"MADU SURGAWI"
Perdamaian sangat dibutuhkan pada jaman ini, bagaimana kita bisa berdamai dengan sesama, dengan Tuhan dan diri sendiri.Semua ini hanya dapat kita peroleh dari Dia dan FirmanNya sebagai Madu Surgawi.
Jumat, 03 Mei 2013
DARI HIDUP YANG BERUBAH KEPADA DUNIA YANG DIUBAHKAN Nats : Roma 12:1-13
Pendahuluan:
Berbicara mengenai tranforming the world atau mentransformasi dunia ini maka ada 3 tokoh yang berbicara mengenai mempengaruhi dunia ini, yaitu :
1. Francis Schaeffer
Seorang pemikir kristen yang dikenal dengan semboyannya dan jikalau kita ingin mempengaruhi dunia ini maka ada 4 hal yang mutlak penting yang disebut two contens and two realities. Two Contens itu adalah :
a. Sound Doctrine yaitu ajaran yang sehat
b. Give Honest Answer to Honest Question yaitu memberikan jawaban yang jujur kepada pertanyaan yang jujur. Bagaimana kita menjawab semua pertanyaan hidup dalam kehdupan sehari-hari khususnya dalam segala apek hidup kita yaitu berdasarkan Firman Tuhan. Cara ini adalah yang paling sederhana dan praktis untuk kita membentuk apa yang disebut Christian World View. Christian World View adalah berpikir bersama Tuhan Yesus dan kita membentuk pikiran kristen yang dalam arti keseluruhan hidup kita dalam menjawab pertanyaan hidup sehari-hari. Ini merupakan cara sederhana yaitu dengan membaca Firman Tuhan lalu kita menjawab pertanyaan hidup sehari-hari atau dapat dikatakan keyakinan-keyakinan yang kita pegang.
Two Realities adalah :
a. True Spirituality atau kerohanian yang sejati.
Maksudnya adalah menemukan dan mengalami arti darah Tuhan Yesus Kristus melalui pekejaan Roh Kudus, artinya mengalami lahir baru.
Lahir Baru adalah hidup baru yang kita terima dari Allah Bapa di dalam Tuhan Yesus Kristus melalui iman karena pekerjaan Roh Kudus pada saat Firman Tuhan diberitakan. Hidup baru yang kita terima ini seringkali disebut Keselamatan, hidup kekal, beih ilahi, atau kodrat ilahi. Inilah hidup yang berubah. Sudahkah kita mengalami akan hidup berubah ini, hidup yang diubahkan oleh Allah.
b. The Beauty of The Human Relationship Among Christian
Suatu keindahan hubungan di antara sesama manusia. Hubungan yang manusiawi ditengah-tengah anak Tuhan, ditengah-tengah orang kristen.
2. Richard Niebuhr
Seorang tokoh yang terkenal dengan bukunya Christ and Culture. Ada 5 sikap terhadap kebudayaan.
a. Christ Above Culture yaitu Kristus di atas kebudayaan
b. Christ against Culture yaitu Kristus melawan kebudayaan
c. Christ Paralel Culture yaitu Kristus sejajar dengan kebudayaan
d. Christ of Culture yaitu Kristus hasil kebudayaan
e. Christ The Transformer of Culture yaitu Kristus mengubahkan kebudayaan
3. Peter L. Berger
Terkenal dengan The Sociology of Knowledge yaitu bagaimana seseorang yang telah diselamatkan melewati 3 tahap.
a. Mengalami Eksternalisasi yaitu bagaimana seseorang pada waktu dia percaya kepada Tuhan dan mengalami sesuatu di dalam dirinya lalu dia menuangkan kemanusiaannya dalam dirinya ke dunia ini.
b. Objektivasi yaitu bagaimana proses setelah kita menuangkan diri kita dan dunia kembali bertanya kepada diri kita.
c. Internalisasi yaitu pada waktu dunia mempengaruhi diri kita kembali.
Eksternalisasi dan internalisasi adalah bagaimana kita menuangkan kesaksian kita ke tengah dunia ini. Kalau kita gagal dalam proses ini maka kita akan mengalami stagnasi rohani. Kita menjadi orang kristen yang tidak bepengaruh, tapi kalau kita berhasil maka kita akan terus maju dan relevan, mantap dan dinamis dalam jaman ini.
Isi
Bagaimana kita bawa hidup kita setelah kita diubahkan oleh Tuhan untuk mempengaruhi dunia ini. Kalau kita mau mempengaruhi dunia ini maka kita harus mengalami :
1. The Grace Dimension
Kita harus mengalami dimensi anugerah Allah. Sudahkah kita mengalami anugerah Tuhan?kalau sudah maka ada satu tanda yaitu ada semacam kehangatan sukacita, ada semacam tanda syukur karena anugerah. Pada saat kita menerima anugerah Allah maka seluruh aspek kehidupan kita mengalami dimensi anugerah. Ini yang disebut pertobatan karena anugerah. Kalau kita mau mengubah dunia ini maka biarlah kita diubah oleh anugerah Allah. Grace dimension membawa orang kepada beberapa hal :
a. Renewing the mind yaitu memperbaharui pikiran atau pembaharuan budi
b. Touching the heart yaitu menyentuh hati
c. Transforming the life yaitu mengubah hidup
Orang yang sudah menerima anugerah Tuhan paling sedikit mengalami 4 aspek :
a. Kita mengetahui bahwa Allah sudah mengasihi kita. Tuhan itu Allah dan Dia mengasihi kita.
b. Kita akan mengalami bahwa anugerah itu sudah diberikan.
c. Menerima apa yang kita tidak layak.
d. Mereka paling suka merenungkan jaminan tertulis dari kasih Allah yaitu Firman-Nya.
2. Bagaimana Kekristenan itu membentuk kita.
Kita sudah mengalami anugerah, hadir di dunia ini sebagai murid Kristus. Dengan kata lain dikatakan humble obedience atau ketaatan yang rendah hati. Kerohanian sejati adalah pada waktu kita mentaati Tuhan. Kita menyadari kita tidak layak. Itu karena anugerah-Nya yang membuat kita merenungkan kasih-Nya, mengenal kasih karunia-Nya dan mengenal Dia. Untuk melaksanakan ketaatan itu maka perlu adanya spiritual disciplines atau disiplin rohani yaitu disiplin-disiplin yang dipegang oleh orang kristen atau jemaat Tuhan di dalam perjalanan gereja Tuhan yang dijalankan sehingga membuat rohani bertumbuh. Pada saat kita menempatkan diri di dalam disiplin rohani, dalam rangka ingin di bentuk agar semakin menyerupai Kristus, dalam rangka kita ingin bersekutu dengan Tuhan Yesus, dalam rangka kita ingin menjadi murid-Nya maka anugerah Tuhan akan mengalir dan kita akan berubah.
3. An Always Reforming Ministry
Bila disederhanakan maka dapat dikatakan dengan Joyfull Love atau kasih yang sukacita. Setelah menjadi murid Tuhan. Kita berhubungan dengan Tuhan Yesus di dalam disiplin rohani yang kita jalankan dan anugerah Tuhan terus bekerja maka disitulah kita melakukan pelayanan dengan sukacita.
Phillip Brooks mengatakan kewajiban membuat kita melakukan suatu hal dengan baik tetapi kasih menjadikan kita melakukan hal-hal yang indah dan hikmat membuat kita mengerti bagaimana melakukannya.
Penutup
Maukah kita mengubah dunia ini setelah hidup kita diubahkan oleh Tuhan? Kita harus memiliki ajaran yang sehat dan kita juga menjawab pertanyaan hidup sehari-hari berdasarkan Firman Tuhan. Allah memberikan anugerah-Nya dengan menebus kita tapi bukan hanya untuk hidup kita sendiri tetapi untuk menjadi berkat merubah dunia ini. Untuk mengubah dunia maka kita harus mengalami anugerah Tuhan terlebih dahulu, ikut dibentuk menjadi murid-Nya dan mengalami joffull love.
Khotbah pada Hari Kenaikan Kisah Para Rasul 1: 6-14. Thema : “Kamu akan menerima Kuasa”
Hari Kenaikan Yesus ke sorga adalah merupakan peristiwa penting yang tiap tahunnya kita peringati dan dirayakan oleh seluruh umat kristiani. Peristiwa ini penting karena bagian dari pada peristiwa sejarah keselamatan di dalam Yesus Kristus. Kenaikan Yesus ke sorga merupakan puncak dari pada pengangkatan Kristus dalam kemuliaan Allah. Dia diangkat, ditinggikan, dan dimuliakan oleh Allah dengan duduk disebelah kanan Allah(Markus 16:19,Ibrani 1:3-4).
Kenaikan Kristus ke sorga membuka jalan dan menjadi jaminan bagi orang percaya bahwa kita akan turut diangkat dan ditinggikan. Hal ini menjadi harapan yang pasti bagi setiap orang percaya, Kristus telah menyediakan tempat di pangkuan Allah Bapa. Inilah kepastian kehidupan yang kekal bagi setiap orang percaya. Sebagaimana Kristus telah diangkat dan di tinggikan maka demikianlah kita sebagai orang yang percaya kepadaNya juga di angkat dan ditinggikan dalam kehidupannya. Kenaikan Kristus ke sorga telah mengangkat status setiap orang percaya menjadi pewaris kerajaan Allah. Sebagai pewaris kerajaan Allah hendaknya kita menunjukkan citra diri warga kerajaan Allah sebab kita adalah saksi Kristus di dunia ini (Thema Khotbah).
Melalui teks khotbah dalam Kisah Para Rasul 1 : 6 – 14, di ceritakan tentang proses kenaikan Yesus ke sorga. Dalam peristiwa ini ada beberapa hal yang menjadi perenungan bagi kita sebagai saksi Kristus antaralain:
Pertama, Sebelum Yesus diangkat kesorga, Ia menjannjikan bahwa Para Rasul akan menerima kuasa dari Roh Kudus dan sekaligus perintah : “Kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi”(Introitus). Janji tersebut mengandung makna,Perlengkapan,perlindunga dan peneguhan akan tugas pelayanan yang di embankan kepada Rasul-rasul untuk menjadi saksi tentang apa yang mereka lihat dan alami bersama Yesus. Tugas pelayanan telah dipercayakan kepada Rasul- Rasul supaya diteruskan dan dilakukan dengan penuh tanggung jawab . Demikian juga halnya dengan kita sebagai orang yang percaya yang sekaligus terlibat dalam tugas panggilan itu sampai ahir hidup kita di dunia ini.
Kedua, Setelah Yesus terangkat ke sorga, Para Rasul berdiri melihat dan menatap kelangit dan dua orang yang berpakaian putih adalah malaikat Tuhan berkata kepada mereka bahwa Yesus akan datang kembali dengan cara yang sama seperti Ia naik ke sorga. Lukas 21: 27,”Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaanNya”.
Sebagai saksi Kristus, kita tidaklah hanya berdiam diri, melihat dan meratapi tapi pergi untuk memberitakan injil sampai kepada ahir Zaman atau kedatangan Yesus yang keduakali. Dalam Wahyu 22: 11- 12, : “Barang siapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat, barang siapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barang siapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barang siapa yang kudus, biarlah ia menguduskan dirinya ! Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upahku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya”.
Ketiga, Para Rasul dan beserta beberapa perempuan serta Maria ibu Yesus kembali ke Yerusalem dari bukit Zaitun yaitu di seberang lembah Kidron sekitar 2,5 km sebelah timur kawasan Bait Allah di Yerusalem.
Mereka semua bertekun dengan sehati berdoa bersama-sama. Doa adalah kekuatan dalam membangun kebersamaan dan persekutuan .
Doa adalah dasar kekuatan kita dalam melakukan pelayanan serta segala tantangan dan pergumulan yang kita hadapi.
Pengenaan:
Melalui khotbah Kenaikan hari ini, saya ingin memasti-kan kita semua bahwa kenaikan-Nya sesungguhnya adalah jaminan pengharapan hidup kita! Kenaikan Kristus ke surga menandai akhir masa penghinaan Kristus dan masuknya ke suatu masa pemuliaan. Setelah kenaikan ke surga berlalu, Kristus kemudian siap memulai pelayanan-pelayanan lain baik untuk kepentingan-Nya sendiri maupun untuk kepentingan dunia. Beberapa catatan tentang makna kenaikan Kristus bagi kita pada masa kini adalah:
Pertama, kenaikan Kristus adalah pelengkap bagi kebangkitan-Nya. Meskipun dari beberapa pernyataan dalam PB mungkin dapat ditarik kesimpulan bahwa pemuliaan Kristus terjadi bersamaan dengan kebangkitan-Nya, namun kebangkitan itu tetap dimengerti sebagai penaklukan atas maut sedangkan kenaikan dan pemuliaan merupakan pengertian tersendiri yang menonjolkan status surgawi Kristus. Sebagai penakluk maut, Kristus menjadi yang sulung di antara umat-Nya. Sedangkan seba-gai Kristus yang sudah naik, Ia meneruskan kemenangan kebang-kitan-Nya itu sehingga menjadi suatu pelayanan yang mulia demi umat-Nya. Maka dapat dikatakan bahwa kebangkitan tanpa kenaikan akan menyebabkan beberapa unsur penting dalam ajaran Kristen tidak dapat dijelaskan.
Kedua, kenaikan Kristus adalah permulaan pemuliaan dan penobatan-Nya sebagai Raja. Pernyataan di dalam Surat Filipi pasal dua bahwa Yesus sangat ditinggikan dan diberi nama Tuhan memperlihatkan akibat yang penting dan langsung dari kenaikan-Nya. Penobatan Kristus sebagai Raja dimaksudkan sebagai cara menun-jukkan kedaulatan-Nya atas seluruh ciptaan. Dan pada akhirnya, sebagai hasil dari penobatan ini, Kristus dijamin akan memperoleh penghormatan dari seluruh makh-luk. Oleh karena itu, kedudukan Kristus sekarang yang berada di sebelah kanan Allah Bapa sangat penting bagi orang-orang percaya sebagai dasar yang memberi kekuatan iman kita. Dengan demikian Kristus tidak hanya dilihat sebagai pencipta dunia, tapi sekarang Dia adalah sebagai penopang-Nya.
Ketiga, kenaikan Kristus adalah permulaan pelayanan-Nya sebagai pengantara atau Juru Syafaat. Sama seperti halnya dengan imam besar bangsa Yahudi yang pekerjaannya sebagai pengantara bergantung pada diperolehnya kesempatan untuk masuk ke dalam tempat yang mahakudus, demikian pula pekerja-an Kristus sebagai pengantara antara Allah dan manusia bergan-tung pada masuknya pengantara itu ke surga.
Keempat, kenaikan Kristus adalah penggenapan misi-Nya. Misi Kristus di dunia yang dimulai dengan inkarnasi diakhiri dengan asensi atau kenaikan. Oleh karena tujuan misi itu ialah penebusan dosa manusia, maka kenaikan Kristus menandakan selesainya misi tersebut. Dalam inkarnasi Allah menjadi manusia; dalam asensi manusia Ilahi kembali kepada Allah. Kristus bukan hanya menebus dosa manusia melalui kematian-Nya, tetapi dengan kenaikan-Nya Ia membawa bukti penebusan itu ke dalam hadirat Bapa.
Kelima, kenaikan Kristus adalah penentu penganugerahan Roh Kudus. Yesus sendiri menya-takan di dalam Yohanes 7:39 bahwa Roh Kudus baru diberikan apabila Ia telah dimuliakan. Hal ini sesuai dengan Efesus 4:8 (yang didasarkan pada Mazmur 68:19) yang mengatakan bahwa pemberian-pemberian diberikan sesudah kenaikan. Karena itu, Pentakosta baru dapat terjadi sesudah kenaikan Yesus.
Keenam, kenaikan Kristus adalah pembuka jalan masuk bagi orang-orang percaya. Sebagai akibat kebangkitan-Nya, Kristus dinyatakan sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Dengan demikian Ia melibatkan semua orang percaya dalam kebangkitan dan kenaikan-Nya sendiri. Ia yang memperoleh jalan masuk kepada Bapa sudah memperoleh hak itu juga bagi semua orang yang dipersatukan dengan Dia. Inilah sumber keyakinan kita yang datang sebagai hasil dari pekerjaan-Nya, suatu jalan “yang baru dan yang hidup” (Ibrani 12:20), yang dibuat dan dijadikan pasti melalui penebusan dosa.
Ketujuh atau yang terakhir, kenaikan Kristus adalah permulaan zaman baru. Zaman sekarang ini dibatasi oleh dua peristiwa, yaitu kenaikan Kristus pada mulanya dan kedatangan-Nya kembali ke dunia ini pada akhirnya. PB melihat sejarah dunia ini dalam sorotan kedua peristiwa kristologis ini. Kunci zaman sekarang ini terdapat dalam pemberitahuan malaikat di dalam Kisah Para Rasul 1:11, yang menghubungkan kenaikan Kristus dengan kedatangan-Nya kembali. Zaman ini ialah zaman Tuhan yang sudah bangkit dan dinobatkan sebagai Raja, Tuhan yang sedang berkarya sebagai pengantara bagi umat-Nya, Tuhan yang akan datang kembali pada akhir zaman untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.
Nah! Itulah 7 implikasi dari kenaikan Kristus ke surga. Oleh karena itu, dalam bagian penutup khotbah ini, ijinkanlah saya memas-tikan Anda semua bahwa kenaikan-Nya tidak hanya menjamin kesela-matan bagi kehidupan kita kini dan di sini saja, tapi juga jaminan pengharapan bagi kehidupan kita di masa yang akan datang.
Di dalam Yohanes 14:1-3, Tuhan Yesus berkata, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab aku pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat di mana Aku berada, kamupun berada.”
Rasul Paulus juga berkata di dalam Surat Roma 8:32, “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?”
Jikalau pada zaman sekarang ini begitu banyak orang yang kuatir dan bingung soal rumah tinggal atau harta benda, tidaklah demikian dengan kita. Orang Kristen tidak boleh kuatir dan bingung tentang rumah atau harta benda. Mengapa? Sebab Yesus, dengan kenaikan-Nya ke surga, telah menyediakan semuanya dan segalanya bagi kita! Amen. Dari berbagai sumber
Jumat, 05 April 2013
Khotbah Minggu 7 Apr 2013 ”Kasih adalah dasar saksi Kristus yang berani” Lebih Taat kepada Allah Kisah Para Rasul 5: 27-32
Pengantar:
Sebelum bagian ini Petrus dan Yohanes sudah dilarang mengajar dalam nama Yesus (Kis. 4: 17). Tetapi didorong oleh ketaatannya kepada panggilan Kristus untuk menjadi saksiNya dan ketaatannya kepada pimpinan Roh Kudus, mereka tetap dan terus mengajarkan Yesus. Karena itu, dalam bagian ini, mereka ditegor kembali oleh Sanhedrin (Mahkamah Agama). Tetapi dua rasul ini, dengan tenang, menegaskan kembali ketaatan mereka kepada panggilan dan pimpinanNya itu. Mereka kembali menegaskan bahwa Yesus yang mereka bunuh dengan hukuman mati di kayu salib itu sudah dibangkitkan oleh Allah. Dia dihidupkan kembali menjadi Mesias (Raja yang diurapi Alah). Sebagai saksi peristiwa itu, mereka menyaksikan, melihat dan bahkan merasakan dampak peristiwa kematian dan kebangkitanNya itu. Karena itu, tidak mungkin bagi mereka untuk tidak memberitakan berita kebenaran itu.
Renungan:
Minggu Quasimodogeniti: Seperti bayi yang baru lahir.
Ketika kita meletakkan dasar iman kepercayaan kita kepada Tuhan Yesus melalui kebangkitanNya dan memasuki hidup baru bersama Tuhan, maka kita di utus oleh Allah ketengah-tengah dunia ini menjadi saksiNya. Menjadi saksi Kristus bukanlah hal yang mudah, Tuhan Yesus memperingatkan kepada kita bahwa kita akan dibenci dan teraniaya karena nama Yesus (Luk. 21:17), namun Tuhan memberikan kepastian dan kekuatan kepada kita: “dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16: 33); “Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Luk. 21: 18-19). Sumber kekuatan kita adalah Tuhan dan tiada yang lain, jika kita tanggung-tanggung menjadi pengikut Yesus tentulah sangat menyakitkan menjadi saksi Kristus di tengah dunia ini. Ada kalimat dalam sebuah iklan yang mengatakan “Kamu bilang itu Rintangan, aku bilang hanya Tantangan”. Jika dikatakan “Rintangan” berarti sesuatu yang menyurutkan niat kita untuk bertindak karena sesuatu yang merintangi; namun jika dikatakan “Tantangan” adalah kesulitan akan semakin meningkatkan kita berusaha mencapai kesuksesan. Kita bisa ambil contoh sederhananya, ketika ada kegiatan PA di gereja, namun hujan tiba-tiba turun dengan derasnya, jika memang kita tidak mempunyai niat yang kuat untuk mengikuti PA tersebut, maka kita akan mengurungkan niat untuk mengikutinya karena hujan itu menjadi rintangan bagi kita. Namun jika niat memang sudah kuat ingin mengikuti PA tersebut, hujan selebat apapun akan menjadi tantangan buat kita. Untuk mampu mengalahkan dunia tidak boleh memiliki iman yang tanggung-tanggung sebab yang terjadi adalah menganggap sesuatu sebagai sebuah rintangan dan bukan menjadi tantangan. Menjadi saksi Kristus itu adalah sulit karena harus melawan perbuatan-perbuatan duniawi yang bertentangan dengan Firman Allah, namun mari kita anggap kesulitan itu adalah suatu tantangan buat kita. Dalam 1 Yohanes 5: 4 dikatakan “Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita”. Firman ini adalah kekuatan kita untuk menjadi saksi Kristus, ketika Tuhan memberikan kepada kita iman di dalam Yesus Kristus, maka disitupulalah kita menemukan kekuatan dari Allah untuk mengalahkan dunia ini. Jika kita melihat bagaimana keberanian para Rasul mengatakan “Kita harus lebih takut kepada Allah dari pada kepada manusia” adalah karena menganggap yang dihadapi mereka adalah sebuah tantangan yang harus ditahlukkan karena mereka mengandalkan iman dalam menghadapi kesulitan apapun. Jika kita melihat di ayat 41 dikatakan “Rasul-rasul itumeninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus”. Penolakan yang mereka alami menjadi suatu kegembiraan dan bukan menyurutkan semangat mereka, sebab itu adalah suatu tantangan yang semakin melayakkan diri mereka menjadi saksi Kristus. Apakah kita sudah siap menjadi saksi Kristus? Apakah kita sudah siap menghadapi dunia ini dengan iman kita? Kita jangan terlalu jauh berfikir menjadi saksi Kristus kepada orang banyak, menjadi saksi Kristus bagi diri sendiri pun jika bisa dilakukan adalah sudah menjadi susuatu yang luar biasa. Jika kita mampu meyakinkan diri kita akan kekuatan Tuhan, maka tiada yang mustahil kamu akan menjadi saksi Kristus bagi dunia. Apakah kita masih seperti Petrus yang lama yang menyangkal Yesus tiga kali ataukah kita sudah menjadi Petrus yang baru yang menyatakan tiga kali “aku mengasihi Engkau” Mari kita yakinkan diri kita dahulu bahwa Yesus benar-benar Tuhan dan Allah yang kita kasihi ditengah-tengah kehidupan kita dan tiada yang lain selain dari pada Dia yang telah mati dan bangkit untuk kita. “Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ulangan 6:5). Kasih adalah dasar bagi kita menjadi saksi Kristus, jika kita memang benar mengasihi Yesus, maka sesulit apapun hidup yang akan kita jalani kita akan tetap setia; apapun yang kita lakukan akan menjadi kemuliaan bagi Tuhan. Semua yang akan kita perbuat adalah karena kasih kita kepada Allah. Hidup baru di dalam Kristus adalah: “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku” (Galatia 2:20). Untuk menjadi saksi Kristus, maka Tuhan akan bertanya kepada kita saat ini “Apakah engkau mengasihi Aku?” dan jika kita menjawab pertanyaan Tuhan dalam hidup kita “aku mengasihi Engkau”, maka kita akan mampu menyatakan dengan tegas dan keras kepada dunia ini “Kita harus lebih takut kepada Allah daripada manusia, dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu”. Amin....Selamat bersaksi. RHL
Rabu, 03 April 2013
Khotbah Kebaktian Rumah Tangga 04 Apr 2013. Kisah 3: 11-16
PENDAHULUAN
Buku Kisah Para Rasul lebih tepat disebut Buku mengenai Roh Kudus.Warren W. Wiersbe mengatakan bahwa yang lebih tepat sebagai judul kitab ini adalah: “Kisah Umat Allah Yang di beri Kuasa Oleh Roh Kudus.” Hal tersebut adalah logis,mengingat bahwa isi kitab ini sebenarnya lebih banyak menekankan tentang umat Allah yang di beri kuasa oleh Roh Kudus. Berbicara lebih jauh tentang judul kitab ini maka kita akan berhubungan dengan siapa penulis kitab ini. Jika kita mennyakini bahwa penulis kitab ini adalah Dr Lukas, maka kita akan menyimpulkan bahwa kitab ini adalah merupakan jilid yang kedua dari Injil Lukas.
II. Penulis
Penulis Kisah Para Rasul sama dengan penulis Injil Lukas, keduanya merupakan satu buku dua jilid dan ditujukan kepada seseorang yang bernama Teofilus. Pendapat yang umum tentang siapa penulis Kisah Para Rasul dan Injil Lukas adalah Lukas, seorang dokter medis, karena sering memakai istilah medis.
Menurut beberapa ahli bahwa kunci untuk mengetahui sang penulis diberikan oleh tiga bagian yang memakai sebutan “kami” dimana narasi disajikan memakai bentuk orang pertama jamak (Kis 16:10-17; 20:5 – 21:18; 27:1 – 28:16).
III. Tempat & Waktu Penulisan
Dalam kitab ini tidak ada ditemukan tentang dimana tempat kitab ini ditulis. Oleh karena itu sampai hari ini tidak ada penafsir yang dapat memastikan suatu tempat sebagai tempat penulisan kitab ini, yang ada hanyalah perkiraan atau dugaan semata. Menurut tradisi sesudah Yerome kitab ini di tulis di Roma, tetapi banyak juga penafsir yang mengatakan bahwa tempat penulisan kitab ini kemungkinan besar adalah di Makedonia, Alexandria. Disamping perkiraan-perkiraan diatas ada juga beberapa penafsir lebih setuju dengan pendapat bahwa tempat penulisannya tidak diketahui.
Mengenai waktu penulisan kitab ini Charles F. Feiffer mengatakan bahwa waktu penulisan kitab ini sangat terkait dengan masalah endingnya yang mendadak, oleh karena itu menurut beliau penulisan kitab ini kemungkinan besar adalah pada suatu tanggal yang tidak lama sesudah akhir narasi dan jika demikian maka Kisah Para Rasul ditulis kira-kira tahun 62 M.
IV. Tujuan Penulisan
Sebagaimana terlihat dalam Kisah Para Rasul fasal 1 bahwa tujuan utama penulisan Kisah Para Rasul adalah untuk menyakinkan Teofilus bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadannya adalah sungguh benar ( Kisah Para Rasul 1:4)
Penerima pertama dari surat (kitab Kisah Para Rasul) adalah Teofilus dan jika kita membandingkan antara Injil Lukas 1:1 dengan Kisah Para Rasul 1:1 dapat disimpulkan bahwa penerima Injil Lukas dan Kisah Para Rasul adalah orang yang sama. Tetapi ada yang sangat indah dalam penyelidikan ini, dimana dalam Lukas 1:1 Teofilus di beri gelar sebagai Yang Mulia, gelar ini biasa dipakai kepada orang-orang besar (pegawai pemerintahan yang terpandang).
“Diperbaharui Fokus Pelayanannya”
Berdoa dengan sungguh dan mintalah kepada Tuhan untuk menyelidiki apa yang
menggerakkan dan memotivasi pelayanan saudara.
1. Mengapa orang banyak mengerumuni Petrus dan Yohanes setelah peristiwa
penyembuhan seorang peminta-minta di Gerbang Indah Bait Allah? (11,12)
2. Apa yang membuat Petrus dan Yohanes memakai kesempatan itu untuk
bersaksi bagi nama Yesus? (12-15)
3. Bagaimana orang peminta-minta itu bisa sembuh? (16)
Renungan:
Pelayanan adalah suatu tugas yang dilakukan oleh seseorang yang sudah memiliki sesuatu, yang sudah menikmati segalanya, yang sudah besar kepada yang belum memiliki atau menikmati sesuatu, dan kaum papa. Maka tidaklah mungkin seseorang ingin melayani orang lain hanya karena ingin meraih keuntungan atau kesempatan untuk menjadi lebih besar, lebih terkenal, dsb.
Sebab pelayanan berarti memberikan diri dan memuaskan orang lain.Penduduk Yerusalem sangat takjub melihat orang yang mereka kenal sebagai peminta-minta di Gerbang Indah Bait Allah, seorang yang lumpuh sejak lahir, hari itu tiba-tiba bisa berjalan mengikuti Petrus dan Yohanes.
Mujizat telah terjadi, dan semua itu dilakukan oleh para murid Yesus, yaitu: Petrus dan Yohanes. Orang banyak yang sangat terkesan ini mendatangi kedua rasul itu. Petrus dan Yohanes bisa saja melihat kesempatan ini untuk mengumpulkan pengikut yang dapat menjadi kelompoknya. Mereka bisa menjadi besar dan terkenal.
Tetapi mereka yang sudah diubahkan hidupnya oleh Tuhan Yesus, justru melihat hal ini sebagai kesempatan untuk menceritakan tentang Kristus Yesus dan menyaksikan kuasa-Nya. Bukan mereka yang disaksikan, tapi Yesus yang diberitakan dan ditinggikan.
Mereka hanya alat Tuhan untuk menyatakan kuasa dan mujizat-Nya. Mereka menyadari bahwa mereka bukan siapa-siapa.
Tanpa kuasa dan pertolongan Tuhan Yesus , maka mereka tidak bisa melakukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.
Sebagai murid Yesus Kristus, penting sekali untuk menyadari siapa “aku” ini dihadapan Tuhan. Dalam pekerjaan dan pelayanan di gereja ketika semua hal bisa dikerjakan, ide-ide cemerlang dihasilkan, banyak orang dimobilisasi dan pekerjaan yang besar dilakukan, siapakah yang ada dibaliknya? Saudara, saya atau kita….? bukankah terkadang ada perasaan yang menggelitik untuk mengatakan: ‘itu ide saya, itu karena saya, itu karena saya yang lakukan. Semua karena saya ada maka bisa dilaksanakan’. Mungkin benar, semua karena ide dan pikiran serta
kemampuan saudara. Tapi benarkah?
Matius 25:14-15, mengingatkan bahwa semua hamba-hamba-Nya diberikan talenta menurut kesanggupan masingmasing. Maka tidak sepatutnya jika ada orang yang menganggap dirinya begitu hebat dan celakanya mencari pujian dan penghargaan manusia untuk semua yang dilakukan. Atau mungkin saudara tidak mencari pujian, tapi ketika ide dan keinginan saudara ditolak banyak orang maka saudara mulai merasa tidak enak hati.
Berhati-hatilah, karena dosa keegoisan dan berfokus pada diri sendiri mulai menggoda saudara. Jangan sampai saudara jatuh. Jika nama Yesus dan pekerjaan-Nya menjadi motivasi saudara, maka Tuhan akan memampukan dan menjaga hatimu ketika engkau berhasil atau ketika engkau tidak dihargai manusia. Amen
”Kasih adalah dasar saksi Kristus yang berani” Kisah Para Rasul 5: 27-32
Minggu Quasimodogeniti:
Ketika kita meletakkan dasar iman kepercayaan kita kepada Tuhan Yesus melalui kebangkitanNya dan memasuki hidup baru bersama Tuhan, maka kita di utus oleh Allah ketengah-tengah dunia ini menjadi saksiNya. Menjadi saksi Kristus bukanlah hal yang mudah, Tuhan Yesus memperingatkan kepada kita bahwa kita akan dibenci dan teraniaya karena nama Yesus (Luk. 21:17), namun Tuhan memberikan kepastian dan kekuatan kepada kita: “dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16: 33); “Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Luk. 21: 18-19). Sumber kekuatan kita adalah Tuhan dan tiada yang lain, jika kita tanggung-tanggung menjadi pengikut Yesus tentulah sangat menyakitkan menjadi saksi Kristus di tengah dunia ini. Ada kalimat dalam sebuah iklan yang mengatakan “Kamu bilang itu Rintangan, aku bilang hanya Tantangan”. Jika dikatakan “Rintangan” berarti sesuatu yang menyurutkan niat kita untuk bertindak karena sesuatu yang merintangi; namun jika dikatakan “Tantangan” adalah kesulitan akan semakin meningkatkan kita berusaha mencapai kesuksesan. Kita bisa ambil contoh sederhananya,
ketika ada kegiatan PA di gereja, namun hujan tiba-tiba turun dengan derasnya, jika memang kita tidak mempunyai niat yang kuat untuk mengikuti PA tersebut, maka kita akan mengurungkan niat untuk mengikutinya karena hujan itu menjadi rintangan bagi kita. Namun jika niat memang sudah kuat ingin mengikuti PA tersebut, hujan selebat apapun akan menjadi tantangan buat kita. Untuk mampu mengalahkan dunia tidak boleh memiliki iman yang tanggung-tanggung sebab yang terjadi adalah menganggap sesuatu sebagai sebuah rintangan dan bukan menjadi tantangan. Menjadi saksi Kristus itu adalah sulit karena harus melawan perbuatan-perbuatan duniawi yang bertentangan dengan Firman Allah, namun mari kita anggap kesulitan itu adalah suatu tantangan buat kita. Dalam 1 Yohanes 5: 4 dikatakan “Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita”. Firman ini adalah kekuatan kita untuk menjadi saksi Kristus, ketika Tuhan memberikan kepada kita iman di dalam Yesus Kristus, maka disitupulalah kita menemukan kekuatan dari Allah untuk mengalahkan dunia ini.
Jika kita melihat bagaimana keberanian para Rasul mengatakan “Kita harus lebih takut kepada Allah dari pada kepada manusia” adalah karena menganggap yang dihadapi mereka adalah sebuah tantangan yang harus ditahlukkan karena mereka mengandalkan iman dalam menghadapi kesulitan apapun. Jika kita melihat di ayat 41 dikatakan “Rasul-rasul itumeninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus”. Penolakan yang mereka alami menjadi suatu kegembiraan dan bukan menyurutkan semangat mereka, sebab itu adalah suatu tantangan yang semakin melayakkan diri mereka menjadi saksi Kristus.
Apakah kita sudah siap menjadi saksi Kristus? Apakah kita sudah siap menghadapi dunia ini dengan iman kita?
Kita jangan terlalu jauh berfikir menjadi saksi Kristus kepada orang banyak, menjadi saksi Kristus bagi diri sendiri pun jika bisa dilakukan adalah sudah menjadi susuatu yang luar biasa. Jika kita mampu meyakinkan diri kita akan kekuatan Tuhan, maka tiada yang mustahil kamu akan menjadi saksi Kristus bagi dunia. Apakah kita masih seperti Petrus yang lama yang menyangkal Yesus tiga kali ataukah kita sudah menjadi Petrus yang baru yang menyatakan tiga kali “aku mengasihi Engkau”
Mari kita yakinkan diri kita dahulu bahwa Yesus benar-benar Tuhan dan Allah yang kita kasihi ditengah-tengah kehidupan kita dan tiada yang lain selain dari pada Dia yang telah mati dan bangkit untuk kita. “Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ulangan 6:5).
Kasih adalah dasar bagi kita menjadi saksi Kristus, jika kita memang benar mengasihi Yesus, maka sesulit apapun hidup yang akan kita jalani kita akan tetap setia; apapun yang kita lakukan akan menjadi kemuliaan bagi Tuhan. Semua yang akan kita perbuat adalah karena kasih kita kepada Allah. Hidup baru di dalam Kristus adalah: “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku” (Galatia 2:20).
Untuk menjadi saksi Kristus, maka Tuhan akan bertanya kepada kita saat ini “Apakah engkau mengasihi Aku?” dan jika kita menjawab pertanyaan Tuhan dalam hidup kita “aku mengasihi Engkau”, maka kita akan mampu menyatakan dengan tegas dan keras kepada dunia ini “Kita harus lebih takut kepada Allah daripada manusia, dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu”. Amin....Selamat bersaksi
"Khotbah Penguburan Barita Sondang Hutagalung" PENGHOTBAH 8:8
18 Maret 1948 (+ 17 Maret 2013) 65 Thn – 1 hari
Putra/i: VALEN. SELLA. SAMMY
Hidup maupun mati untuk Tuhan!
Yakobus 4:14 sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.
Perspektif Kristen tentang Kematian
Sebagai orang Kristen kita percaya, dan kita tahu, bahwa kematian bukan akhir dari suatu keberadaan, namun hal itu tetap merupakan suatu perpisahan. Itu adalah akhir dari suatu hubungan yang mempunyai arti istimewa bagi kita dalam kenidupan ini.
Kematian tidak pernah indah bagi semua makhluk hidup
Secara manusia kita takut mati. Bahkan kita takut sakit sebab kalau sakit menjadi parah, itu adalah keadaan yang dekat-dekat dengan kematian. Tetapi sebagaimana pengajaran dan janji Tuhan Yesus, hidup orang percaya tidak berakhir dengan kematian. Kematian, oleh karena karya Kristus, tidak lagi merupakan kuasa yang menakutkan. Kematian malah merupakan pintu menuju keselamatan yang kekal.
Umur manusia bisa lama bisa juga singkat; bisa 80 tahun atau lebih; bisa sangat singkat. Akan tetapi makna hidup lebih penting dari panjang-pendeknya umur. Hidup yang bermakna adalah hidup yang dijalankan di dalam Tuhan. Seperti dikatakan Paulus: “Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan” (Rm. 14:8).
Panggilan kepada kita ialah supaya kita hidup dengan melakukan kehendak-Nya. Hidup bergaul dengan Tuhan! Dan hanya Roh Tuhan-lah yang akan menyanggupkan kita memiliki hidup yang terus terarah kepada-Nya! “Ajarlah kami menghitung hari-hari sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mzm. 90:17). Dalam Alkitab BIS dikatakan, “Sadarkanlah kami akan singkatnya hidup ini supaya kami menjadi orang yang berbudi!”
Mazmur 50 : 15 berkata: Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku."
“Segala perkara dapat kutanggung didalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. (Pil 4:13)
1. Penderitaan adalah suatu bagian dari pengalaman hidup, penderitaan adalah suatu bagian pergumulan demi kemenangan bagi iman Kristen, penderitaan adalah suatu jenjang penerimaan, walaupun tidak seharusnya ada.
2. Orang kristen yang benar, dibenci di dunia ini (Yoh 17:14-16) walau orang kristen hidup dalam kompromi dengan dunia, tetap saja penderitaan itu hadir.
3. Penderitaan tanpa penghiburan akan tetap merana, dan penderitaan di luar Kristus adalah sengsara, penderitaan orang Kristen adalah penderitaan dalam Kristus, dengan demikian penderitaan orang Kristen adalah objek penghiburan Kristus, sehingga penderitaan orang Kristen adalah nyanyian Pujian.
PENGHOTBAH 8:8 – TIDAK ADA YANG LUPUT DARI KEMATIAN
Wahyu 14:13 Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: "Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini." "Sungguh," kata Roh, "supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka." “Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” Wahyu 21:4
Hidup di dunia ini diwarnai air mata yang tak kunjung habis. Air mata senantiasa mengikuti perjalanan hidup manusia sejak ia dilahirkan. Kelahiran bayi pun diawali tangisan dan tetesan air mata, begitu keluar dari rahim ibunya ia sudah mulai menangis. Ini adalah air mata pertamanya saat pertama kali ia melihat dunia. Dan ketika orang meninggalkan dunia ini kembali ditutup dengan linangan air mata dari keluarga, teman dan para sahabat. Sungguh, air mata merupakan bagian kehidupan manusia.
Tetapi, pada saatnya air mata itu akan berhenti mengalir yaitu pada hari yang penuh dengan kemenangan dan kebahagiaan, air mata tak akan lagi terlihat, di mana tak seorang pun sanggup menghapus air mata kita kecuali tangan Tuhan sendiri. Segala kesusahan tidak akan kita alami lagi. Bagi umat Tuhan yang setia sampai garis akhir akan mendapatkan perhentian. Janji firmanNya mengatakan, “Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi, dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi. Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka.” (Wahyu 7:16-17).
Bagi yang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat serta mampu menyelesaikan tugas dan panggilanNya di sepanjang hidupnya, tidak akan mengalami air mata lagi, karena mereka akan menerima kehidupan kekal sebagai upah kesetiaan dan ketekunannya memelihara iman. Namun bagi yang menolak Kristus akan mengalami penderitaan abadi, dan air matanya tidak akan pernah berhenti mengalir karena “Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.” (Matius 13:42). Mereka akan menyesal di sepanjang abad. Penyesalan yang benar-benar sudah terlambat, sebab ketika kesempatan dan pintu anugerahNya masih terbuka, begitu saja disia-siakan.
Filipi 3:20: Karena kewarga negaraan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat.
Dibanua ginjang do sambulonta….(bona pasogit
Sabtu, 23 Maret 2013
"KHOTBAH JUMAT AGUNG"
Pada Jumat Agung ini kita mengingat-ingat kembali penderitaan-Nya untuk kita dan untuk kehidupan kita.
Penderitaan Yesus dimulai waktu ditangkap di taman Getsemani untuk dihadapkan pada Pontius Pilatus untuk diadili. Pontius Pilatus tidak menemukan kesalahannya, dan orang-orang Yahudi meminta Pilatus untuk menyalibkannya. Kemudian Pilatus menyerahkan Yesus kepada para tentara Romawi. Jubah-Nya diganti dengan jubah ungu, dan diberikan mahkota duri. Dia mulai dicambuk, disiksa luar biasa. Berdasarkan penelitian, ada banyak cambukan di punggung dan di dadanya. Cambuk yang digunakan adalah cambuk yang khusus, diujung-ujungnya ada bola-bola besi, sehingga tiap kali terhujam, maka ketika ditarik kembali akan ada daging yang tercabik. Sungguh kesakitan yang luar biasa. Dia juga diludahi dan dicaci maki. Penderitaan yang dahsyat bagi Yesus. Darah tercurah baik dari kepala, punggung, dan dada-Nya.
Bukan cuma itu, penderitaan-Nya berlanjut karena Dia kemudian harus mengangkat kayu salib yang sangat berat ke Bukit Tengkorak (Golgota) melalui jalan yang sekarang dikenal sebagai Via Dolorosa. Dalam perjalanan, Dia jatuh beberapa kali sebelum akhirnya tiba di Bukit Tengkorak. Di sana dimulailah penderitaan yang lebih dahsyat lagi. Dia dibaringkan di atas kayu salib, dan orang Romawai menghujamkan paku yang besar dan tajam ke tangan dan kaki-Nya. Paku ini ditancapkan di rongga-rongga Destot yang ada syaraf-syaraf motorik sehingga menyebabkan kesakitan yang luar biasa.
Setelah dipaku, didirikanlah salib Yesus dan kedua tangannya yang terentang dipaku harus terguncang-guncang menahan beban tubuhnya akibat salib itu dihujamkan berkali-berkali ke tanah supaya berdiri tegak. Saya tidak dapat membayangkan seberapa sakitnya Tuhan Yesus saat itu. Mulai tengah hari, langit menjadi begitu gelap dan menjelang pukul tiga sore, maka Tuhan Yesus berseru kepada Bapa di Sorga, "Eli, Eli, lama sabakhtani?", yang artinya Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?
Saat itu Yesus ditinggalkan oleh Bapa di Sorga, Bapa memalingkan wajah-Nya dari Yesus, yang begitu buruk rupanya, karena saat itu Dia sedang menanggung dosa seluruh dunia, dosa Saudara dan saya. Setelah itu, Tuhan Yesus haus dan diberikan anggur asam. Setelah minum, Dia berkata, "Sudah selesai." dan menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa di Sorga. Dia mati untuk Saudara dan saya.
Mari kita renungkan dan berdoa bagaimana Dia mengasihi kita.
Kami bersyukur, Tuhan, untuk segala yang sudah Engkau kerjakan dalam kehidupan kami. Tidak hentinya kami ucapkan syukur. Ampuni, Tuhan, kalau kami tidak pernah mengingat penderitaan yang Engkau alami untuk kami semua. Ampuni kami, Tuhan, kami sering melupakan, sering tidak peduli. Ampuni kami Tuhan. Kami mau untuk lebih lagi sungguh-sungguh di hadapan Engkau. Biar pengorbanan-Mu tidak sia-sia di dalam kehidupan kami, Engkau sudah menebus dengan darah yang mahal. Dengan apakah kami boleh membalas? Biar kami membalas dengan hidup kami, roh, jiwa, dan tubuh kami yang kami persembahkan tidak bercacat cela sampai kau datang menjemput kami. Terima kasih, Tuhan, Kau sudah mati menggantikan kami orang-orang yang berdosa, karena upah dari dosa adalah maut,. Tapi kami bersyukur, Engkau menggantikan kami. Terima kasih Bapa, di dalam Nama Tuhan Yesus,
Yes 53:3: Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan.
Kita ada di dalam Jumat Agung di mana kita boleh memperingati akan penderitaan Yesus 2000 tahun yang lalu. Kalau kita baca ayat-ayat ini, kita mengerti, the man of sorrow, manusia yang begitu buruk rupanya, seseorang yang penuh dengan kesengsaraan. Dari beberapa ayat yang kita baca tadi, ada beberapa makna penting bagi kita terutama sebagai pelaku-pelaku firman Tuhan.
Via Dolorosa
Setiap kali pergi ke Israel, Yerusalem, setiap orang hampir tidak pernah melewatkan untuk melalui jalan Via Dolorosa (Jalan Kesengsaraan atau Jalan Penderitaan). Ada orang berpikir bahwa Via Dolorosa adalah jalan yang mulus dan enak dilalui, tapi ternyata jalan itu kondisinya mendaki, menurun, begitu sempit dan ramai. Jalan yang ada saat ini kurang lebih sama seperti 2000 tahun yang lalu, di mana Tuhan Yesus waktu itu dengan darah terkucur, memanggul salib menuju Golgota. Di tengah perjalanan itu beberapa kali Dia jatuh. Saya membayangkan dulu begitu banyak orang yang menonton Dia. Orang-orang pasti mengejek Dia dan mempermalukan Dia. Tuhan Yesus pikul salib itu dengan tertatih-tatih dan akhirnya sampai di Bukit Golgota.
Hari ini kita diajak untuk mengingat penderitaan Yesus. Banyak orang Kristen tidak ingat jalan penderitaan, justru yang diingat adalah Via De La Rosa atau Jalan Taman Bunga.
Kita harus ingat Via Dolorosa, yaitu Jalan Penderitaan. Kita harus ingat bahwa kadang-kadang Tuhan izinkan kita ke lembah yang dalam. Dalam segala masalah-masalah hari-hari ini, ingat, Tuhan Yesus tetap ada bersama-sama dengan kita.
Ini perlu Saudara ingat senantiasa, kita sudah terbiasa hanya mengingat berkat-berkat saja. Begitu Tuhan izinkan mengalami masalah, lalu orang-orang banyak justru menuduh kita yang tidak baik. Tapi itulah perjalanan orang-orang percaya, sebagaimana Yesus alami. Kalau Yesus sudah alami penderitaan yang luar biasa, Dia juga tahu dan mengerti penderitaan yang Saudara alami. Dengan bilur-bilur-Nya Dia sudah memberikan kita keselamatan.
Mazmur 90:10, sebuah Mazmur yang ditulis oleh Musa, Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.
Kita seringkali bangga dengan kekayaan, kecantikan, postur, titel kita, dan lain-lain. Tapi ini aneh, kalau kita baca apa yang ditulis Pemazmur ini, justru dia bangga akan kesukaran dan penderitaan.
Dalam Perjanjian Lama, ada seorang yang bernama Yakub, yang kemudian berubah menjadi Israel. Yakub adalah orang yang penuh dengan masalah dan penderitaan. Ke mana pun dia pergi, dia selalu bawa tongkat untuk bersandar. Waktu lihat tongkatnya, orang akan heran karena ada begitu banyak goresan-goresan. Tongkat ini adalah tongkat yang biasa dibawa orang-orang Yahudi pada zaman dulu. Setiap kali Yakub mengalami masalah, dia ambil pisau dan menggores di tongkat itu. Makin besar masalahnya, makin besar dan dalam juga goresan di tongkat itu. Tongkat Yakub penuh dengan goresan, menunjukkan perjalanannya penuh masalah dan penderitaan yang begitu dalam.
Apakah Saudara yang bersyukur dengan segala hal yang boleh diizinkan Tuhan terjadi dalam kehidupan Saudara?
Yakub bangga dengan tongkat ini, di mana begitu banyak goresan-goresan. Tongkat ini diberi nama Stigmata. Waktu dia sudah berusia lanjut, matanya sudah kabur dan tidak bisa melihat lagi (Kejadian 48:10). Pada saat akan memberkati anak-anak Yusuf, Manasye dan Efraim, oleh Yusuf, ditempatkan sedemikian rupa supaya tangan kanan Yakub akan memberkati di atas Manasye yang sulung dan tangan kiri Yakub akan memberkati kepala Efraim. Tapi biarpun buta, Yakub adalah orang yang memiliki mata rohani yang kuat. Dia tahu posisi tangannya tidak pas. Dia menyilangkan tangannya, sehingga tangan kanannya justru diletakkan di atas Efraim yang bungsu dan tangan kirinya memberkati Manasye yang sulung.
Yusuf protes karena seharusnya Yakub memberkati Manasye dengan tangan kanan sebagai anak sulung. Tapi Yakub berkata, "Aku tahu, anakku, aku tahu apa yang aku harus lakukan," dan Yakub tetap menyilangkan tangannya, tangan kanan di atas Eftraim, dan tangan kiri di atas Manasye. Mata rohaninya tetap kuat.
Walau ada tantangan-tantangan, kita tahu, Tuhan justru membentuk kita agar kita memiliki iman yang teguh, pengharapan yang tidak pernah putus.
Ada sebuah kata ajaib yang menjadi kekuatan bagi orang-orang percaya, waktu mengalami tantangan, sakit penyakit, tantangan yang luar biasa: mengucap syukur! 1 Tesalonika 5:18, Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
Pada waktu Tuhan Yesus mengalami penderitaan yang dahsyat, Dia hanya diam. Saudara, apa pun yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup Saudara, apa yang harus kita lakukan? Mengucap syukur!
Hamba-hamba Tuhan yang dipakai luar biasa, banyak yang pada mulanya mengalami penderitaan-penderitaan.
• Seorang pendiri Vineyard Church di Kanada, John Wimber, pada mulanya bertobat karena dia menyaksikan sendiri bagaimana gembala sidangnya dapat mengucap syukur dalam penderitaan. Anak perempuan gembala sidangnya yang masih berumur belasan tahun mati diberondong senjata api membabi buta, mati sia-sia. Tapi gembala sidangnya itu, ketika berdoa di depan jenazah anaknya, di hadapan Tuhan, justru berkata, "Tuhan, aku tidak mengerti apa yang terjadi, tapi aku tetap tahu aku tetap punya Allah yang sungguh sangat baik." Dia masih bisa mengatakan itu padahal kejadian itu sangat menyedihkan dia. Dia tetap bisa mengangkat tangan dan berkata Allah tetap sungguh baik.
John Wimber bertobat menyaksikan itu dan menjadi hamba Tuhan yang dipakai luar biasa. Justru saat kita mengalami kesusahan, kita harus tetap bisa mengatakan Tuhan Engkau Allah yang baik. Saudara mungkin rugi, dibohongi, mengalami kebangkrutan. Apa pun yang terjadi dalam hidup Saudara, mari kita tetap berkata Tuhan baik.
• Seorang hamba Tuhan Jerry Sitter, pada suatu ketika mengalami kehilangan yang begitu dahsyat. Sekaligus tiga anggota keluarganya: anak, istri, dan mamanya meninggal seketika ditabrak oleh orang pemabuk. Tapi dia tetap bisa berkata, Tuhan adalah Allah yang baik.
Ini adalah contoh kesaksian orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.
INDAH RENCANA MU TUHAN: Indah rencana Mu Tuhan di dalam Hidupku.Walau ku tak tau dank u tak mengerti semua jalanMu. Dulu ku tak tau Tuhan, berat kurasakan, hati menderita namun tak berdaya menghadapi semua.
Reff. Tapi ku mengerti skarang, kau tolong hidupku, kini ku melihat dank u merasakan, indah rencana-Mu.
Saudara, bukankah orang-orang percaya harus lebih dari itu? Bukankah kita harus lebih dari itu? Karena di dalam kita ada Yesus Kristus yang sudah menderita lebih dari itu dan mati untuk kita? Jangan gantikan Via Dolorosa dengan Via De La Rosa! Hidup ini kadang naik dan turun, tapi ingat, ada di tengah lembah kekelaman sekalipun, gada dan tongkat Yesus Kristus ada bersama kita. Amen RHL. Tobing
Langganan:
Entri (Atom)