Rabu, 06 Januari 2016

Jamita Minggu 10 Januari 2016 Ev: Lukas 3:15-17.21-22

                                                    
Bacaan Injil kita saat ini mengungkapkan tentang peristiwa pembaptisan Tuhan Yesus oleh Yohanes pembaptis. Ketika Yohanes pembaptis menyerukan kepada banyak orang bertobat, seruan itu rupanya mendapatkan respon yang positif dari orang-orang dijamannya. Berduyun-duyun orang meminta untuk dibaptis karena mereka ingin bertobat.
Peristiwa pembaptisan tersebut memberikan harapan baru kepada mereka bahwa dengan pembaptisan yang mereka terima, dosa-dosa mereka telah dihapuskan.
1.       Penantian  akan datangnya  Mesias untuk menyelamatkan orang Israel telah lama ditunggutunggu, meskipun sikap dalam penantian akan Mesias tersebut motifnya lebih dominan pada dimensi politisnya dari pada aspek teologisnya. Sikap tersebut secara manusiawi dapat dipahami karena melihat situasi dan kondosi umat Yahudi pada waktu itu berada dalam situasi yang sangat sulit, baik dari segi social ekonomi, politik, budaya, agama dan sebagainya. Dalam konteks tersebutlah umat mengharapkana datangnya seorang yang dapat memperjuangkan eksistensi mereka sebagai umat yang di klaim sebagai pilihan Allah. Oleh sebab itu kehadiran dan keberadaan Yohannes pembaptis yang vocal dalam menyuaran “pertobatan” diyakini sebagai refresentasis Mesia yang mereka nantikan selama ini.
2.       Dalam Nats ini Yohannes pembaptiskan menegaskan dan memproklamirkan Mesias yang sejati sesungguhnya bukan pada dirinya melainkan ada dalam diri Yesus Kristus. Yohannes pembaptis menyatakan bahwa dirinya hanyalah manusia biasa. Sikap Yohannes dalam nats ini menyatakan tentang KUASA dari Allah dinyatakan di dalam diri Yesus Kristus, Ia akan MEMBAPTIS dengan ROH Kudus dan Api. Pernyataan itu menegaskan bahwa kuasa Allah sagat luarbiasa.  Sikap dan tindakan Yesus yang mau dibabtis menunjukkan sikap, bahwa Ia mau memposisikan diriNya masuk dalam keberdosaan manusia meskipun dia hidup tanpa Dosa. Paptisan Roh Kudus dapat didefinisikan sebagai karya Roh Allah yang mempersatukan orang percaya dengan Kristus dan dengan orang-orang percaya lainnya dalam Tubuh Kristus pada saat orang itu diselamatkan. 1 Korintus 12:12-13 dan Roma 6:1-4 adalah ayat-ayat utama dalam Alkitab yang mengajarkan doktrin ini. 1 Korintus 12:13 mengatakan, “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.” Roma 6:1-4 mengatakan, “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” Meskipun Roma 6 tidak secara khusus menyebut Roh Allah, bagian Alkitab ini menggambarkan kedudukan orang percaya di hadapan Allah dan 1 Korintus 12 memberitahu kita bagaimana hal itu terjadi.

Tiga fakta perlu diperhatikan untuk menguatkan pengertian kita akan baptisan Roh. Pertama, 1 Korintus 12:13 dengan jelas menyatakan bahwa semua telah dibaptis sama seperti semua telah diberi minum (berdiamnya Roh Kudus). Kedua, Alkitab tidak pernah menasehati orang-orang percaya untuk dibaptiskan dengan/dalam/oleh Roh. Ini menunjukkan bahwa semua orang percaya telah mengalami pelayanan ini. Akhirnya, Efesus 4:5 nampaknya menunjuk pada baptisan Roh. Jikalau ini memang demikian, baptisan Roh adalah kenyataan hidup dari setiap orang percaya, sama seperti, ”satu iman” dan ”satu Bapa.”

Sebagai kesimpulan, baptisan Roh Kudus menggenapi dua hal, (1) menyatukan kita dengan Tubuh Kristus, dan (2) mengaktualisasikan penyaliban kita bersama dengan Kristus. Berada dalam tubuh Kristus berarti kita bangkit bersama dengan Dia dalam hidup yang baru (Roma 6:4). Kita perlu menggunakan karunia rohani kita untuk memastikan bahwa tubuh itu berfungsi sebagaimana mestinya seperti yang dijelaskan dalam 1 Korintus 12:13. Mengalami baptisan dari Roh yang sama menjadi dasar untuk memelihara kesatuan gereja seperti yang dikatakan dalam Efesus 4:5. Menjadi sama dengan Kristus dalam kematian, penguburan dan kebangkitanNya melalui baptisan Roh menjadi dasar untuk mewujudkan pemisahan kita dari kuasa dosa dan untuk kita berjalan dalam hidup yang baru (Roma 6:1-10; Kolose 2:12) Pembaptisan Yesus sekaligus menegaskan tentang PERTOBATAN bagi umat manusia. Kesediaan Yesus memberi diri-Nya dibaptis adalah tanda solidaritas-Nya terhadap manusia dan tanda telah dimulainya misi kemanusiaan Tuhan Yesus di tengah-tengah dunia. Segera setelah Yesus dibaptis, turunlah Roh Kudus sebagai tanda bahwa Allah Bapa berkenan atas-Nya ( Luk 3:22*). Dengan demikian karya penebusan Allah dalam diri Tuhan Yesus Kristus menjadi karya yang realistis dan menjawab permasalahan umat. Jadi misi Yesus adalah misi surgawi, misi Allah sendiri untuk umat manusia.
3.       Yohanes sudah mulai dengan mengarahkan fokus perhatian orang banyak bukan kepada dirinya, melainkan kepada Yesus. Apa bukti bahwa Yesus adalah Mesias yang diutus Allah dan berkuasa menyelamatkan manusia dari perbudakan dan penghukuman dosa?  Kepada orang banyak, Allah Bapa mendemonstrasikan pengurapan-Nya atas Yesus. Di dalam baptisan Yesus, suara Allah Bapa, kehadiran Roh Kudus menegaskan akan ke-Allah-an Yesus dan misi keselamatan diemban Yesus
4.       Untuk menyelamatkan manusia, Yesus rela meninggalkan kemuliaan ke-Allah-an-Nya menjadi manusia sejati. Siapkah kita menjadi Kristen yang rela mengorbankan hak-hak kita untuk menjangkau sesama kita yang masih di dalam dosa? Tuhan telah datang untuk menebus dosa kita, dan dia telah rela mati untuk dosa kita, oleh sebab itu marilah kita hidup dalam kehendakNya, bertobatlah.


Sabtu, 26 Desember 2015

Khotbah Lukas 4:17-19
1.  Pendahuluan: Injil Lukas ini mempunyai ciri khas yang membedakannya dengan Injil yang lain. Penulis Injil Lukas menitikberatkan pemberitaannya pada pelayanan Tuhan Yesus yang lebih memperhatikan orang-orang lemah, miskin dan sesat. Keberpihakan Yesus kepada orang-orang lemah, miskin dan sesat nyata terlihat ketika Yesus dalam sebuah pertemuan pada hari Sabat di Sinagoge menerima sebuah kitab untuk dibaca-Nya.  Yesus membuka kitab Yesaya yang kemudian menemukan seperti nas yang tertulis dalam Yesaya 61. Setelah membaca Yesus berkata kepada orang banyak “pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya”. Dengan perkataan-Nya ini Tuhan Yesusmemproklamirkan bahwa Dia-lah Mesias, Anak Allah, yang telah dinubuatkan para nabi, sekaligus juga Dia memberitahukan apa yang menjadi tujuankedatangan-Nya ke dunia ini yaitu membawa kesembuhan, pengharapan dan kebebasan.
2.    Penjelasan Nas: Ada baiknya nas ini kita baca mulai dari ayat 16, sehingga kita mengetahui apa yang mendorong Yesus berada di rumah ibadat dan menerima kitab Yesaya untuk dibaca-Nya. Kebiasaan orang Yahudi pada saat hari Sabat adalah pergi ke rumah ibadat (bnd. Ibr.10:15), kebiasaan itu juga dilakukan Yesus ketika di Nazaret tempat di mana Dia dibesarkan. Ibadah itu dimulai dengan semacam pengakuan iman (a.l. dari Ulangan 6:4-9), kemudian dipanjatkan beberapa doa, dan disusul pembacaan Kitab yang dilakukan dengan berdiri. Pembacaan pertama dari Thora, kemudian membaca dari kitab para nabi. Setelah dibaca pembicara duduk untuk memberi khotbah pendek, yang biasanya terdiri dari menceritakan secara bebas apa yang dibacakan. Semua orang dewasa berhak melakukan pembacaan Alkitab dan memberi penjelasan (nasihat; bnd. Kis.13:15). Ibadah itu ditutup dengan berkat seorang imam atau doa seorang yang bukan pejabat (“orang awam”).
Pada kesempatan persekutuan pada hari Sabat tersebut Yesus memberi tanda hendak membaca Alkitab dengan berdiri, kemudian kepada-Nya diberikan gulungan Kitab Yesaya dan Dia membuka Kitab gulungan tersebut dan menemukan Yesaya 61:1-2. Dalam kitab Yesaya yang dibacakan Tuhan Yesus terdengar berita tentang Hamba Tuhan Allah yang telah menerima Roh Allah artinya telah diurapi oleh Allah untuk jabatannya yaitu untuk pekerjaan Allah.  Pekerjaan Hamba itu  adalah atas dorongan Roh Tuhan, Ia memberitakan bahwa telah datang zaman Mesias, yaitu zaman di mana Allah akan mewujudkan di bumi ini keselamatan yang daripada-Nya. Keselamatan itu merangkum berkat dan bahagia, baik secara jasmani maupun secara rohani.
3. Renungan dan aplikasi: “Roh Tuhan ada padaKu” demikianlah isi kitab Yesaya yang dibaca Yesus menunjukkan penetapan Yesus tentang apa yang menjadi tujuan kedatangan-Nya ke dunia ini. Demikian jugalah Gereja dan orang percaya sebagai tubuh Kristus di dunia ini dipenuhi oleh Roh Kudus sebagai tanda penetapan dan pengurapan serta pengutusan bagi Gereja dan orang-orang percaya mengenai tujuan dari kehadirannya di dunia ini yaitu diurapi dan diutus memberitakan tahun rahmat Tuhan :
Ø kepada orang miskin
Orang miskin selalu ada di antara kamu, demikian perkataan Tuhan Yesus kepada murid-muridNya (Mat.26:11) artinya kemiskinan dan orang-orang miskin entah itu karena kemalasan atau karena memang karena kesempatan yang sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan sebagai akibat dari berbagai krisis di negara kita. Orang-orang miskin ini dalam kenyataannya sering menerima penindasan dan ketidakadilan, hidup mereka sering dieksploitasi oleh orang-orang tertentu untuk mencari keuntungan pribadi atau kelompok (ijuk di parapara hotang di parlabian, na bisuk nampuna hata, na oto tu panggadisan).Tahun rahmat Tuhan harus diberitakan kepada mereka sehingga mereka tetap kuat dan tabah akan hidup yang mereka jalani, sembari menyuarakan kepada pemerintah untuk benar-benar dan bersungguh-sungguh mewujudkan apa yang sering diperdengarkan kepada rakyat yaitu pengentasan kemiskinan dan menuju masyarakat yang adil dan makmur. Tentunya Gereja  juga harus meningkatkan hidup ber-diakonia, kepedulian kepada orang-orang miskin sebagai wujud nyata dari ibadah yang benar dan tidak bercacat yang berkenan kepada Allah (bnd. Yak.2:27).
Ø kepada orang-orang tawanan
Orang-orang tawanan ini berlaku secara harafiah seperti pembebasan dari Babel tetapi juga berlaku secara kiasan untuk orang-orang yang tidak punya harapan lagi mengenai hari depannya. Menggalakkan jiwa ber-marturia di Gereja sehingga dengan demikian berita kebebasan itu diberitakan kepada orang-orang tawanan.
Ø penglihatan bagi orang-orang buta
Orang buta secara jasmani dan rohani, kepada mereka akan diberitakan akan melihat. Kepada orang secara jasmani, mereka akan melihat ketika mereka merasakan kepedulian Gereja dan orang-orang percaya, seperti HKBP dengan pelayanan yang dilakukan di Hephata. Buta secara rohani, kepada mereka diperlihatkan Injil keselamatan bahwa Yesus-lah jalan kehidupan dan keselamatan.
Ø Membebaskan orang-orang yang tertindas
Orang-orang yang tertindas yang mengalami ketidakadilan di mana haknya tidak diperhitungkan dan tidak dihargai, kepada mereka Gereja dan orang-orang percaya terpanggil untuk menyuarakan dan membawa pembebasan.
Kita patut mengucap syukur atas berkat dan karunia yang kita terima melalui Injil di dalam Yesus Kristus agar kita mampu menghadapi banyak persoalan hidup di tengah-tengah kehidupan kita. Tanggungjawab orang percaya yang dipenuhi oleh Roh Kudus membawa Berita Kesukaan untuk orang-orang miskin, orang-orang tawanan, penglihatan kepada orang-orang buta, tertawan dan memberitakan tahun rahmat Tuhan. Dalam hal tersebut, Tuhan memampukan Gereja-Nya, menunjukkan kuasa dan kerajaan-Nya di dunia ini (Mat. 25:40).Amen


Jumat, 25 Desember 2015

Khotbah Natal II Yeremia 26 : 12 – 15


Nabi Yeremia tampil sebagai teladan, pemimpin suruhan Tuhan dengan memiliki integritas pribadi kuat. Ketika diancam untuk dibunuh karena memberitakan kebenaran Firman Tuhan, ia tidak gentar atau mundur dari pemberitaannya. Yeremia tidak saja sadar akan statusnya sebagai utusan Allah, tetapi juga berusaha mengawal status itu agar tidak gugur, sekalipun menghadapi ancaman maut. Sebuah pribadi yang konsekwen memberitakan pertobatan semesta, agar umat dan warga kota selamat.
Umat Tuhan dengan pongahnya mengandalkan kemegahan kota, kesalehan ibadahnya dan lebih suka murtad daripada bertobat. Sadar atau tidak, umat dan masyarakat sedang menciptakan malapetaka. Fatal memang! Namun nyatanya begitu! Mari para pendeta, binalah kesadaran pribadi, lakukan tugas panggilanmu dengan setia, mungkin umat dan masyarakat mau bertobat. Dengan jalan itu Tuhan mau menyesal akan malapetaka yang telah dirancang-Nya dan berbalik memulihkan umat dan masyarakat dengan cinta kasih-Nya.
1.Latar belakang dan kehidupan Yeremia di zamannya. Pada dekade terakhir pemerintahan Manasye, pemerintahan terlama dan tersuram dalam sejarah Yehuda, lahirlah dua anak laki-laki sebagai pemberian Allah kepada bangsa yang sedang dilanda kemerosotan dan kehancuran moral itu. Pemerintahan yang berlangsung sekitar setengah abad ini diwarnai dengan maraknya kembali praktik penyembahan dewa-dewa Kanaan dan Asyur, praktik kuasa-kuasa gelap, pengorbanan manusia (termasuk dalam keluarga raja sendiri) dan sistem peradilan yang bobrok. Semua ini menjadi bahan cemoohan, sebagaimana tertulis dalam 2 Raja-raja 21:16, “Lagipula Manasye mencurahkan darah orang yang tidak bersalah sedemikian banyak, hingga
dipenuhinya Yerusalem dari ujung ke ujung…”
Kedua anak laki-laki pemberian Tuhan itu adalah Yosia, yang lahir tahun 648 sM, dan Yeremia, yang mungkin lebih muda tapi masih sebaya (ketika dipanggil Tuhan menjadi nabi tahun 627, Yeremia enggan menerima panggilan itu karena merasa terlalu mudah; dan pelayanannya yang sulit selama lebih 40 tahun menunjukkan bahwa ia memang masih muda sewaktu dipanggil menjadi nabi). Sebagai raja yang bersemangat reformis dan nabi yang tegas, keduanya membuka peluang terbaik sekaligus harapan terakhir bagi pembaruan agar negeri itu bisa tetap sebagai kerajaan Daud.
Yeremia adalah anak Hilkia yang tinggal di Anatot. Hilkia berasal dari keturunan imam-imam. Yeremia dipanggil untuk mengabarkan hukuman yang akan datang oleh Allah atas bangsaNya dan yang akan dilaksanakan dengan jatuhnya Yehuda dan Yerusalem dengan pembuangan ke Babylon.
Dalam kitab Yeremia, kita menemukan bahwa Yeremia adalah hamba Tuhan yang senantiasa bergumul untuk melaksanakan panggilannya. Dia sering merasa seorang diri menghadapi nabi-nabi palsu. Dia ditolak dan difitnah oleh para pendengarnya. Beberapa Yeremia dipenjarakan. Dua kali nyaris meninggal. Tekanan yang dialaminya hampir membuat ia frustasi (lih. Yeremia 20:7-18). Namun menghadapi apapun, Yeremia tetap hidup sesuai dengan firman Tuhan yang dipercayakan kepadanya.
Ketika Yeremia dipanggil, pada saat itu kekuatan Asyur sedang hancur dan kemerdekaan bagi Yehuda sangatlah besar peluangnya. Namun optimisme itu tidak dibarengi dengan realita bangsa Yehuda ketika itu. Yeremia melihat banyak hal yang salah di dalam bangsanya. Mereka telah mengabaikan hukum-hukum Perjanjian Tuhan dan harus membayar harga ketidaktaatan mereka. Suatu hari Yeremia melihat pohon badam berbunga. Kata Ibrani untuk badam berbunyi seperti sebuah kata Ibrani lainnya yang berarti mengawasi. Yeremia melihat pohon ini sebagai tanda bahwa Allah mengawasi umatNya, mencari waktu yang tepat untuk melaksanakan keputusan penghancurannya (Yer.1:11-12). Ketika ia melihat periuk yang berisi air mendidih di atas api yang diembus oleh angin dari utara, ia menyadari bahwa di dalamnya juga ada berita. Murka Allah telah hampir menimpa Yehuda, “…Dari utara akan mengamuk malapetaka menimpa segala penduduk negeri ini. Sebab sesungguhnya, Aku memanggil segala kaum kerajaan sebelah utara, demikianlah firman TUHAN, dan mereka akan datang dan mendirikan takhtanya masing-masing di mulut pintu-pintu gerbang Yerusalem, dekat segala tembok di sekelilingnya dan dekat segala kota Yehuda. Maka Aku akan menjatuhkan hukuman-Ku atas mereka…” (Yer.1:13-16).
Tetapi, tantangan Yeremia bukan hanya dari para musuhnya. Ia juga memiliki masalah sendiri dengan berita yang diberikan Allah kepadanya. Kalau berita itu sungguh benar, mengapa tidak seorang pun menerimanya? Bagaimanapun, Yeremia tidak menolak panggilan Allah, meskipun ia ingin melakukan itu. Ia membiarkan dirinya tidak dipercaya dan diolok-olok, dan telah terlibat dalam perdebatan yang tidak kunjung berakhir (Yer.15:10-21). Yeremia telah menyerahkan kesenangan manusia yang umum dimiliki orang, yaitu rumah tangga dan keluarga demi menjadi juru bicara Allah, dan ia merasa Allah telah menipunya. Yeremia juga harus belajar sesuatu yang sulit, dan beberapa bagian yang paling menarik dari kitabnya diisi dengan pemeriksaan diri seperti ini. Tetapi, ia juga belajar pelajaran baru yang penting karena dari krisis kehidupannya sendiri ia menemukan arti mempercayai Tuhan secara pribadi dan hidup.
2. Nubuat yang berani dan akibatnya (26:1-24).
a. Nubuat (26:1-6).  Laporan yang lebih rinci atau versi yang lebih panjang dari khotbah epistel ini, terdapat dalam Yer.7. Nas ini menunjukkan awal pemerintahan Yoyakim (609-598), dan memang keadaan pada saat itu serba tidak menentu. Hanya dalam tiga bulan setelah raja Yosia terbunuh dalam pertempuran, penggantinya telah ditawan ke Mesir, dan kemudian raja ketiga, orang yang sangat ceroboh, diangkat untuk memerintah negeri itu. Di tengah situasi demikian, menyampaikan peringatan keras tentang datangnya bencana yang bisa jadi lebih buruk lagi, sama dengan menyodorkan diri untuk dibunuh, apalagi ketika peringatan-peringatan itu menyangkut Bait Allah dan kota suci, yang umumnya dianggap tak dapat diganggu gugat. Malahan, Jika kamu tidak mau mendengarkan Aku (Tuhan),…maka Aku akan membuat rumah ini sama seperti Silo, dan kota ini menjadi kutuk bagi segala bangsa di bumi (Yer.26, 4,6).
Inilah yang dapat kita lihat dari sikap Yeremia, berani melawan arus. Sudah tahu bahwa persoalan sedang dalam keadaan parah, namun kehendak Tuhan harus disampaikan. Dan peringatan itu juga menyangkut sesuatu yang tidak dapat diganggu gugat, tentang Bait Allah dan kota suci.
Sekali waktu pernah Francis Schaefer mengatakan “I do what I think and I think what I believe”, saya melakukan apa yang saya pikir dan apa yang saya pikir itulah yang saya percaya. Kepercayaan terimplikasi pada pemikiran dan pemikiran itu terimplikasi pada tindakan. Tindakan akibat percaya, itulah yang dilakukan oleh Yeremia. Percaya kepada Firman Tuhan menumbuhkan ketaatan (ciri dari seorang ‘the true follower’).
Sebagaimana Kristus bukan sekedar berteori tetapi Dia menjalankan teori yang Ia ajarkan tersebut dalam kehidupan-Nya. Demikian juga Yeremia mengisyaratkan banyak hal, terutama dalam kemauannya menyampaikan nubuat tentang masa depan bangsa Yehuda. Tindakannya mengimplementasikan ketaatan akan kehendak Tuhan melebihi kenyaman diri.
Untuk itu, pengikut-pengikut Kristus saat ini harus mengubah konsep berpikir atau paradigma yang salah dan kembali pada kebenaran, yaitu:
Pertama, mengarahkan pandangan mata kita hanya kepada kehendak Tuhan.Pada umumnya, saat masalah datang, manusia selalu memandang ke bawah akibatnya kita selalu melihat dan merasakan kesulitannya saja sebab kita telah terjepit oleh kondisi. Berbeda halnya kalau kita memandang pada Tuhan maka percayalah, bersama Tuhan, segala kesulitan tersebut dapat kita lewati sebab kita tahu bahwa semuanya itu adalah kehendak Tuhan dan demi untuk kemuliaan nama-Nya.
Kedua, menguji hati apakah kita mempunyai motivasi yang bersih. Itu telah dibuktikan oleh Yeremia, dengan tidak memikirkan upah untuk menjadi rohani, tetapi melakukannya sebagai kewajiban. Orang lain tidak tahu apa motivasi kita sebab ada kemungkinan sepertinya kita mempunyai motivasi rohani namun sesungguhnya di balik motivasi yang “rohani“ itu ada motivasi duniawi yang mengikut di belakangnya.
Ketiga, mempersiapkan hati untuk segala kemungkinan yang terburuk yang mungkin terjadi, prepare for the worst. Kalau kita tidak mempunyai kesiapan hati maka saat kesulitan itu datang, kita akan pergi dan meninggalkan Tuhan. Mengikut yang dimaksud oleh Tuhan adalah mengikut yang selama-lamanya bukan sekedar mengikut ketika keadaan menyenangkan saja.
Bagaimana menjadi seorang pengikut Tuhan sejati? Ada tiga aspek yang perlu kita perhatikan:
– Total Service. Adanya sikap yang sepenuh hati, total service. Tuhan menuntut suatu total comitment, jangan mengharapkan keuntungan. Melakukan kehendak Tuhan berarti kita turut melakukan pekerjaan dahsyat dan mulia karena itu, Tuhan menuntut sikap pelayanan yang sepenuh hati.
Semangat materialisme telah mencengkeram pikiran kita, maka sesungguhnya, orang bukan total komitmen lagi, dan ada kecenderungan untuk melirik kepada allah (harta, uang, kehormatan dll) seperti yang dilakukan oleh bangsa Yehuda.
– Single Authority. Seorang yang the true follower maka hatinya selalu terarah pada Tuhan. Mengikut Tuhan berarti kembalinya kita pada otoritas tunggal, yaitu Tuhan sebagai pemegang otoritas tertinggi.
Hendaklah kita sadar bahwa kita harus kembali kepada Tuhan sebagai single authority yang mengontrol hidup kita sebab tidak ada siapapun atau apapun di dunia ini yang dapat memimpin dan mengarahkan hidup kita. Hal ini seharusnya menyadarkan kita, kita tidak perlu kuatir dan cemas akan hidup kita. Mengikut Tuhan membutuhkan kesadaran bukan fanatisme tetapi ketaatan karena kita tahu siapa Tuhan yang kita ikuti tersebut, yaitu Kristus yang telah menebus dan membayar kita dengan harga yang mahal, yaitu dengan darah-Nya dan itu telah lunas di bayar.
– Kerelaan Hati. Tuhan menempatkan anak-anak-Nya di tengah-tengah kawanan serigala tapi ia haruslah tetap menjadi seekor domba dengan demikian ia menjadi terang dunia. Inilah gambaran Kekristenan tentang discipleship of Christ. Maka kerelaan hati untuk hidup dalam situasi yang bersifat kontras di tengah dunia menjadi bagian yang harus dilakukan oleh pengikut Tuhan.
b. Harga yang harus dibayar (ay.7-11). Orang yang mendengarkan khotbah Yeremia ternyata adalah orang-orang yang punya pengaruh. Mereka adalah para imam, para nabi dan seluruh rakyat. Seluruh elemen orang-orang Yehuda ada di sana. Khotbah itu tidak mengenakkan telinga para pendengar. Mereka marah, dan sepertinya khotbah yang tidak sesuai dengan keinginan hati semua orang yang ada di sana. Ini menjadi pertanyaan besar bagi kita, kenapa mereka harus marah? Ternyata jelas seperti dikatakan di atas, Yeremia berkhotbah tentang kutuk bagi mereka kalau tidak bertobat dan bila mereka tidak tunduk dan mendengarkan Tuhan. Apalagi itu dikatakan di masa-masa sulit yang dihadapi oleh bangsa itu. Para imam, nabi dan seluruh rakyat tidak terima khotbah yang “tidak enak didengar”, mereka mau khotbah yang menyenangkan dan melambungkan angan-angan, khotbah yang sesuai dengan selera mereka.
Mengatakan bahwa bangsa itu akan menerima kutuk, mungkin memang membuat kuping memerah. Namun, dari sisi Yeremia, itu harus disampaikan, bila tidak, hancurlah bangsa itu. Lagipula, menurut Tuhan, mana tahu dari mereka yang mendengar khotbah itu akan merubah tingkah lakunya (ay. 3) sehingga Tuhan akan mengurungkan niatnya untuk menghukum bangsa itu.
Dalam hal ini, kita melihat bagaimana Yeremia melakukan tugasnya sebagaimana itu memang harus dilakukan oleh umat percaya yaitu menegor kesalahan orang. Dalam Yehezkiel 33:7-9 “Dan engkau anak manusia, Aku menetapkan engkau menjadi penjaga bagi kaum Israel. Bilamana engkau mendengar sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka demi nama-Ku. Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati! — dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu. Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya, tetapi ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu”.
Demikian juga Paulus pernah menasihatkan hal serupa kepada Timotius,“Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran” (2 Timotius  4:2).
Memberitakan Firman bukanlah pilihan tetapi keharusan, kewajiban yang harus dilakukan (1 Kor.9:16c “Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil”).
Sekedar memberitakan, mungkin tidaklah persoalan besar. Namun pemberitaan, khotbah, tegoran, pengajaran menjadi persoalan ketika hal yang dilakukan itu dipertanyakan. Oleh para imam, nabi dan seluruh rakyat Yehuda dengan jelas menyatakan bahwa Yeremia harus mati (ay. 8). Mati, adalah hukuman yang layak bagi Yeremia menurut mereka, kenapa? Karena menurut mereka Yeremia telah menghujat Tuhan, menyatakan nubuatan (yang menurut mereka belum tentu kebenarannya) akan kutuk kepada bangsa itu (umat pilihan lagi) di Bait Allah.
Persoalan yang dihadapi oleh Yeremia kini bukan lagi hanya sekedar mempertanggungjawabkan khotbahnya, tetapi memperjuangkan akibat dari ketaatan. Ketaatan itu ternyata harus dibayar. Ya, dibayar dengan ancaman kehilangan nyawanya, harus mati. Maka ada sebuah pernyataan yang menarik untuk kita, “to accept Christ costs nothing, to follow Christ costs something, but to serve Christ costs everything”.
c. Setia kepada pengutusan Tuhan dan memasrahkan diri kepada Tuhan (ay. 12-14). Menerima reaksi yang demikian di awal pelayanannya tentu membuat Yeremia gentar dan takut. Tapi keadaan ini tidak membuat Yeremia berdiam diri, sebaliknya ia mengajukan pembelaannya (12-15). Pembelaan diri ini tidak dimaksudkan untuk mendapatkan pengampunan, karena dia memahami benar bahwa secara manusia musuh-musuhnya mempunyai kekuasaan dan kekuatan untuk membunuhnya. Tapi ia pun yakin bahwa hidupnya ada di tangan Tuhan. Pembelaan diri Yeremia ternyata agak memberi kelegaan, sehingga para pemuka dan seluruh rakyat memutuskan untuk membatalkan hukuman mati bagi Yeremia, karena mereka mengetahui bahwa berbicara atas nama Allah bukan merupakan pelanggaran hukum yang berat (16-18). Mereka juga takut ditimpa malapetaka karena membunuh seorang nabi Allah (19).
Namun apakah pembebasan Yeremia ini merupakan suatu tanda bahwa bangsa Yehuda terbuka hatinya terhadap firman-Nya? Tidak sama sekali. Peristiwa ini hanya memperlihatkan bahwa Allah tidak mengizinkan Yeremia dibunuh, sehingga tidak ada seorang pun yang berkuasa menyentuh nyawanya. Perlindungan dan jaminan Allah atas hidup hamba-Nya memang tidak selalu berupa keselamatan dari tangan musuh-musuh-Nya. Contohnya seorang nabi yang lain, Uria, yang mewartakan berita yang sama dan dihukum mati oleh raja Yoyakim (lih. Yer.26:20-23).
3. Patut kita renungkan: Ketika kita memberitakan firman-Nya, berbagai reaksi akan timbul. Ada yang menganggapnya sebagai angin lalu, ada pula yang menentang dan menolaknya dengan sengit, namun ada juga yang menerimanya. Ada pemberita firman-Nya yang dilindungi oleh Allah. Namun ada pula yang diizinkan Allah untuk dibunuh oleh musuh-musuh Injil. Satu-satunya jaminan bagi Kristen yang mau menjadi seorang Yeremia adalah bahwa Allah berkuasa mutlak atas hidup mati hamba-Nya dan firman-Nya harus diperdengarkan. Siapkah kita?
Kehidupan umat percaya adalah senantiasa berpola kepada diri Kristus yang bersedia wafat untuk menghasilkan kualitas kehidupan yang  baru. Seperti Kristus, selaku umat percaya kita terpanggil untuk berkurban diri (sacrifice) bagi keselamatan sesama. Dengan demikian kita juga terpanggil untuk membela, melindungi dan memberdayakan setiap sesama yang menjadi korban (victim) kesewenang-wenangan atau ketidakadilan. Panggilan iman tersebut akan menjadi efektif dalam kehidupan kita manakala kita senantiasa belajar menjadi taat dari apa yang kita derita. Jika demikian apakah hati kita kini telah diukirkan firman Kristus dan kasihNya, sehingga seluruh pelayanan dan kehidupan kita dikuasai oleh kehendakNya? Amin.
Dari Berbagai Sumber



Senin, 21 Desember 2015

Khotbah Minggu 27 Desember 2015 Lukas 2: 41-52 Thema: “Yesus makin Bertambah Besar, Makin Dikasihi”


Pendahuluan
Dikisahkan bagaimana Yesus yang sudah berumur 12 tahun diajak orang tuanya ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Ketika mereka kembali ke Nazaret, Yesus tertinggal. Mereka kembali ke Yerusalem mencarinya. Pada hari ketiga mereka menemukannya sedang duduk di tengah-tengah para ahli agama di Bait Allah. 
Pertumbuhan Yesus sebagai anak tidak lepas dari peran Yusuf dan Maria sebagai orangtua duniawiNya. Yusuf dan Maria selalu taat akan tradisi dan perintah Allah bagi umat Yahudi, dimulai ketika Yesus disunat pada hari kedelapan (Luk 2: 21). Perayaan paskah dalam nats ini adalah salah satu di antara tiga hari raya festival yang selalu dirayakan umat Yahudi dalam setahun. Menurut hukum Yahudi, setiap laki-laki dewasa perlu pergi ke Jerusalem untuk ketiga hari raya festival tersebut (Kel 23:14-17; Ul 16:16). Kali ini Yusuf dan Maria datang dalam perayaan terpenting yakni paskah, yang kemudian diikuti selama seminggu dengan hari raya tidak beragi. Paskah ini merupakan perayaan memperingati orang Israel dibebaskan dari Mesir dan bebas dari hukuman Allah kepada anak sulung mereka (Kel 12:21-36).
Demikianlah kisah yang terjadi, Yesus yang sudah berusia 12 tahun dibawa oleh orangtuanya ke Jerusalem karena dianggap sudah cukup besar dan dewasa serta di dalam pikiran orangtuaNya mempersiapkan Dia sebagai anak Taurat. Bagi umat Yahudi, anak memasuki usia 13 tahun dianggap sebagai anak Taurat, karena itu mereka terus belajar hukum-hukum Taurat hingga beranjak dewasa.
Dari bacaan nats kita pada minggu ini ada beberapa hal yang bisa kita pelajari, yakni sbb:
1. Tanggungjawab orangtua dalam pertumbuhan fisik dan rohani (ayat 41-42)
Sebagai seorang anak manusia, Yesus mengalami proses pertumbuhan fisik dan rohani. FisikNya sangat sehat yang dibuktikan dengan keikutsertaanNya ke Jerusalem yang membutuhkan 4 – 5 hari perjalanan. Hal ini tentu tidak diperoleh seketika, melainkan memberi perhatian lewat makanan dan juga kegiatan fisik sehingga tubuh Yesus sebagai anak bertumbuh baik dan sehat. Tetapi di samping pertumbuhan fisik tersebut, Yusuf dan Maria juga memperhatikan pertumbuhan rohani Yesus dengan mulai mengajarkan dan mengikutkan dalam acara-acara rohani Yahudi tersebut, dan membiasakan ikut dalam pengajaran-pengajaran agama Yahudi (Mzm 132:12). Hal inilah yang mungkin menjadi latar belakang kehadiran Yesus di Bait Allah tersebut, malah Yesus tidak terlalu menikmati  perayaan yang biasanya dilakukan dengan carnaval mengelilingi kota, tetapi justru Dia masuk ke dalam Bait Allah untuk mendengar diskusi para rabi dan ahli taurat.
Inilah yang menjadi tugas dan tanggungjawab orangtua di dalam membesarkan anak yang dianugerahkan Tuhan kepada setiap keluarga.
2. Pentingnya pertumbuhan karakter bagi anak (ayat 44-45)
Tradisi perayaan paskah di zaman itu dirayakan dengan cara carnaval. Dalam arak-arakan itu biasanya para lelaki berjalan di belakang untuk menjaga kaum wanitanya yang berjalan di depan dari para pencopet dan pelaku jail lainnya. Yusuf dan Maria membiarkan Yesus berjalan sendiri yang mungkin dengan kelompok lainnya. Di sini tampak bahwa sebagai orangtua, Yusuf dan Maria, mereka mendidik kedewasaan Yesus dengan “membiarkan” Dia untuk berjalan sendiri. Tetapi sikap ini juga harus disertai tanggungjawab dan pengawasan dari orangtua. Maka ketika carnaval sudah meninggalkan kota Yerusalem, mereka baru menyadari Yesus tidak ada dalam rombongan (perjalanan Nazaret ke Jerusalam itu 4-5 hari sehingga sering bermalam di jalan). Sebagai orangtua, Yusuf dan Maria akhirnya memutuskan untuk kembali mencariNya.
Sebagaimana kita ketahui, memberi kepercayaan seperti ini akan menumbuhkan kematangan dan sikap tanggungjawab bagi seorang anak. Kebiasaan sebagian orangtua untuk tidak memberi “kepercayaan” agar anak lebih matang, biasanya justru akan membuat anak tersebut akan semakin lambat dewasa dan mandiri. Pengalaman dan tantangan yang dialami dan dihadapi oleh seorang anak dalam kesendiriannya, akan menempa dia menjadi anak yang tangguh. Inilah yang membentuk karakter anak tersebut menjadi lebih siap dalam mengarungi kehidupan, sebagaimana Yesus kita lihat sebagai manusia tidak pernah takut dalam menjalani pelayananNya. Ia bertambah di dalam hikmat karena kasih karunia Allah ada di atas-Nya. Kodrat manusiawinya juga sempurna, berkembang sempurna seperti yang diinginkan oleh Allah kepadaNya.
3. Kekuatiran yang bertanggungjawab dalam pertumbuhan (ayat 46-49)
Hal ketiga yang bisa dilihat, adanya kekuatiran dari Yusuf dan Maria. Mendidik anak dalam kematangannya juga harus disertai pengawasan yang berlandasaskan kasih. Itulah yang terlihat pada Yusuf dan Maria, ketika menyadari Yesus tidak bersama mereka. Keduanya langsung kembali yang menunjukkan betapa tanggungjawab dan baiknya cinta kasih di antara mereka. Kasih berbuahkan kedekatan. Bahkan ketika mereka menemukan Yesus ada di Bait Allah, unsur kasih dan kedekatan ini terlihat dengan respon Maria yang tampak girang, tercengang (walau sedikit marah) dengan mengatakan: “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau" (ayat 48). Jawaban Yesus juga sangat sederhana tetapi matang: "Mengapa kamu mencari Aku? (ayat 49a). Kehangatan kasih sayang itulah yang ikut mewarnai pertumbuhan Yesus, yang dalam perkembangannya kemudian Yesus dalam pelayanan perasaanNya sangat peka terhadap orang lain, hati-Nya selalu penuh dengan kehangatan kasih sayang. Itulah buah hubungan kasih sayang antara anak dan orangtua.
Maria yang menyadari Yesus adalah Anak Allah sangat kuatir akan keberadaan Yesus, yang tetap merasa Yesus masih “seorang anak kecil”. Seorang ibu biasanya sangat sulit melihat pertumbuhan anaknya yang semakin hari semakin besar, bahkan seolah-olah tidak rela semakin dewasa. Ini juga sama halnya ketika kita memiliki seorang bawahan yang berkembang, kadang ada rasa “tidak menerima” bawahan kita tersebut dipromosi menjadi pimpinan atau manager, atau bekas mahasiswa kita menjadi dosen. Tetapi haruslah demikian, kita biarkan dengan sukacita, bagaikan anak burung yang belajar terbang dengan sayapnya, melayang ke atas dan terbang tinggi sebagaimana Allah merencanakan hal tersebut dalam kehidupannya.
4. Belajar sebagai dasar pertumbuhan
Bait Allah sangat popular di wilayah Yudea sebagai tempat belajar. Rasul Paulus juga belajar di tempat-tempat tersebut di bawah bimbingan gurunya Gamaliel (Kis 22:3). Pada masa paskah biasanya topik yang didiskusikan adalah tentang kedatangan Mesias dan para peserta yang hadir di Bait Allah umumnya para rabi-rabi terkenal ikut dalam diskusi seperti itu. Kita tahu bahwa umat Yahudi sangat merindukan datangnya Mesias mengingat kerajaan Romawi yang menjajah mereka begitu lama.
Di tempat inilah kemungkinan Yesus mulai menyadari diriNya sebagai Anak Allah. Itulah yang membuat jawaban Yesus kemudian, ”… Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?" (ayat 49b). Yusuf dan Maria mungkin sedikit memahami apa arti kata “di rumah Bapaku”(ayat 50). Mereka tahu akan hubungan yang khusus Yesus dengan Allah sebagaimana peristiwa pesan-pesan malaikat tentang kehamilan dan peristiwa kelahiran Yesus. Tetapi mereka belum tahu persis akan rencana Allah terhadap Yesus sehingga bagi mereka tetap membesarkan Yesus beserta adik-adikNya laki-laki dan perempuan (Mat 13:55-56). Bagi mereka Yesus adalah anak normal sebagaimana anak-anak lainnya dan tetap mengikuti pelajaran-pelajaran Taurat. Nats ini menyimpulkan, “Maria menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya” (ayat 51), dalam arti Maria mepergumulkan dan merenungkan semua peristiwa tersebut.
Yesus menyadari ayah-ibunya adalah Yusuf dan Maria. Ia tetap respek terhadap keluarga dan orangtuanya itu sehingga kemudian Yesus kembali ikut pulang ke Nazareth. Alkitab tidak menjelaskan bagaimana Yesus bertumbuh selama 18 tahun kemudian. Namun, kita dapat lihat Ia pasti senang dan terus rajin belajar firman Tuhan sebagaimana Ia perlihatkan di Jerusalem. Demikian juga Ia belajar dan bertumbuh menjadi seorang tukang kayu dan membantu Yusuf, ayah duniawiNya. Kesiapan ini juga yang membuat Ia dapat menggantikan Yusuf sebagai sumber penghasilan dan kepala keluarga (Yusuf kemungkinan mati muda, lihat Mrk 3:31 dan Mrk 6:3). Dia juga tidak memandang rendah pekerjaan tangan dan kasar. Yesus tetap dalam kehidupan biasa, “makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia” (ayat 52), sampai Ia mulai dalam pelayanan penuhNya setelah dibaptis di sungai Jordan sesuai dengan misi Allah kepadaNya.
Kesimpulan
Nats dalam minggu ini kita diajarkan tentang pertumbuhan Yesus sebagai anak manusia dan hubungannya dengan Yusuf dan Maria, ayah-ibu duniawiNya. Kita diajarkan melalui kehidupan Yesus akan tanggungjawab orangtua dalam pertumbuhan fisik dan rohani anak-anak. Demikian juga dengan pentingnya pertumbuhan karakter bagi anak dengan memberi mereka tanggungjawab dan kemandirian sejak awal. Memang kekuatiran selalu ada dalam pertumbuhan tersebut, tetapi sepanjang itu dilakukan dengan penuh kasih dan tanggungjawab, maka hasilnya akan selalu baik sebagaimana kita lihat dalam kehidupan Yesus. Yesus terus belajar dalam kehidupannya sebagai dasar pertumbuhan pribadiNya sehingga siap menyongsong masa depan pelayananNya. Mari kita terus belajar dari kehidupan Yesus. Amen


Khotbah Natal 25 Desember 2015 Lukas 2: 1-14 Thema: “Jangan Takut, Telah Lahir Juruselamat”


Pendahuluan
Kitab Injil lukas menekankan bahwa Allah dalam Karya penyelamatanNya bekerja didalam sejarah Dunia, dimana tindakan-tidakanNya dihadirkan dalam sejarah manusia itu sendiri,mengacu kepada keterangan waktu, keterangan tempat dan para pelaku dari sejarah tersebut dijelaskan oleh penulis Injil Lukas. Bagi Lukas Natal merupakan peristiwa Sejarah yaitu kehadiran Allah sebagai manusia sejati untuk menyelamatkan manusia. Dia menyatakan diriNya sebagai Allah yang berinkarnasi di dalam diri Yesus Kristus, yang lahir di kandang domba di kota Betlehem. Dia datang untuk membebaskan Manusia dari belenggu dosa. Karya Allah yang luar biasa itu diwujudkan dalam peristiwa kelahiran Yesus yang penuh dengan kerendahan, yang rela lahir sebagai manusia biasa. Peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang tercatat dalam sejarah dunia, pada zaman Kaisar Agustus di Kekaisaran Romawi. ( Lukas 2 : 1 )
Kelahiran Yesus itu diawali dengan pemberitaan/nubuatan para Nabi, diantaranya Nabi Yesaya dimana ia menjelaskan tentang kelahiran Raja Damai itu. Dimana kelahiran Raja Damai itu untuk menerangi negeri yang kelam, dan menimbulkan sorak-soari dan sukacita, mematahkan kuk yang menekan tongkat si penindas. Dan Yesasya terus mengumandangkan pada umatNya : seorang anak telah lahir untuk kita, lambung pemerintahan ada diatas bahunya. Hal inilah nubat tentang kelahiran Yesus (Mesias), walaupun hal ini masih ratusan tahun kemudian.
 Kelahiran Mesias itu kini mengingatkan kita sebagai umat Kristiani, bagaimana kita menyikapinya lewat peristiwa yang dimana saat itu Yusuf dan Maria disaat usia kandungan sudah saatnya tiba akan melahirkan, namun harus memenuhi perintah Kaisar Agustus untuk mendaftarkan kewarganegaraannya. Yusuf dan Maria berangkat ke Betlehem sebagai kota asal nenek moyangnya Daud. Harus melaksanakan tugas itu sebagai warga Negara yang baik. Dan disaat itulah Maria melahirkan sang Putra Kudus itu (Yesus) dan kelahiranNya beda dengan kelahiran bayi-bayi yang lain. Sebab Ia di lahirkan di kandang dan dibaringkan di palungan. Kalau kita bayangkan masa tega banget Allah membuat seperti itu, tega banget manusia (orang Betlehem) membiarkan sang Mesias itu dilahirkan di kandang. Tetapi dibalik itu ada hal-hal yang dirancang oleh Allah, sebab kandang tempat yang kotor dan bau, tetapi kehadiran Mesias itu adalah untuk orang yang papa, orang yang duka dan tertindas oleh tongkat, dan dikandang itu siapa saja boleh hadir baik dikalangan atas maupun bawah. Ternyata benar, bahwa yang pertama hadir ditempat kelahiran itu diperintahkan Malaikat ialah para gembala.
Saudara, kenapa harus gembala yang pertama sekali diberitakan Allah tentang sudah lahirnya Mesias itu?:
Gembala itu pekerja yang tulus dan setia
Gembala itu sanggup menghadapi segala cuaca (panas dan dingin)
Gembala itu tidak banyak tuntutan
Gembala itu tidak mengharapkan tanda jasa/penghargaan
Pekerjaannya/karyanya dibutuhkan semua orang
Lewat 5 hal ini mengigatkan bagi umat Kristen yang merayakan Natal. Kita juga adalah harus sebagai gambaran Gembala yang disuruh malaikat untuk melakukan kehendakNya, jangan perayaan Natal saja kita laksanakan namun tidak ada actionnya.
 Kita yang telah merayakan Natal, harus juga sebagai Pekerja yang setia untuk melaksanakan amanat Natal itu. Apa yang kita terima di saat Natal itu harus beritakan bagi orang lain. Orang percaya yang selalu merayakan Natal harus sanggup menghadapi segala tantangan, tidak pernah mengeluh terhadap hal-hal yang terjadi, sebab dia tahu perintah Allah itu selalu mendapatkan penyertaan.
 Sebagai orang percaya sebagaimana gembala, tidak pernah banyak menuntut, dia hanya berharap apa yang di beri tuan sebagai pemilik ternak yang ia gembalakan. Demikian juga kita sebagai umat Kristen yang dipakai oleh Yesus, janganlah banyak menuntut, namun banyaklah berbuat. Jangan kau Tanya apa yang diberikan Gereja padaku, tetapi tanyalah dirimu apa yang akan kau berikan bagi Gerejaku. Sebagai orang Kristen, tidak perlu mendapatkan penghargaan dari orang lain, berbuatlah seperti apa yang diperintahkan Tuhan walaupun tidak pernah diberi penghargaan/tanda jasa, sebab Tuhan Yesus akan menghargai semua pekerjaanmu. Dan perlu kita ingat bahwa karya Gembala lewat ternak itu dibutuhkan semua orang misalnya : susu, daging dan pakaian dari bulu domba, tas, dompet, tali pinggang dari kulit.
 Pernahkah terbayang oleh kita jikalau tidak ada gembala? Pasti dunia ribut. Sebab karya Gembala itu dibutuhkan semua orang, kaya, miskin, kalangan atas bawah, presiden  sendiri butuh karya Gembala itu. Demikian juga kita sebagai umat Kristen, karya kita dibutuhkan semua orang, sebab Yesus sudah perintahkan : Beritakanlah bagi semua orang.
Aplikasi:
1. Rencana Allah untuk penyelamatan dunia melalu kelahiran Yesus adalah satu peristiwa yang tercatat dalam rangka sejarah, bukan merupakan cerita dongeng ataupun legenda
2. Rencana penyelamatan tersebut dinyatakan melalui kelahiran Yesus dengan penuh kerendahan yaitu ditempatkan dalam palungan, bukan dengan kemegahan atau tempat yang mulia. Hal tersebut merupakan perenungan bagi kita, sebagai mana Kristus telah mengambil rupa sebagai seorang hamba,dan taat sampai mati bahkan mati di kayu salib, kita ditantang untuk merespon cinta kasihNya
3. Natal adalah Anugrah, Natal adalah Cinta kasih Tuhan yang diberikanNya melalui pengorbananNya, dengan merendahkan dirinya. Lihat! palungannya tempatnya berbaring, pinjaman, keledai yang ditungganginya ke Yerusalem pinjaman, ruangan yang dipakaiNya untuk Perjamuan Malam, pinjaman, bahkan kuburanNya ketika dia mati juga pinjaman! Dia tidak menimbun harta, tidak memperkaya diri tapi Dia memberi diri! Untuk kita, bagai mana kita
4. Ketika kita menyambut Cinta Kasih Tuhan dengan sungguh-sungguih maka seharusnya terjadi tranformasi dalam diri/pribadi kita, dalam keluarga kita, dalam Gereja kita karena ketika kita merespon Cinta Kasih Tuhan akan ada perubahan,ada pembaharuan budi,pembaharuan sikap, pembaharuan prilaku, rendah hati, sebab Natal adalah ” pembaharuan” sebab menerima Yesus berarti ada 3 K yaitu (1) Kesediaan; (2) Kesetiaan; (3) Kerelaan berkorban.
5. Penghayatan Natal yang sejati, sesunggunya bukan terletak pada pemaknaan tanggal lahirnya Yesus. Juga tidak terletak pada kulit luarnya dengan aneka assesoris /hiasan-hisasan natal. Lebih dari itu Natal adalah pemaknaan terhadap PULIHNYA RELASI MANUSIA DENGAN ALLAH DAN SESAMANYA.
6. Karya pemulihan itu memiliki dua dimensi penting, yakni dimensi illahi yang menyangkut pembaharuan relasi manusia dengan TUHAN serta dimensi manusiawi yang menyangkut relasi manusia dengan sesamanya (baik sesama warga gereja, maupun lainnya). Dengan demikian, unsur penting dalam merayakan Natal yang hakiki dalam rangka menghayati pulihnya relasi manusia dengan Allah adalah terletak pada “hati yang buka pada karya pemulihan Allah”.

Amen

Khotbah Roma 2:17-29 Thema: “Sunat di dalam Hati secara Rohani”


“Sunat adalah sunat di dalam hati.” Kita diselamatkan ketika kita percaya di dalam hati. Kita harus diselamatkan di dalam hati. Allah berkata, “sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah; Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah” (Roma 2:29). Kita harus memiliki pengampunan dosa didalam hati kita. Kalau kita tidak memiliki pengampunan dosa di dalam hati kita, maka hal itu tidak sah. Manusia memiliki “bagian rohani dan bagian lahiriah,” dan setiap orang harus menerima pengampunan dosa di dalam bagian rohaninya.
Dalam perikop ini, Paulus menafsirkan Hukum Taurat dan Sunat. Sebenarnya Paulus menafsirkan kedua hal ini dari Perjanjian Lama yang membahas tentang Hukum Taurat dan Sunat seperti Ul. 30:6; Yes. 52:5, dibandingkan denganYer. 7:4-15; Yer. 9:23-24.
Dalam hal ini, ada dua hal yang perlu disoroti dengan teliti yaitu Hukum Taurat dan Sunat. Bagi orang Yahudi, Hukum Taurat sangat besar peranannya dan inilah yang menjadi dasar pandangan orang Yahudi tentang dirinya sendiri terhadap keselamatan yang akan diperoleh. Namun Paulus memberikan paradigma baru tentang hal ini. Dalam perikop ini, Paulus menggunakan sastra Yunani yang disebut diatribe (serangan yang penuh Ironi). Paulus menjelaskan bahwa status istimewa sebagai Yahudi tidak menyebabkan Yahudi terlindung dari hukuman terakhir.
Dari ayat 17-24, bahwa dengan Hukum Taurat bukan berarti terlindung dari Hukum Tuhan. Buktinya, kehadiran Hukum Taurat tidak mencegah orang Yahudi melakukan dosa seperti yang dianggap sebagai dosa kafir. Maka dihadapan pengadilan Allah, orang Yahudi sama saja kedudukannya dengan orang kafir.
Pandangan Paulus ini juga berlaku terhadap setiap insan manusia, termasuk orang Yahudi karena ini juga yang dikatakan oleh Yesus dalam Mat. 5:21-48, Paulus melancarkan kecaman kepada orang Yahudi dan orang kafir (1:18-22) agar mencari keselamatan dalam Yesus Kristus.
Dalam ayat 25-29, Paulus berbicara tentang pandangan Yahudi yang membedakan Yahudi dengan orang kafir yaitu sunat. Paradigma baru : Paulus menegaskan bahwa sunat itu sendiri tidak menjadi sarana keselamatan, sebab yang penting ialah berbuat baik (ayat 10). Paulus mengecam orang Yahudi Kristen karena mereka menganggap dirinya aman dari hukuman Allah berdasarkan status mereka selaku umat perjanjian. Dalam ayat 29a, Paulus mengecam mereka karena memahami Hukum Taurat secara hukumiah, artinya : seolah-olah manusia wajib memenuhi tuntutan hukum, sedangkan Tuhan wajib memberi keselamatan sebagai upah upaya itu (timbal balik). Paham hukumiah mengenai Hukum Taurat membuktikan penekanan status eksklusif selaku umat Tuhan dan ini berdampak pada Hukum Taurat.
Dalam Hukum Taurat mereka memperoleh pengenalan Allah dan kebenaran. Dengan demikian kelebihan orang Yahudi digambarkan terutama dengan dua kata kerja yaitu kauxasthai dan katexoumenos yang berlokasi pada Hukum Taurat.
Paulus menunjuk kepada kejujuran Allah yang menghukumi orang yang bersalah sama dengan hukuman yang serupa. Orang Yahudi yang menghukumi orang Kafir akan menghukumi dirinya sendiri karena mereka melakukan hal serupa dengan orang kafir. Dari itu orang Yahudi dan Kafir berdiri di bawah ukuran dan tuduhan dan dakwaan yang serupa. Allah tidak memandang bulu (berdasarkan pasal 2;12-16). Kelebihan orang Yahudi yang didasarkan Hukum Taurat yang tertulis, yakni sebagai penyataan yang mengikat dari kemauan Allah (pasl 2;17-24) dan atas sunat sebagai pertanda kesetiaan persekutuan Allah (pasal 2:25-29) adalah tanda kekuatan di hadapan penghakiman Allah, tanpa pemenuhannya yang sempurna.
Mempunyai Hukum Taurat bukanlah ukuran kelebihan mereka, karena orang kafir pun mengenal Hukum Taurat (pasal 2:14-15). Kepada orang Yahudi dan kepada orang Kafir yang mereka hukumi berlaku ukuran yang sama. Bisa juga dikatakan orang yang mengerjakan Hukum Taurat itulah yang akan dibenarkan oleh Allah (2:13).
Diperhadapkan dengan keselamatan yang telah mulai Nampak sejak perbuatan pertolongan Allah dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, kelebihan orang Yahudi terhadap orang Kafir telah menjadi sia-sia. Baik orang Yahudi, baik orang Yunani adalah jatuh ke dalam dosa (3:9-20). Pengadilan Allah adalah didasarkan atas kebenaran (ayat 11) yang menjadi ukuran bukan karena atas nama hak (Privilegien).
Paulus juga memberikan pertanyaan-pertanyaan retorik untuk menyindir orang Yahudi secara keras. Oleh karena itulah orang Yahudi tidak menyenangi Paulus. Setelah Paulus menunjukkan bahwa baik orang Kafir dan orang Yahudi harus dihukumi menurut Hukum Taurat, sekarang Paulus mengatakan pelanggaran Hukum Taurat orang Yahudi 92;17-24) yang sesuai dengan tuduhan orang Kafir itu (1:18-32).
Paulus memperdebatkan soal kepercayaan oran Yahudi atas kepemilikan Hukum Taurat untuk jaminan atas keselamatan mereka. Dengan sangat jelas dikatakan bahwa ukuran dari pengadilan Allah tersebut bahwa Hukum Taurat dapat berfaedah jika dapat dilakukan secara sempurna. Tetapi dalam kenyataannya justru yang sebaliknya terjadi yaitu betapa dalamnya jurang pemisah antara kelebihan-kelebihan dan tuntutan orang Yahudi dengan cara hidup mereka. Kelebihan yang banyak ini dikatakan Paulusa dalam kalimat-kalimat pertanyaan ironisnya ataupun retorik. Demikian lah Hukum Taurat itu menjadi hal yang menentukan kepada mana orang Yahudi bersandar sebagai jaminan keselamatan .
Atas dasar kepemilikan pengetahuan akan kehendak Allah melalui Hukum Taurat sehingga mereka yakin menjadi penuntun orang buta, menjadi terang bagi orang yang berada dalam kegelapan, pendidik orang bodoh dan pengajar orang yang belum dewasa (ay.19-20). Mungkin saja ini berasal dari bahasa mission dari suatu kelompok Yahudi Hellenis tertentu. Mereka merasa dirinya lebih tinggi sebagai “pemilik dan jurubicara rahasia-rahasia Allah”. Dakwaan Paulus sangat hebat dalam hal sunat (2:25-29). Hukum Taurat dan sunat adalah tonggak-tonggak utama dari perasaan terpilih orang Yahudi yang tak boleh diganggu gugat. Sebenarnya sunat itu adalah bagian daripada Hukum Taurat dan berakar padanya. Bagi orang Yahudi, itu adalah tanda keikutsertaan Israel dalam perjanjian persekutuan dengan Allah, sebagai suatu materai yang paling pasti dari pemilihan Allah dan sebagai tanda pengenal absolute dari kelebihan agama mereka terhadap bangsa-bangsa lain. Walaupun sebenarnya bukan hanya orang Yahudi yang melakukan sunat, namun mereka melihat sunat yang tertera dalam Hukum Taurat itu sebagai sesuatu yang sama sekali lain dan tersendiri. Dalam hal tertentu, sunat itu mempunyai kesamaan bagi mereka dengan sakramen yang memberikan suatu karakter indelibilis, jadi suatu jaminan keselamatan yang nampak.
Penyanjungan hebat atas sunat ini ditolak oleh Paulus. Dalam 2: 25 Paulus tidak melawani kenyataan sunat sebagai materai perjanjian persekutuan yang diberikan Allah kepada Israel. Tetapi dengan 25, Paulus sangat cepat menyerang bahwa sunat itu sendiri hamper sama otomatis mempunyai kekuatan menyelamatkan. Faedah dari sunat itu bergantung hanya dari perbuatan Hukum Taurat. Hukum Taurat dan sunat tidaklah dapat dipisahkan. Pemenuhan Hukum Tauratlah yang membuat pelaksanaan penyunatan berguna untuk keselamatan (ay. 25a), berarti disini perbuatan yang mempunyai suatu pengenaan langsung dengan pengadilan penghukuman, dengan mana orang dihakimi.
Dengan sangat agresif Paulus mengkonfrontir tuntutan-tuntutan orang Yahudi dengan kenyataan prilaku mereka 2:21-24; 2;25). Perbuatan mereka berdiri bertolak belakang dengan tuntutan-tuntutannya. Mereka mengajar orang lain, bukan dirinya sendiri. Paulus mengutarakan sebagian Hukum Taurat yang sepuluh itu tanpa urutannya yaitu pencurian (21), zinah (22), dan gambar berhala (23). Mereka jijik akan gambar berhala, namun mereka sendiri merampok rumah berhala. Perampokan yang dimaksud di sini bukan terjadi di dalam Bait orang Yahudi tetapi di rumah berhala orang kafir. Orang Yahudi sejati itu tidak nampak kejahudiannya, artinya bukan hanya hal batin yang tidak nampak, tetapi seluruh eksistensinya berada dalam rahasia kepribadian, yang baru akan dinyatakan pada eskaton, tetapi sebaliknya juga bahwa kesalehan adalah termasuk hal yang nampak. Paulus mematahkan hak-hak keselamatan orang Yahudi untuk menujukkan bahwa semua manusia sama di hadapan Allah.
Paulus tidak berbicara mengenai sunat lahiriah, tetapi sunat di dalam hati secara rohani, pengampunan dosa adalah di dalam hati. Kalau ada orang-orang yang tidak mau berbicara mengenai percaya secara lahiriah, tetapi yang dikatakan adalah percaya dalam hati. Allah berkata di dalam hati kita ketika kita menjadi anak-anakNya. Rasul Paulus tidak menempatkan pengharapannya kepada hal-hal yang lahiriah. Mereka yang dosa-dosanya sudah dihapuskan juga memiliki manusia lahiriah dan rohani. Manusia lahiriah sudah disalibkan ketika Yesus Kristus disalibkan. Kita menjadi kudus dan benar dengan percaya di dalam hati, bukan menurut perbuatan manusia lahiriah kita. Oleh karena itulah hati menjadi hal yang sangat penting di hadapan Allah.

Sebenarnya bangsa Yahudi menurut Paulus sudah menjadi batu sandungan bagi bangsa-bangsa lain. Hal ini dikarenakan bangsa Yahudi yang seharusnya benar-benar melakukan Hukum Taurat dengan sungguh-sungguh tetapi justru Yahudi sendiri yang melakukan kesalahan terhadap Hukum Taurat bahkan memegahkan diri atas Hukum Taurat dan Sunat yang mereka miliki. Bangsa Yahudi berani mengatakan bangsa-bangsa lain berada dalam kegelapan bahkan dikatakan buta. Disinilah Paulus memberikan tekanan terhadap Yahudi dengan diatribe itu. Oleh karena itu mungkin saja pada masa itu jugalah ada pandangan dari bangsa-bangsa lain yaitu Allah orang Yahudi adalah Allah yang menyatakan Hukum Taurat dan Allah juga memberikan batu sandungan. Sebenarnya Paulus juga sangat menghargai Hukum Taurat dan Sunat (Roma 7) tetapi Paulus melihat ada paradigma yang salah dari bangsa Yahudi dalam memahami Hukum Taurat termasuk keselamatan yang dianggap datang dari Hukum Taurat. Amen RHL.

Khotbah 2 Raja-raja 2: 1-12 “Estapet Kepemimpinan”


Pendahuluan
Elia adalah nabi yang dipakai Tuhan dengan luar biasa. Banyak rencana dan karya Tuhan terjadi melalui dirinya, seperti bernubuat supaya hujan turun dan tidak turun (1 Raj 17:1, 18:41-46), menegur penguasa tinggi, raja Ahab (1 Raj 18), mengalahkan nabi-nabi Baal di gunung Karmel (1 Raj 18:20-40) dan lain sebagainya.
Elisa adalah tipe orang yang setia dan patuh, Ia setia kepada seniornya,  pembimbingnya, mentornya, gurunya. Dalam hal ini, Elia merasa senang, karena dia merasa tidak salah pilih (1 Raj 19:19-21). Kesetiaan Elisa tampak dalam peristiwa perjalanannya dengan Elia, ada 3 kali Elia hendak meninggalkan Elisa, tetapi Elisa tetap bersikeras harus tetap mengikuti Elia, hingga Elia pergi berangkat ke sorga, sesuai dengan perintah Tuhan Allah.
Penjelasan
Kabar keberangkatan Elia ke surga dalam angin badai tampaknya sudah menjadi pengetahuan umum di kalangan komunitas kenabian. Rupanya kenaikan Elia ke surga ini sudah diberitahukan lebih dulu, baik kepada Elia, Elisa maupun rombongan nabi di Betel dan Yerikho (ay 1,3,5,10).
Elia berusaha untuk meninggalkan Elisa (ay 2,4,6). Ini dimaksudkan untuk betul-betul mendapatkan kesendirian, atau untuk mengetest kesetiaan Elisa. Tiga kali Elia berusaha melakukan hal ini, dan tiga kali pula Elisa menolak untuk ditinggalkan (ay 2,4,6). Dalam keadaan normal seorang pelayan harus menuruti majikannya, tetapi dalam perikop ini, Elisa, yang tahu bahwa itu adalah saat-saat terakhir ia bisa bersama tuannya (ay 3b,5b), menolak untuk ditinggalkan. Jelas Elisa lebih memilih untuk tetap bersama Elia. Ia terus menempel ke Elia saat mereka melakukan perjalanan, mungkin terlihat menyedihkan tetapi hal ini mengungkapkan keintiman hubungan mereka, yang melampaui hubungan ayah-anak (ay 12).
Di dua lokasi, rombongan nabi (para murid nabi) bertanya pada Elisa tentang keberangkatan Elia (ay 3, 5). Jawaban Elisa atas pertanyaan ini kasar, mencerminkan ketegangan emosionalnya akan suatu perpisahan. 
Akhirnya, mereka mencapai perjalanan akhir. Di sungai Yordan, sekarang saatnya bagi Elia untuk menyeberang. Sekali lagi Elia mencoba untuk mencegah Elisa mengkutinya, tetapi lagi-lagi, Elisa bersikeras bahwa ia akan tetap mengikuti Elia.  Di seberang Sungai Yordan, pada saat-saat terakhir keberadaan Elia di bumi. Elia berkata kepada anak didiknya yang masih muda itu, "Mintalah apa yang hendak kulakukan kepadamu, sebelum aku terangkat dari padamu." Jawab Elisa: "Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu."
Banyak penafsir menganggap bahwa Elisa meminta kuasa dua kali lipat dari apa yang dimiliki oleh Elia, dan bahkan mereka lalu membuktikan bahwa Elisa melakukan mujijat dua kali lebih banyak dari Elia. Tetapi ini merupakan penafsiran yang salah. Alasannya, Elisa tidak pernah menjadi dua kali lebih hebat dari Elia, bahkan Elisa tidak pernah bisa menyamai Elia. Bahwa Elia tetap lebih besar dari Elisa, juga terlihat dari fakta bahwa yang muncul bersama Yesus pada waktu pemuliaan di gunung adalah Musa dan Elia, bukan Elisa (Mrk 9: 4).
Lalu apa artinya permintaan ini? Ini dihubungkan dengan Ulangan 21:17, yang mengatakan bahwa anak sulung diberi warisan dua bagian, atau dua kali lipat dari anak yang lain. Jadi, Elisa rupanya menganggap bahwa Elia mempunyai banyak anak rohani (ini mencakup nabi-nabi di Betel dan Yerikho), dan ia meminta warisan sebagai anak sulung. suatu ‘bagian dobel’ dari roh Elia, bukan suatu kuasa yang lebih besar dari yang dimiliki Elia, tetapi bagian yang diberikan kepada anak tertua yang menggantikan posisi ayahnya.
Permintaan ini tidak menunjukkan ketamakan, karena tamak atau tidaknya tergantung dari motivasi Elisa. Kalau ia meminta hal itu demi kemuliaan Tuhan, maka tentu itu bukan ketamakan. Bahkan kalau seseorang meminta ‘hal duniawi’ seperti mobil, asalkan motivasinya untuk kemuliaan Tuhan, maka itu bukan suatu ketamakan.
Elia tahu bahwa bukanlah haknya untuk memberikan apa yang Elisa minta. Jadi dia berkata, "Yang kau minta itu adalah sukar. Tetapi jika engkau dapat melihat aku terangkat dari padamu, akan terjadilah kepadamu seperti yang demikian, dan jika tidak, tidak akan terjadi."  Dengan kata lain, Elisa meminta sesuatu yang Elia tidak bisa berikan sebab hal itu adalah pemberian Allah.  Elisa meminta semangat yang ada dalam diri Elia, yang membuatnya menjadi nabi terbaik dalam sejarah Yahudi, yaitu semangat yang berasal dari Allah. Kuasa dari Allah yang memberinya kemampuan untuk melakukan mukjizat. Kuasa dari Allah yang memberinya suara untuk berbicara tentang kebenaran kepada penguasa dunia. Kuasa dari Allah yang memberi Elia kebijaksanaan untuk mengetahui apa yang dibutuhkan. Kuasa dari Allahlah yang bekerja melalui Elia, yang membawa gairah dan kasih sayang yang melimpah dalam pelayanannya.
Elisa meminta semangat, bukan sebagai hadiah atau lencana kehormatan, tetapi karena ia membutuhkannya untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Dia membutuhkan itu dalam rangka untuk menjadi pemimpin dalam komunitasnya. Dia membutuhkannya untuk membawa kesembuhan dan kasih sayang bagi orang di sekitarnya. Ia membutuhkan semangat pelayanan agar ia bisa memenuhi misinya.
Melalui perikop ini jelas kelihatan  bahwa Elisa adalah figur yang sangat cocok dan tepat menjadi pengganti Elia, memimpin bangsa Israel. Elisa setia, serius, sungguh-sungguh,  dan gigih berjuang. Kesungguhan Elisa menjadi pelayan itu terbukti sebab ia memenuhi syarat untuk memiliki kuasa atau wibawa Elia melalui ‘dapat melihat Elia berangkat ke sorga’ dengan kereta berapi dan kuda berapi. Ini menjadi suatu legitimasi dari Allah sendiri, bahwa ia benar-benar disetujui dan dipilih Allah sebagai pengganti Elia.
Selanjutnya Elisa memiliki kompetensi seperti Elia, sanggup melakukan apa yang telah dilakukan oleh Elia yakni melakukan tanda mujijat (ay 14). Legimitasi berikutnya adalah dari teman-temannya nabi yang lain (manusia), dimana teman-temanya itu melihat semua kejadian itu dengan jelas dari jarak tertentu (ay 15).
Refleksi:
Kisah Elia dan Elisa dalam perikop ini berbicara tentang bimbingan dan transisi kepemimpinan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Proses transisi, suksesi dan kelangsungan tugas kenabian sangat menentukan sukses tidaknya sebuah pelayanan. Dari sini kita belajar bahwa sebaiknya hubungan senior dengan junior adalah hubungan yang saling membangun, bukan hubungan yang saling bersaing dan sikut-menyikut. Terlebih dalam hal suksesi kepemimpinan (periodeisasi) di tengah-tengah jemaat maupun organisasi lainnya.
Kita juga belajar dari Elisa tentang bagaimana ia belajar dan mengikuti orang yang lebih berpengetahuan dan lebih bijaksana. Permintaan Elisa untuk "dua bagian roh" adalah tentang warisan rohani yaitu semangat pelayanan bukan kekuasaan. Dia ingin melanjutkan pelayanan Elia dan bukan memulai model pelayanan yang ia ciptakan sendiri. Ini merupakan sebuah pelayanan yang dilakukan dalam kerendahan hati.
Dalam hidup kita ini, kita memiliki peran  sesuai dengan talenta dan pekerjaan kita masing-masing. Baiklah kita tetap setia memberikan yang terbaik bagi Allah melalui talenta dan pekerjaan kita tersebut. Elisa setelah terpilih untuk menggantikan posisi Elia maka ia memberikan dirinya sepenuhnya untuk melayani dengan tulus, sepenuh hati dan penuh kesetiaan.
Percayalah, jika Allah memanggil kita untuk suatu tugas pelayanan, Allah akan memberikan semangat dan kasih karunia kepada kita untuk melakukannya. Ingatkan diri Anda bahwa semua pelayanan yang Anda lakukan bisa menjadi persembahan yang harum bagi Allah. Amen