Rabu, 26 Agustus 2015

Epistel : Ulangan/5 Musa 4 : 1 – 2 Tema : MELAKUKAN TAURAT DAN NASEHAT TUHAN Nama Minggu : 13 Set Trinitas (Tritunggal) Rabu, 2 September 2015


A. Pengantar
Kitab Ulangan ditulis jauh sesudah Musa meninggal, meskipun banyak yang beranggapan Kitab ini ditulis oleh Musa sendiri untuk mempertahankan keaslian dari beberapa isi yang memang disampaikan oleh Musa sendiri. Namun secara keseluruhan Kitab Ulangan tidak mungkin ditulis oleh Musa, hal ini diperkuat dari keterangan yang dapat diperoleh dalam pasalnya yang ke 34 dalam Kitab Ulangan.
B. Penjelasan Nas
Ulangan 4 ditulis dengan kalimat langsung dari Musa, sehingga kita dapat meraskan bahwa yang itu adalah suara dan perkataan Musa sendiri yang menasehati umatnya Israel. Orang bisa mengatakan, “demikianlah yang dinasehatkan Musa dulu”, atau demikianlah redaktur menulis dan merekonstruksi ucapan Musa. Sehingga ucapan-ucapan Musa dalam Kitab Ulangan dapat memperkuat bahwa Musalah penulisnya. Kita percaya bahwa penulis Kitab Ulangan di zaman kerajaan sebelum Raja Yosia mencoba seobjektif mungkin mendokumenkan bagaimana Musa menasehatkan tentang hukum-hukum dan ketetapan Allah bagi bangs Israel. Tidak ada ditemui naskah lain yang dapat menggugatnya, sehingga oleh gereja-gereja saat ini bisa percaya bahwa Kitab Ulangan adalah ucapan Musa yang ditulis oleh Deutronomis. 
                Nas  ini berisi nasehat atau pengajaran Musa kepada bangsa Israel.  Nas kita dimulai dengan perkataan Musa: “maka sekarang….”. Ini menunjukkan tindakan yang harus diambil pada masa kininya, atau tanggapan yang patut terhadap hal-hal yang baru diceritakan Musa. Tanggapan tersebut bisa positif (setuju dan dilakukan) mapun negatif (tidak setuju dan tidak dilakukan). Itu terserah kepada masing-masing umat Israel, yang jelas sebagaimana dinyakini Musa bahwa barangsiapa melakukan pengajaran yang disampaikannya, yakni hidup patuh melakukan ketetapan dan peraturan Hukum Allah (“hoq” dan “misypat” = petunjuk tegas yang berasal dari Tuhan) ia akan hidup (supaya hidup).


Yang dimaksud di sini suatu hidup yang bahagia karena diatur menurut petunjuk-petunjuk Tuhan dan dalam persekutuan dengan Dia. Lebih jauh dapat juga dipahami sebagai hidup kekal, sebab tiap Firman Tuhan adalah “roti hidup” (Ulangan 8:3), dan FirmanNya menunjukkan jalan ke hidup yang kekal. Pengertian ini mengandung dua aspek: pertama, “hidup” adalah lawan “maut”. Itu berarti bahwa taat kepada Tuhan adalah jalan untuk mencegah ancaman maut. Bagi mereka yang sudah mendengar Firman Tuhan serta panggilannya, tidak ada lagi jalan netral. Mereka harus memilih antara hidup dan maut. Kedua, hidup menunjuk suatu gairah semangat dan nikmat dalam eksistensi manusia. Hidup adalah lawan kelesuan. Perhatian terhadap Firman Allah mengantar kepada kelimpahan dan berkat.
C. Refleksi
1.    Kepemimpinan Musa patutlah kita teladani, terlebih ditengah-tengah krisis kepemimpinan saat ini. Walaupun Allah menyatakan bahwa dia tidak akan masuk kenegeri kanaan, tidak mambuat Musa kendor semangat dalam menyampaikan pengajaran atau nasehat kepada umat Israel.
2.    Kita diingatkan bahwa salah satu panggilan dan tugas kita adalah menjadi umat yang mau mendengar pengajaran yang disampaikan hambaNya. Dalam hal ini sebagaimana disebutkan dalam Amsal 1:8-9, hendaknya kita seperti seorang anak yang mendengarkan pengajaran orang tuanya, sebab pengajaran itu bila dilakukan akan membawa kebahagiaan.
3.    Seperti Musa, Tujuannya tidak lain, yakni memberikan bimbingan agar kehidupan keristen dibangunkan. Bukankah kita seharusnya saling membimbing dan saling menguatkan? Karena itu tugas panggilan ini sangat penting.


KETETAPAN TUHAN ITU SEMPURNA

Evangelium : Wahyu/Pangungkapon 3 : 14 – 22 Tema : BARANGSIAPA KUKASIHI, IA KUTEGOR DAN KUHAJAR Nama Minggu : 13 Set Trinitas (Tritunggal) Minggu, 30 Agustus 2015


A. Pengantar
Jemaat Laodikia adalah jemaat yang terkhir dari ketujuh jemaat yang disapa Tuhan dalam kitab Wahyu. Jemaat ini istimewa karena inilah satu-satunya jemaat yang tentangnya Kristus hanya mencela. Tak satupun pujian yang diberikan Tuhan kepada mereka. Hal ini terjadi karena Jemaat Laodikia tidak memiliki kesungguhan hati. Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari jemaat ini.
B. Penjelasan Nas
Ketidaksungguhan Jemaat Laodikia (ay.14-16), Jemaat Laodikia dinyatakan sebagai jemaat yang tidak memiliki kesungguhan hati dalam mengikuti Tuhan. Mereka dikatakan sebagai jemaat yang “suam-suam kuku”. Suam-suam kuku berasal dari kata ' KHLIAROS HUDOR', air yang rasanya tidak enak dan menyebabkan muntah, kalo dewasa ini barangkali dapat diibaratkan dengan air yang mengandung 'kaporit'. Orang Kristen yang suam kuku adalah orang Kristen yang merasa nyaman, puas diri dan tidak menyadari akan kebutuhannya. Orang Kristen yang suam kuku seolah berkat. "Kami sudah lama percaya kepada Yesus Kristus, kami Kristen udah puluhan tahun.  Inilah gambaran dari jemaat Laodikia.
Gereja Laodikia yang merasa mandiri, puas diri dan merasa nyaman dan aman itu seolah berkata: “Kami tidak membutuhkan apa pun!” Namun sementara itu kuasa rohani mereka melemah; kekayaan materi dan angka statistik mereka hebat menyelubungi mereka seperti kain kafan menyembunyikan mayat yang membusuk.
Penyebab ketidaksungguhan jemaat di Laodikia (ay.17-18), Jemaat Laodikia ada di tengah kota Laodikia. Kota ini sangat istimewa, kota ini memiliki tiga hal yang dibanggakan: Pertama, Laodikia Ini terkenal dengan kemakmurannya, sebagai satu pusat kegiatan perbankan, dan keuangan  terbesar di dunia pada saat itu. Keadaan ini membuat orang Laodikia memiliki mentalitas mandiri, merasa tidak butuh siapa-siapa kecuali dirinya sendiri.

Kedua, Laodikia termasyur dengan kerajinan pakaian jadinya, khususnya yang terbuat dari wol, ini menimbulkan mentalitas yang sombong, mereka begitu bangga dan yakin diri akan kecantikan dan ketampanannya. Mereka selalu terobsesi untuk dikagumi orang lain.
Ketiga, Laodikia juga tersohor karena mutu sekolah kedokterannya, yang berhasil membuat prestasi medis kota ini lebih melambung lagi adalah salep mata dan salep telinga yang mereka produksi. Sehingga mereka merasa diri selalu sehat khususnya dalam pendengaran dan penglihatan mereka.
Sikap Tuhan atas Ketidaksungguhan Jemaat Laodikia, Ternyata Tuhan tidak tinggal diam melihat ketidaksungguhan jemaat Laodikia, ada dua sikap Tuhan yaitu Tuhan akan menegor dan menghajar (ay 19a). Kata menegur berasal dari kata “elegcho” yang artinya menunjukkan kesalahan dengan tujuan menginsafkan seseorang. Bukan hanya menegor tetapi jemaat ini pun akan dihajar oleh Tuhan, dihajar maksudnya ini merupakan peringatan yang lebih keras.
Solusi Lepas dari Ketidaksungguhan Jemaat Laodikia (ay 19—22), Tuhan memberikan solusi bagi jemaat Laodikia yaitu: “relakanlah hatimu dan bertobatlah! Perintah untuk bertobat diawali dengan kerelaan hati, ini merupakan poin yang penting, pertobatan yang sungguh hanya terjadi bila ada kerelaan hati. Kerelaan hati digunakan kata “zeloo” artinya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk bertobat.
C. Refleksi
1.    Keadaan rohani jemaat Laodikia dikatakan “Suam-suam kuku” karena mereka menganggap kekayaan, penampilan dan kesehatan yang mereka miliki adalah segalanya. Untuk itu berhati-hatilah dalam kemapanan hidup jangan sampai kitapun memiliki keadaan yang sama dengan jemaat Laodikia.
2.    Kedaaan suam-suam kuku hanya bisa dikalahkan dengan satu tindakan itulah bertobat dan menerima Kristus dalam hidup kita sebagai Tuhan dan Juruselamat.
3.    Jika kita memiliki kesungguhan hati dalam mengikut Kristus maka kita akan memiliki persekutuan yang indah dengan Tuhan Yesus pada masa sekarang  di dunia dan pada masa yang akan datang di Sorga.



Khotbah Kebaktian Rumah Tangga Efesus 6:10-20


Efesus 6:10, “akhirnya, hendaklah kamu kuat…”; II Tim 2:1, “jadilah kamu kuat karena kasih karunia…”
Bagaimana supaya roh kita menjadi kuat:
(1) Kita harus memiliki Firman (I Yoh 2:14). Firman itulah yang akan kita pakai untuk membangkitkan jiwa kita, roh kita akan memakai firman itu untuk berkata2 kepada jiwa kita dan membangunnya kembali.
(2) Kita harus dekat dengan Tuhan. Kita akan selalu kuat bila kita menaruh pengharapan kita pada Tuhan, dan Tuhanlah yang akan memberikan kekuatan itu bagi hidup kita.

Pernahkah anda tertanya-tanya mengapa setelah seseorang itu menjadi orang Kristen, hidupnya menjadi semakin sulit? Saya pernah mendengar seseorang berkata “hidup saya sebelum menjadi orang Kristen jauh lebih aman!”\
Sejujurnya, bukan mudah untuk menjadi orang Kristen. Bukan mudah untuk hidup sebagai garam dan terang di dunia ini.
Apakah yang menyebabkan hal ini? Mengapa hal-hal yang sulit terjadi kepada orang yang saleh? Jawabnya adalah kerana kita sedang berada dalam peperangan rohani! Paulus menjelaskan hal ini di dalam suratnya kepada Efesus.
 Peperangan rohani tidak dapat dielakkan, oleh itu kita harus tahu apa strategi Iblis dan Bagaimana cara mengatasinya!

IBLIS ADALAH MUSUH YANG NYATA
 semua orang Kristen harus sadar bahwa Iblis tidak akan pernah berhenti untuk menghancurkan manusia! Oleh karena itu, maka kita semua harus berdiri teguh di dalam Tuhan! kita harus tetap dalam posisi siap siaga menghadapi Iblis.
Kita harus menggunakan senjata rohani.
2 Korintus 10:3-4

STRATEGI IBLIS
Pertama, Iblis berusaha menyesatkan manusia.
Mari kita lihat apa yang dikatakan Paulus sebelumnya di dalam Efesus 4:14.
Efesus 4:14
sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan.
1 Timotius 4:1-2
Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka.
Cara Iblis yang kedua adalah membuat hidup manusia susah. Sebagai contoh Iblis menghasut Yudas Iskariot untuk mengkhianati Yesus sehingga Yesus ditangkap, diainaya disiksa dan mati di kayu Salib.
Akibat dari kesusahan hidup ialah manusia mencari alasan untuk membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain. Itulah sebabnya kita melihat ada pembunuhan, peperangan, kemiskinan, penyakit, kebencian,  dan sebagainya. Semua ini tidak mendatangkan kemuliaan kepada Allah.
Cara Iblis yang ketiga adalah melalui pencobaan. Iblis berusaha mencobai manusia untuk menjatuhkan mereka di dalam dosa. Kalau kita melihat cara Iblis mencobai Yesus, kita mendapati ada 3 hal yang dicobai Iblis.
Keinginan daging
Keingin Mata
Keangkuhan hidup.
CARA MENGATASI TIPU MUSTILAH IBLIS
Menurut Firman Tuhan ada 4 cara yg dapat mengatasi Iblis? Semua ini berbicara tentang siapa yang menguasai hati, atau siapa yang kita kasihi dan cara hidup kita. Kita akan membaca dari Yakobus 4:7-8 dan Efesus 6:10-17.
Yakobus 4:7-8
Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati!
Nah menurut Yakobus, ada 3 cara kita melawan Iblis.
Tunduk kepada Allah
Mendekat kepada Tuhan
Menyucikan tangan dan hati
Pertama tunduk kepada Allah. Kita tidak boleh memberontak kepada Allah. Ada banyak orang mencari Allah kerana berkat, kasih, pengampunan dan kesembuhan akan tetapi mereka menolak ketika Allah meminta komitmen dan ketaatan. Bagaimana kita tahu bahawa kita mengenal Allah? 1 Yoh 2:3 Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya.
Kedua, Mendekat kepada Allah.
Ini berbicara tentang doa. Kenapa doa penting? Ini kerana doa menyatakan bagaimana sebenarnya hubungan kita dengan Allah. Bila hubungan kita dengan Allah intim, maka kita akan dapat mendengar suaraNya, mengenal jalan-jalanNya dan mengerti kehendakNya.
Ketiga adalah menyucikan tangan dan hati.
kita harus menjaga hati kita agar tidak dicemarkan dengan perasaan-perasaan yang jahat dan pikiran-pikiran yang najis. Itulah sebabnya Alkitab berkata kalau kamu merasa marah, cepat-cepat redakan kemarahan kamu dan carilah perdamaian. Kalau disimpulkan, mentahirkan tangan dan hati ini kata yang muncul adalah kekudusan! Bagaimana anda menjelaskan kekudusan? Menurut saya kekudusan bukanlah mengasihi Yesus dan melakukan semua yang kamu inginkan, akan tetapi kekudusan adalah mengasihi Yesus dan melakukan semua yang Yesus inginkan!
Tapi saya sering jatuh di dalam dosa? Bagaimana? Alkitab berkata anda harus cepat2 mengakui dosa. (1 Yohanes 1:8-9)
Keempat adalah menggunakan perlengkapan senjata Allah (Efesus 4:10-17)
Untuk apa kita menggunakan seluruh perlengkapan senjata Allah? Ada dua hal iaitu supaya kita dapat bertahan dari serangan Iblis dan kedua supaya kita dapat melawan Iblis. Itulah sebabnya Yakobus berkata tunduklah kepada Allah dan lawanlah Iblis. Kalau kita tunduk kepada Allah lalu kemudian kita pergi melawan Iblis tanpa pakaian perang dan senjata Allah, kita tentu akan dikalahkan.

Amen.

Sabtu, 15 Agustus 2015

Khotbah Minggu 16 Agustus 2015 Ibrani 13: 1-15 Thema Minggu : “Aku Sekali-kali Tidak Meninggalkan Engkau”/ Sandok Tung Na So TinggalhononKu do Ho


I. Pendahuluan
Surat  Ibrani adalah Surat yang dialamatkan pertama sekali kepada orang Yahudi yang telah menjadi pengikut Kristus. Mereka telah menerima dan menjadi pengikut Kristus, namun karena terjadi penganiayaan yang begitu berat, baik secara kehidupan sosial maupun secara fisik, baik dari pihak bangsa Yahudi maupun Romawi, mereka mulai bimbang dan goyah untuk mempertimbangkan kembali menjadi agama Yahudi. Dengan demikian, Surat Ibrani memberikan penguatan dan peneguhan serta mengingatkan mereka supaya tetap beriman kepada Yesus dan tinggal tetap dalam Kekristenan. Untuk Itulah dalam kitab Ibrani diperlihatkan kesempurnaan Kristus sebagai keselamatan dan kehidupan yang jauh lebih unggul dan sempurna dari siapapun dalam dunia ini. Sang Penulis menyatakan identitas sejati Yesus sebagai Allah. Dialah Penguasa Tertinggi. Ia lebih mulia daripada agama atau malaikat manapun. Ia lebih tinggi dari pemimpin Yahudi manapun (seperti Abraham, Musa, atau Yosua) dan lebih tinggi daripada Imam manapun
Tidak jarang kita melihat kasus-kasus kehidupan yang terjadi ditengah-tengah kehidupan kita sehari-hari akibat satu masalah dapat merembes memunculkan masalah yang lain. Contoh sederhananya bisa akibat permasalahan ekonomi keluarga dapat berdampak pada keharmonisan rumahtangga atau bahkan dapat membuat seseorang mencari uang dengan jalan yang tidak benar.
Jika kita tidak mampu mengendalikan diri menghadapi suatu tantangan hidup dapat berdampak ke bagian kehidupan yang lain.
Sehingga dalam tujuan penulisan surat Ibrani ini kita diingatkan oleh Tuhan supaya orang percaya di dorong untuk tetap tabah dan setia di dalam iman, semakin dewasa secara rohani dan mempertahankan kekudusan sebagai umat pilihan Allah. Seberapa beratpun tantangan yang sedang dihadapi oleh orang percaya supaya jangan pernah meninggalkan kesetiaan kepada iman, tetap menjaga kekudusan.
Disinilah diingatkan kembali bagaimana orang Kristen itu supaya semakin dewasa secara rohani, setiap saat perjalanan kehidupan yang boleh kita lalui kita manfaatkan untuk semakin mendewasakan dan mematangkan kita. Sehingga setiap kondisi kehidupan yang kita lalui adalah untuk menempah kita menjadi orang Kristen yang tangguh dan kuat.
Beberapa nasehat diperlihatkan kepada kita untuk menjaganya dan memperhatikan dengan seksama sekalipun beratnya tantangan kehidupan yang harus kita hadapi, beberapa nasehat itu diantaranya:
-    Kasih persaudaraan
-    Menjaga kekudusan pernikahan
-    Tidak menjadi hamba uang
-     Memperhatikan dan meniru iman orang-orang yang menjadi pembimbing iman dan yang telah mendahului mereka yang tetap berpengang dalam iman.
-     Ucapan bibir yang memuliakan Tuhan
Sebagai umat yang percaya kita mempunyai tujuan hidup yaitu “mencari kota yang akan datang” (ay.14). Sebab dunia bukanlah tempat tinggal yang tetap. Sehingga nasehat yang disampaikan Firman Tuhan ini sangat jelas supaya dalam menghadapi persoalan kehidupan apapun, kita tidak diombang-ambingkan nasehat-nasehat yang menyesatkan kita.
Sebaliknya, kita diteguhkan bahwa apapun pergumulan yang sedang kita hadapi ada Tuhan yang menjadi penolong kita (ayat 6). Kuasa pertolongan Tuhan itu tetap nyata sepanjang masa, Allah tetap bekerja ditengah-tengah kehidupan umatNya. Sebab Tuhan Yesus adalah kekal dahulu sekarang dan sampai selamanya (ayat 8).
Maka dibutuhkan kesabaran di dalam iman menghadapi segala apapun kondisi yang kita hadapi. Jika kita mendahului dengan ketakutan dan kekawatiran, maka nasehat-nasehat penyesat akan mudah merasuki kehidupan kita, akhirnya yang terjadi satu masalah dapat merambat membawa masalah baru dalam kehidupan kita. Biarlah setiap apapun yang terjadi dapat kita hadapi dengan iman bahwa Tuhan ada, melihat dan akan menolong kita. 
Pertama, hidup saling mengasihi dan menghormati.
Kasih adalah dasar dari keluarga, oleh sebab itu mengasihi bukan hanya tugas seorang suami tetapi juga seorang istri (Titus 2:4-5).  Perempuan diciptakan oleh Allah dengan tujuan menjadi penolong bagi laki-laki.  Jadi istri adalah “penolong” bagi suami bukan penodong atau perongrong.  Demikian pula dengan para suami harus mengasihi istri dengan tulus, jujur dan sungguh-sungguh.  Didalam menanggung beban suami istri harus saling tolong menolong (Gal 6:2).  Hidup tolong menolong adalah bukti bahwa orang itu saling mengasihi, seperti memberi tumpangan kepada yang membutuhkan dan memperhatikan orang hukuman dan orang yang diperlakukan sewenang-wenang ialah bukti dari kasih persaudaraan (Ibrani 13: 1-3)

Kedua, menjaga kekudusan keluarga. (ayat 4)
Kekudusan perkawinan sangatlah berharga dihadapan Allah sebab kekudusan perkawinan pada dasarnya mencerminkan kekudusan Allah.  Oleh sebab itu diperintahkan: “ Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.  Suami istri harus menjaga kekudusannya sebab dengan demikian mereka diberkatin oleh Tuhan dan menjadi alat bagi kemuliaan-Nya.

Ketiga, percaya akan pemeliharaan Tuhan (ayat 5 – 6)
Tidak dapat dipungkiri bahwa kecintaan akan materi secara berlebihan telah menjadi budaya umum dalam masyarakat.  Segala sesuatu diukur berdasarkan kepemilikan atas materi.  Demikian pula dalam kehidupan keluarga, masalah ekonomi, keinginan akan materi seringkali menjadi pemicu bagi retaknya bangunan kokoh sebuah keluarga.  Oleh sebab itu diperingatkan: “ Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.”  Pemujaan akan uang pada hakekatnya ialah pengingkaran akan Allah.  Pengingkaran bahwa Allah memiliki kesanggupan oleh kuasa-Nya untuk memelihara kehidupan kita dari sehari ke sehari. TERPUJILAH TUHAN. Amen
Dari Berbagai Sumber



Rabu, 29 Juli 2015

Khotbah Minggu 02 Agustus 2015 Yohanes 6 : 24 – 35 “Yesus adalah Roti Hidup”


Pendahuluan
Manusia membutuhkan makanan dalam hidupnya. Kalau tidak makan ia akan kelaparan dan tidak dapat bertahan hidup.
Tuhan Yesus tidak mengabaikan kebutuhan jasmani manusia. Ketika Ia melihat orang banyak yang sedang lapar, Ia memberi mereka makan. Jumlahnya ada 5000 orang laki-laki, belum termasuk kaum ibu dan anak-anak. Ia memberi mereka makan dengan lima roti dan dua ikan yang dipersembahkan seorang anak-anak. Apakah cukup? Lebih dari cukup, bahkan ada sisa dua belas keranjang. Suatu mujizat telah terjadi.
Pada hari berikutnya orang banyak itu mengikuti-Nya sampai ke Kapernaum. Ia tahu mengapa mereka datang. Mereka datang karena perut lapar mereka telah dipuaskan dengan makan roti, bukan karena mereka memahami Dia yang telah memberi makanan itu (Yoh. 6:26). Tuhan Yesus berkata mereka: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal” (Yoh. 6:27).  
Manusia perlu makan untuk hidup, tetapi ia tidak hidup untuk makan. Ada sesuatu yang lebih dari sekedar makan yang seharusnya dicapai oleh manusia. Pada saat Iblis mencobai-Nya untuk merubah batu-batu menjadi roti, Ia menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Mat. 4:4).
Orang banyak tertarik pada roti, tetapi gagal melihat Sang Pemberinya. Inilah yang seringkali menjadi kegagalan manusia: Mendambakan berkat lebih dari pada Sang Pemberi Berkat. Masalah inilah yang menjadi awal bagi Tuhan Yesus Kristus untuk membicarakan tentang roti hidup.  
Ia berkata kepada mereka, “Akulah roti hidup” (Yoh. 6:35). Pernyataan itu sangat mengena bagi mereka. Mereka datang untuk mencari roti, tetapi roti itu hanya dapat mengenyangkan untuk sesaat. Ia datang untuk memberi roti hidup, sehingga mereka mendapat hidup yang kekal (Yoh. 6:39-40).  
Apa yang dimaksud dengan roti hidup itu? Tuhan Yesus berkata, “Akulah roti hidup”.  Roti hidup itu adalah diri Yesus Kristus sendiri, yaitu tubuh-Nya yang disalibkan di bukit Golgota untuk keselamatan dunia. Orang yang menerima roti hidup itu akan memiliki hidup yang kekal (Yoh. 6:39).
Bagaimana cara menerima roti hidup itu? Caranya adalah percaya kepada-Nya (Yoh. 6:40). Roti hidup itu diperoleh bukan dengan usaha atau perbuatan, tetapi dengan iman.
Menurut Abraham Maslow Tingkat kebutuhan terdiri dari beberapa hal :

1. Kebutuhan fisiologis (Physiological)
Jenis kebutuhan ini berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan dasar semua manusia seperti, makan, minum, menghirup udara, dan sebagainya. Termasuk juga kebutuhan untuk istirahat, buang air besar atau kecil, menghindari rasa sakit, dan seks. Jika kebutuhan dasar ini tidak terpenuhi, maka tubuh akan menjadi rentan terhadap penyakit, terasa lemah, tidak fit, sehingga proses untuk memenuhi kebutuhan selanjutnya dapat terhambat. Hal ini juga berlaku pada setiap jenis kebutuhan lainnya, yaitu jika terdapat kebutuhan yang tidak terpenuhi, maka akan sulit untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi.
2. Kebutuhan rasa aman dan perlindungan (Safety and security needs)
Ketika kebutuhan fisiologis seseorang telah terpenuhi secara layak, kebutuhan akan rasa aman mulai muncul. Keadaan aman, stabilitas, proteksi dan keteraturan akan menjadi kebutuhan yang meningkat. Jika tidak terpenuhi, maka akan timbul rasa cemas dan takut sehingga dapat menghambat pemenuhan kebutuhan lainnya
3. Kebutuhan akan rasa kasih sayang dan rasa memiliki (love and Belonging needs)
Ketika seseorang merasa bahwa kedua jenis kebutuhan di atas terpenuhi, maka akan mulai timbul kebutuhan akan rasa kasih sayang dan rasa memiliki. Hal ini dapat terlihat dalam usaha seseorang untuk mencari dan mendapatkan teman, kekasih, anak, atau bahkan keinginan untuk menjadi bagian dari suatu komunitas tertentu seperti tim sepakbola, klub peminatan dan seterusnya. Jika tidak terpenuhi, maka perasaan kesepian akan timbul.
4. Kebutuhan akan harga diri (esteem needs)
Kemudian, setelah ketiga kebutuhan di atas terpenuhi, akan timbul kebutuhan akan harga diri. Menurut Maslow, terdapat dua jenis, yaitu lower one dan higher one. Lower one berkaitan dengan kebutuhan seperti status, atensi, dan reputasi. Sedangkan higher one berkaitan dengan kebutuhan akan kepercayaan diri, kompetensi, prestasi, kemandirian, dan kebebasan. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka dapat timbul perasaan rendah diri dan inferior.
5. Kebutuhan aktualisasi diri (Self Actualization)
Kebutuhan terakhir menurut hirarki kebutuhan Maslow adalah kebutuhan akan aktualisasi diri. Jenis kebutuhan ini berkaitan erat dengan keinginan untuk mewujudkan dan mengembangkan potensi diri. Menurut Abraham Maslow, kepribadian bisa mencapai peringkat teratas ketika kebutuhan-kebutuhan primer ini banyak mengalami interaksi satu dengan yang lain, dan dengan aktualisasi diri seseorang akan bisa memanfaatkan faktor potensialnya secara sempurna.
Dari tingkat kebutuhan yang telah dipaparkan Abraham Maslow diatas menunjukkan bahwa kebutuhan manusia itu ada beberapa, namun memiliki tingkatan prioritas tersendiri antara yang satu dengan yang lain. Bagaimana yang dikatakan Firman Allah tentang itu, terutama tentang makanan jasmani/fisiologis dengan yang Rohani.
Kajian Reflekstif Teologis
1.      Manusia lebih Cendrung memperhatikan yang Fisiologis
Terkadang manusia yang hidup dalam dunia menjadi alasan untuk lebih mementingkan kebutuhan fisiologis daripada yang rohani. Hidup dan tinggal dalam dunia diaplikasikan untuk berebut untuk harta duniawi saja tanpa menghiraukan darimana kehidupannya datang dan untuk apa. Pengenalan terhadap Yesus oleh orang banyak juga demikian, karena mereka telah diberikan makan roti sehingga mereka menganggap bahwa Yesus bermisi duniawi. Tentu saja ini telah mempersempit ke ilahian Yesus sendiri. Demi makanan duniawi mereka mencari Yesus (24), Tuhan tahu apa yang ada dalam pikiran dan motivasi mereka mencari Yesus (26).
2.      Bertemu Yesus Beroleh Kebenaran
Pada saat orang banyak itu bertemu denganNya, mereka bertanya “bilamana Engkau tiba disini” hal ini menunjukkan bahwa mereka keheranan ini adalah bukti bahwa tidak ada mereka yang menyangka bahwa Tuhan mampu menaklukkan Alam dengan berjalan diatas air. Pertemuan mereka dengan Yesus memperoleh kebenaran dari Yesus, mereka telah disadarkan kembali bahwa motivasi mereka salah untuk menemui Yesus. Seharusnya upaya mereka untuk mencari Yesus dimotivasi oleh Roti Hidup bukan roti duniawi. Itulah yang disampaikan Yesus agar mereka berusaha/bekerja untuk Roti yang Kekal.
3.      Bukan Tanda yang di Percayai Namun Pemberi Tanda
Orang banyak itu meminta tanda dari Yesus sama seperti yang telah diterima nenek moyang mereka Musa yang telah menerima tanda kasih Allah memlalui Manna (30-31). Pemahaman ini menunjukkan bahwa mereka masih kurang percaya akan Yesus. Mereka hanya melihat tanda itu sebagai bukti bahwa Yesus adalah sosok yang pantas untuk dihormati dan di puji sebagai yang datang dari Allah (29). Yesus menyatakan yang harus mereka lakukan ialah “percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” itu adalah pernyataan bagi diriNya sebab Dia-lah Tuhan Allah yang menjadikan dan berkuasa atas segala sesuatu yang ada di dunia ini. Dia-lah yang membuat tanda-tanda itu, oleh karena itu hanya Yesus yang pantas di Percayai dan di Puji bukan tanda-tandanya.
4.      Roti Hidup itu ialah Yesus yang Kekal
Yesus menunjukkan siapa diriNya yakni Roti Hidup (35), Dia adalah Allah yang menjadikan segala sesuatu termasuk Manna yang disampaikan melalaui Musa. Yesuslah yang seharusnya dicari dan disembah, bukan hal-hal real berupa makanan. Yesus disebut sebagai Roti Hidup menunjukkan bahwa Yesus adalah jalan kehidupan yang kekal, oleh karena itu siapa yang makan Roti Kehidupan itu, yakni Firman itu maka dia akan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Roti Hidup itu ibarat makanan yang berfungsi untuk:
Memberikan Kekuatan: Iman yang kuat dan teguh dan menjadi kekuatan untuk melaksanakan tindakan-tindakan iman berupa kasih.
Memberikan Kesehatan : Roti Hidup itu akan memberikan kesehatan iman bagi yang menerima dan mengkonsumsinya.
Memberikan ketahanan : Roti hidup akan memberikan ketahanan iman, yakni iman yang Tahan uji, tahan terhadap gelombang jaman dan hembusan angin dingin dunia sampai kepada kehidupan yang kekal.

Aplikasi
Menurut Abraham Maslow bahwa dari hierarki tingkat kebutuhan manusia itu, jelas bahwa makanan berada dalam tingkatan dasar. Begitu juga dengan kehidupan orang Kristen, bagaimana mungkin sesorang dapat melakukan tindakan kasih sayang tanpa Roti Hidup? Bagaimana beroleh ketenangan/aman tanpa adanya Roti Hidup? Bagaiman melakukan kasih sayang tanpa Roti Hidup? Bagaimana memiliki harga diri tanpa adanya Roti Hidu? Sebab hanya roti hidup itulah sumber dari segala sesuatu yang kita butuhkan dan yang akan kita lakukan dalam hidup yang benar. Oleh karena itu kita harus pahami bahwa Yesus adalah Roti hidup dan kita dapat mengkonsumsinya melalui mendengarkan Firman Tuhan, Menghayatinya serta menghidupinya.
khotbah Minggu ini memberikan kekuatan kepada kita untuk tetap setia kepada-Nya. Dimana Yesus berkata: " Akulah roti hidup, barang siapa yang datang kepadaKu tidak akan lapar selama-lama-Nya. Mungkin juga dunia ini akan berkata demikian kepada kita, tetapi tidak sebenar apa yang dikatakan Yesus. Dunia ini menjanjikan makanan dan minuman yang hanya memberikan yang dapat dinikmati sesaat saja, bahkan kenikmatan itu dapat membahayakan kepada hidup kita. dan biasanya orang selalu berlomba untuk mendapatkan kenikmatan yang sesaat itu. Tetapi pemberian hidup yang memiliki kenikmatan  selamanya hanya ada pada Yesus Tuhan kita. Bagaimana caranya? Percaya kanlah hidupmu kepada Allah dan biarlah kamu hidup untuk menjadi berkat dan menjadi kesukaan Tuhan kita. Berilah hidupmu menjadi puji-pujian di hadapan Allah. Janganlah hanya memikirkan kenikmatan sesaat tetapi pikirkanlah kenikmatan yang sesungguhnya yang berasal dari Allah. Siapa saja boleh datang kepada Yesus untuk menerima kehidupan yang kekal sebab Dia sudah datang untuk menyelamatkan kota orang berdosa ini sehingga kita mendapat keselamatan. Keselamatan kita yang sempurna bukan di dunia ini tetapi keselamatan yang sempurna hanya ada di surga yang sudah disediakan oleh Allah melalui Yesus Kristus. Oleh sebab itu datanglah kepada Allah sumber kehidupan itu.
Amen Di kutip dari berbagai sumber.


Senin, 20 Juli 2015

Khotbah Mazmur 23 : 1 – 6 Tema : Tuhan Adalah Gembalaku

A.       Pengantar
Mazmur 23 adalah salah satu Mazmur yang sangat banyak dikotbahkan dan dikutip oleh para pengajar, penginjil dan orang Kristen. Mengapa? Karena di dalam Mazmur ini, terdapat bukan saja kata-kata yang indah sebagaimana layaknya puisi Orang Ibrani, melainkan mengandung kekayaan teologis yang tidak ternilai tentang janji pemeliharaan Tuhan atas umatNya. Mazmur ini ditulis oleh Daud dan Mazmur ini digolongkan ke dalam mazmur nyanyian. Disebut demikian karena Daud menyusun puisi ini sebagai ekspresi murni berupa ucapan syukur atas pemeliharaan Tuhan di dalam dan sepanjang hidupnya. Daud merasa bahwa tanpa Tuhan, dia bukan apa-apa  Keyakinan yang samalah, yang seharusnya menjadi alasan dan mendorong kita untuk terhubung pada Tuhan, sebagaimana Daud telah melakukannya.

B.       Penjelasan Nas
Tuhan adalah gembalaku, tak-kan kekurangan aku, Daud memberikan satu penegasan bahwa, dalam hidupnya, Tuhan digambarkan sebagai sosok gembala. Kita mengamati bahwa seorang gembala tidak pernah jauh dari domba-dombanya. Gembala mengenal dombanya dan demikian sebaliknya. Tugas seorang gembala sangatlah penting. Dia tidak saja mencukupi kebutuhan domba dengan memberi mereka makan, juga berjaga-jaga dari ancaman musuh.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Terlihat ada paralel di dalam kalimat tersebut. Perhatikan kata ‘Ia membimbing’ dan kata ‘ Ia menuntun’. Keduanya menjelaskan fungsi memandu atau mengarahkan. Daud memberikan metafora bahwa pengarahan dari Tuhan di dalam hidupnya membawanya pada padang yang berumput hijau. Maksudnya sebetulnya bukanlah berumput hijau tetapi berumput segar! Coba seandainya itu adalah makanan, maka kesegaran makanan itu akan memulihkan banyak hal di dalam stamina tubuh.
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gadaMu dan tongkatMu, itulah yang menghibur aku, Apakah lembah kekelaman? Kita harus mengerti jalan pikiran Daud akan hal itu. Berkali-kali di dalam hidupnya, Daud diperhadapkan pada situasi atau kondisi dimana satu-satunya pilihannya adalah berhadapan dengan situasi tersebut. Lembah kekelaman memiliki arti tentang sebuah tempat yang tidak pasti, menantang bahaya, berada di dalam persoalan, penuh dengan resiko dan musuh bisa saja datang secara tiba-tiba
Engkau menyediakan hidangan bagiku, dihadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. dalam ayat ini kembali ada penegasan dari Daud bahwa bahkan dihadapan lawanpun, apa yang menjadi kebutuhannya disediakan oleh Tuhan. Bukan saja itu, Daud memposisikan diri sebagai orang yang dipilih Tuhan sehingga berkata ‘Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak’. Pengurapan di zaman Daud bicara tentang orang yang terpilih, yang kepadanya Allah berkenan memberikan mandat tertentu.
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku seumur hidupku, Dan aku akan diam di dalam rumah Tuhan sepanjang masa. Daud memberikan satu kesimpulan dari apa yang dikemukakannya di ayat pertama, sebagai akibat dari Tuhan yang menjadi gembalanya. Kebajikan dan kemurahan mengikutinya. Jaminan itu bukan hanya sesaat, atau dalam rentang waktu tertentu, melainkan seumur hidupnya. Rumah Tuhan pada waktu itu adalah bait suci. Di dalam rumah-Nya, Tuhan berdiam. Siapa yang berada di dalam rumah-Nya, itulah yang bertemu dan bergaul dengan Dia. Kerinduan Daud terungkap di dalam perikop ini bahwa Tuhan menjadi segala-galanya di dalam hidupnya. 
C.     Refleksi
1.        Bahwa selama kita menjadikan Tuhan sebagai gembala dan selama kita juga mau menjadi domba yang baik bagi gembala itu, maka apapun yang menjadi kebutuhan kita, tersedia, sebagaimana seorang gembala menjamin kebutuhan domba-dombanya, mulai dari kebutuhan fisik, rasa aman, ketentraman dan hal-hal lainnya yang non material.
2.        Bagaimana dengan kita? Seringkali kita mengambil keputusan yang salah di dalam hidup dan melalui jalan yang menurut kita benar. Akibatnya, sejumlah konsekuensi telah menanti untuk kita tanggung. Hal itu terjadi karena kita meninggalkan Tuhan dan bertindak sendiri.
3.        Kekuatan Daud terletak pada keyakinannya dan itulah menjadi pelajaran bagi kita, bagaimana membangun satu strong conviction (Pendirian yang kuat, yakin)  terhadap Tuhan di dalam segala aspek. Keyakinan itu hendaknya bukan saja di dalam situasi yang baik tetapi juga di dalam situasi buruk. Tetap percaya kepada Allah di dalam Yesus Kristus sekalipun berada di dalam situasi tak terjelaskan. AMIN

D.     Bahan Diskusi
1.        Apa tugas seorang Gembala kepada domba – dombanya?
2.        Bagaimana gada dan tongkat Tuhan dapat menghibur seseorang?
3.        Siapakah Gembala yang baik itu yang memberikan nyawanya bagi domba dombanya



Khotbah Mazmur 22 : 25 – 31 Tema : Pengharapan Di Tengah Penderitaan


A.   Pengantar
Mazmur 22 adalah ratapan perseorangan, yaitu ratapan Daud. Dapat kita kategorikan dalam 2 bagian: Pertama, ayat 2-22 sebagai doa permohonan. Kedua, ayat 23-32 sebagai ucapan syukur. Ayat 23-32 adalah ayat transisi, ayat 2-22 tampak seperti bagian dari mazmur yang ditulis di tengah-tengah penderitaan. Tapi ayat 23-33 tampaknya menjadi bagian dari mazmur ditulis setelah penderitaan berakhir, setelah Tuhan menjawab doa Daud.
Pada Bagian kedua ini Daud telah bergeser dari mazmur pengakuan dosa pribadi ke sebuah mazmur deklarasi publik.  Dia telah bergerak dari menangis, meminta pembebasan ke menyanyikan pujian kepada Tuhan untuk pembebasan yang ia terima. Meskipun ia telah merasakan hal terburuk dalam hidupnya, Daud mengingatkan umat bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Ketika kesetiaan Tuhan memenuhi perjuangan kita yang terdalam, hasilnya adalah ibadah (ayat 26-28). Sebab Tuhan setia dan kesetiaan-Nya membentang di atas semua orang dan untuk semua generasi (ayat 29-32).
B.   Penjelasan Nas
Daud adalah seorang yang kudus dan saleh, namun banyak  mengalami penderitaan yang sangat berat dan sungguh  luar biasa yang datang dari sesamanya, terlebih dari mereka yang memusuhinya  (22:2-22). Daud banyak  mengalami penyiksaan fisik yang sangat luar biasa bukan oleh karena  kesalahannya, dan bukan pula hanya dari satu atau dua orang saja (ay 13-14, 17). Penderitaannya yang sangat berat dan besar ini, digambarkannya bagaikan ‘tulang yang terlepas dari sendinya’, bahkan ia dapat menghitung tulang-tulangnya sendiri. Penderitaannya ini sangat menyiksa hingga kepada psikis (jiwa; ay 15b).
Penderitaan yang dialami Daud  ini membuat ia menjadi lemah, stress dan tidak berdaya, bahkan tidak sanggup  berkata-kata untuk membela dirinya sendiri. Penderitaan fisik menjadi penderitaan batin dan penderitaan batin mempengaruhi seluruh kehidupannya sehingga lemah dan patah semangat. Keberadaan Daud yang sungguh memprihatinkan ini, membuat ia tidak punya harapan apa-apa, tidak ada sesuatu pun yang dapat dijadikannya menjadi modal dalam rangka menyelamatkan dirinya (ay 19), bahkan Tuhan pun seolah-olah telah melupakannya.
            Walaupun Daud banyak mengalami penderitaan tetapi  penderitaan itu tidak membuatnya menjauh dari hadirat Tuhan. Daud tetap   teguh dan setia hanya kepada Tuhan Allah yang dipercayainya sebagai Juruselamatnya. Pada saat Daud menyampaikan keluh kesahnya ke hadirat Tuhan, pada saat itu juga Daud memuji dan memuliakan nama Tuhan (ay 23-25; bnd Hab 3:17-18). Daud juga sanggup bersaksi tentang “siapakah Tuhan Allah?” itu kepada banyak orang di lingkungannya, dengan maksud agar orang banyak itu juga percaya  dan mengharapkan, memuji dan memuliakan namaNya  (ay 26-27).

Bukan hanya itu saja, Daud juga rindu untuk  berkarya/berbuat agar semua orang dari segala bangsa, suku, ras, orang kaya, orang miskin, orang yang berdosa dan sebagainya yang ada di atas bumi ini, diarahkan untuk datang  memuji dan memuliakan nama Tuhan (ay 28-32). Daud sanggup dan dengan penuh semangat menjalankan misinya ini, oleh karena ia telah merasakan besarnya tekanan penderitaan yang dialaminya dan seiring dengan itu ia telah lebih dahulu menerima anugerah Tuhan.
C.   Refleksi
1.    Dalam kehidupan kita, ada kalanya Tuhan seperti hilang, sirna dari kehidupan kita. Kita mencari, memohon, menangis, berseru kepada Tuhan, namun Tuhan seperti tidak ada. Kita bertanya kepada-Nya, "Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkan aku?"
2.    Kita harus bertekun dalam iman kepada Tuhan serta tetap tekun berdoa kepada-Nya (22:2-6, 20-22). Kita harus memandang kesetiaan dan kebaikan Tuhan pada masa lalu sebagai dasar pengharapan kita saat ini dan masa depan . Kita harus menatap masa kini dan masa depan dengan keyakinan iman di dalam Tuhan yang Mahabaik dan Mahakuasa serta keyakinan bahwa Tuhan sedang bekerja membawa kebaikan bagi kita dan bagi kemuliaan nama-Nya (22:23-32).
3.    Nas ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa pencobaan, penderitaan dalam hidup tidak akan menghalangi kita untuk terus berharap kepada Tuhan, tidak ada hal apapun yang menghalangi kita untuk tetap setia kepada Tuhan dalam doa dan pujian kita. Pengharapan Daud sangat besar kepada Tuhan walaupun saat itu ada banyak sekali pencobaan yang datang. Daud percaya bahwa Tuhan akan senantiasa menyertai didalam hidupnya, sehingga di dalam kesesakan akan penderitaan Daud masih mampu memuji Tuhan bahkan bersaksi dan berdoa karena kebenaranNya. Demikianlah hendaknya pengalaman Daud ini menjadi pelajaran berharga bagi kita dalam menghadapi berbagai pergumulan dan penderitaan. AMIN

Tidak ada doa yang sia-sia tanpa jawaban, yang ada adalah Tuhan memiliki jawaban yang terbaik bagi orang-orang yang dikasihiNya