mesias yang kedua kali dan kebangkitan orang mati bahkan dalam 1 Tes. 2:14-16 Paulus mengecam orang-orang Yahudi. Kedua, adanya anggapan bahwa Paulus mempunyai motivasi yang tidak murni dalam pemberitaan Injilnya (1 Tes 2:3).
Paulus yang telah mengalami kasih Allah yang besar menggerakkannya untuk pergi memberitakan keselamatan dari Tuhan bagi dunia (Kis.9:15) . Sehingga Paulus menyatakan “celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1 Kor. 9:16).
Paulus menekankan bahwa pelayanannya bukan berdasarkan tipu daya manusia maupun untuk mencari pujian dari manusia, namun karena Tuhan mempercayakan dan menolong Paulus memberitakan Injil. Maka keberhasilan pekabaran Injil semata-mata adalah karena pertolongan Tuhan dan juga semangat kasih Allah yang tertanam dalam dirinya, sehingga segala bentuk rintangan dan tantangan yang dihadapinya dalam pekabaran Injil dapat dilalui.
Dasar pekabaran Injil yang boleh diterangkan oleh Paulus ini adalah supaya pelayanan yang telah tertanam pada jemaat Tesalonika tidak rusak akibat tuduhan-tuduhan orang Yahudi yang iri  tentang dirinya yang menyatakan ajarannya adalah suatu tipu daya, kebohongan dan juga memberikan ajaran dengan maksud lain.
Maka Paulus mengungkapkan sikapnya, yaitu motivasi dalam dirinya untuk memberitakan Injil seperti perbuatan “seorang ibu mengawasi dan merawati anaknya” (ay. 7). Bagaimana seorang ibu yang mengasihi anaknya akan mencurahkan kasih sayang dengan ketulusan dan kemurnian yang akan mengarahkan dan mendidik anaknya kejalan yang benar.
Motivasi memberitakan Injil tidak lahir dari keinginan untuk menyukakan hati manusia, tetapi hanyalah untuk menyukakan hati Allah. Hal ini terjadi karena panggilan iman kepada Kristus untuk menjadi saksi keselamatan Tuhan, yakni memberitakan Injil yang lahir dari kesaksian akan apa yang dilihat dan dialami bersama Tuhan, maka itu jugalah yang akan diberitakan. Seperti pengutusan Tuhan Yesus “pergilah keseluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala mahluk” (Mrk. 16:15), maka tugas pemberitaan Injil menjadi panggilan iman, sebab para muridNya telah menjadi “saksi dari semuanya itu” (Luk. 24:48). 
Pengalaman iman bersama Tuhan yang akan mendorong kita untuk mampu menjadi pelayan dan jemaat yang missioner. Jika seseorang tidak dapat menyadari dan mengakui kasih Tuhan dalam hidupnya, bagaimana mungkin dia mampu menyatakan kasih Tuhan kepada sesamanya? Maka dalam nas ini, Paulus ingin menyatakan bahwa kelayakannya memberitakan Injil lahir dari responnya atas kasih Tuhan yang telah dinyatakan atas hidupnya. Sehingga yang dilakukannya hanyalah untuk menyukakan hati Allah sebagaimana dia telah menjadi saksi akan kasih Allah yang besar. Motivasi pelayanan Paulus ini mengingatkan kita akan panggilan Tuhan bagi umatNya untuk menjadi saksi-saksiNya di dunia. Sebagai seorang yang telah merasakan kasih Allah yang besar, maka selayaknyalah kita bersaksi akan kasih yang telah kita terima dari Tuhan. 
Paulus memperlihatkan kuasa kasih Allah telah mengubah pandangan hidupnya, bahwa pemberitaan Injil yang dilakukannya adalah wujud dari respon kasih Allah yang dicurahkan atas hidupnya. Maka kesadaran kita akan kasih Allah pastinya akan mengubah cara pandang hidup hanya untuk kemuliaan Tuhan. Kita akan seperti pohon di tepi aliran air yang menghasilkan buahnya pada musimnya (Mzm. 1:1-6), bahwa kita memuliakan Tuhan karena kasih Tuhan itu mengaliri kehidupan kita.
Sebagai pelayan maupun orang-orang yang percaya kepada Kristus bukan sedang mencari dan berbuat sesuatu yang akan binasa, tetapi untuk berbuat untuk hal yang kekal. Seperti yang dikatakan oleh Paulus “Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus” (Gal. 1:10). Maka setiap pelayanan, kasih dan keramahan yang kita lakukan adalah buah keselamatan yang telah dinyatakan Allah atas hidup kita, dan bukan karena niat yang lahir dari kehendak dan keinginan daging kita.
Dalam memberitakan Injil, Paulus mendapat banyak sekali tantangan dari pihak luar. 1 Tesalonika 2:1-8 Paulus memaparkan pembelaannya terhadap tuduhan-tuduhan dari pihak yang tidak senang dengan pemberitaan Injil yang dilakukan oleh Paulus. Baik tuduhan bahwa Paulus memberitakan kebohongan maupun mementingkan diri sendiri (mencari keuntungan pribadi). Namun tuduhan itu bisa menjadi positif apabila kita gunakan sebagai bahan evalusai terhadap pelayanan kita. 1. Apakah yang kita beritakan atau sampaikan merupakan hal yang benar dan sesuai dengan Alkitab? 2. Apakah dalam pelayanan kita kepentingan pribadi menjadi yang utama? 3. Sudah murnikah motivasi kita dalam melayani?

Perikop ini mengajak kita memeriksa pelayanan kita selama ini. Pelayanan yang benar dan murni pasti memberikan dampak positif terhadap jemaat yang dilayani. Paulus memberikan teladan dalam melayani Tuhan. Ia tidak mencari keuntungan pribadi dan selalu berusaha memberitakan kebenaran Injil kepada jemaat. Seorang pelayan tidak harus seorang yang istimewa tetapi seorang yang melayani sepenuh hati bahkan rela memberikan nyawanya bagi pelayanan Tuhan. Amen RHLT