Senin, 09 Maret 2015

Khotbah Minggu 22 Maret 2015 Mazmur 119:9-16 Tema : “Bersukacita Menaati Firman Tuhan”

 Pendahuluan
Mazmur 119 merupakan mazmur sekaligus pasal yang terpanjang dalam Alkitab. Ditulis setelah Bait Allah dibangun kembali, sebagai suatu perenungan akan keindahan firman Allah dan juga keindahan hidup orang-orang yang sedia dituntun oleh firman Allah.
Kerinduan pemazmur untuk dirinya sendiri tidak lain adalah menjaga hidupnya tetap bersih, tidak menyimpang dari printah-perintah Tuhan. Dan kerinduan ini bukan hanya menjadi angan-angan atau moto hidup semata sebagaimana yang juga biasa diucapkan oleh orang-orang Kristen pada umumnya. Kerinduan ini ditindaklanjuti dengan usaha-usaha untuk menggapainya, yaitu dengan mencari Tuhan melalui firmanNya. Merobah sikap dan mental akan mengarahkan kita kepada tuntutan hidup sesuai firmanNya.
Reformasi adalah perjuangan yang harus terus dikerjakan oleh umat Tuhan. Reformasi artinya kembali ke formasi (bentuk semula). Manusia pertama diciptakan serupa dan segambar dengan Allah, sempurna memiliki akal dan pikiran sehingga layak menjadi mitra Tuhan untuk menjaga keselarasan hidup di dunia ini. Setelah manusia jatuh kedalam dosa keserupaan dan kesegambaran manusia dengan Allah itu telah ternoda, tercoreng, kabur (buram) bahkan gelap sama sekali, hampir tidak kelihatan lagi sifat-sifat ilahi dalam kehidupan manusia, sehingga muncullah istilah “homo homini lupus = manusia menjadi serigala atas sesamanya, ada pendapat yang mengatakan bahwa manusia adalah hewan bercelana, artinya hanya “celana” yang membedakan manusia dengan ciptaan yang lain...ironis....menyedikan
Kebobrokan moral membuat hidup menjadi kacau, kejam dan sadis....mengerikan. Tepat sekali Presiden Ri Joko Widodo menetapkan Revolusi Mental menjadi lokomotif pemerintahannya. Revolusi Mental adalah terapi dari seluruh masalah yang sedang melanda kehidupan manusia. Permasalahannya adalah bagaimana kita memulai revolusi mental yang telah rusak ini ? cukupkah dengan rajin beribadah ? cukupkah hanya dengan berteriak....revolusi mental....revolusi mental dengan sedirinya mental kita berubah..?”
Saya percaya bahwa kita rindu akan perubahan yang signifikan dalam diri , keluarga, gereja dan bangsa kita. Kita rindu akan kehidupan yang tentram dan damai, diwajah setiap insan kembali memancarkan “rupa dan gambar “ Allah, yang penuh kasih, bertanggung jawab, memiliki daya kreatifitas untuk membangun kehidupan menjadi “lebih baik”. Dibawah ini pemazmur memberikan tips untuk mrevolusi mental yang telah rusak
Pendalaman Nats
(1) Mempertahankan Kelakuan Tetap Bersih (ay.9)
Hidup benar (bersih) ditengah-tengah angkatan yang jahat memang sangat sulit dan berat, karena hidup di dunia ini tidak terlepas dari pengaruh lingkungan. Hidup ditengah masyarakat yang beraneka ragam, nilai kebenaran itu sendiri “nisbi”apa yang kita anggap benar belum tentu benar di mata orang lain dan apa yang dianggap benar oleh orang belum tentu itu benar menurut kita, sehingga nilai kebenaran itu tidak mutlak tetapi tergantung siapa. Bagi segelintir orang korupsi itu benar karena banyak orang melakukannya.... tapi bagi sebagian orang korupsi itu satu momok yang harus di berantas,.. bagi sebagian orang tidak ke gereja itu juga suatu yang benar (buktinya mereka tidak ke gereja, kalau mereka anggap tidak ke gereja itu salah pasti mereka datang ke gereja). Dalam hal ini pemazmur memberikan satu nilai kebenaran adalah “Sesuai Dengan Firman Tuhan” kalau boleh saya meringkaskan isi Firman Tuhan itu adalah “mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri kita sendiri”,. Firman Tuhan itu dapat di ilustrasikan dengan salib. Salib adalah pertemuan antara kayu vertikal dan kayu yang horizontal yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya, karena begitu di pisahkan itu bukan lagi salib namanya. Demikian juga antara mengasihi Tuhan dengan mengasihi sesama manusia tidak dapat dipisahkan, karena tidak mungkin kita mengasihi Tuhan tanpa mengasihi sesama manusia. Untuk mempraktekkan kasih ini menjadi tanggung jawab kita, itulah salib yang harus kita pikul setiap saat. Walaupun sebagian orang menganggap “salib” itu ketinggalan zaman, tidak relevan lagi ditengah kehidupan yang sarat dengan persaingan, sulitnya mendapatkan peluang kehidupan “jangankan uang halal uang haram pun sulit mendapatkannya” sehingga uang haram pun dianggap anugerah. Mental seperti ini harus di revolusi. Paulus dalam suratnya ke Jemaat Roma pasal 12 :2 “ Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” Selanjutnya surat Paulus yang kedua kepada Timotius di pasal 3:16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
Langkah pertama untuk melakukan revolusi mental adalah setiap orang harus mempertahankan kelakuannya tetap bersih yaitu hidup sesuai dengan Firman Tuhan.
(2) Dengan segenap hati mencari Tuhan
Segenap hati artinya totalitas, tidak terpecah, focus, konsentrasi penuh, tidak bercabang, murni, (kudus= tidak campur aduk). Kalau kita berbicara dengan segenap hati mencari Tuhan, itu artinya tidak ada yang lain selain Tuhan menjadi tujuan hidup. Apakah benar semua orang yang pergi ke gereja murni (dengan segenap hati) mencari Tuhan ? karena kalau menurut logika saya, “apa yang kita cari pasti itu yang kita temukan” orang yang pergi ke pasar di tengah-tenga begitu banyak barang yang ditawarkan tidak akan semua mereka beli pasti yang mereka beli adalah sesuai dengan kebutuhan mereka dan logikanya apa yang mereka butuhkan pasti itu yang mereka cari, tidak akan mungkin seorang ibu yang pergi kepasar mencari dan membeli bawang sementara stok bawangnya masih banyak di rumah. Mungkin belakangan ini sering kita dengar “keluhan-keluhan jemaat, siapa yang berkhotbah....ah Pdt si anu.... ah... enggak enak...monoton... enggak ada lucu-lucunya....enggak menarik....
Menurut hemat saya kalau kita sungguh-sungguh datang ke gereja mau mencari Tuhan dengan segenap hati, setiap pembacaan Firman Tuhan (tanpa di khotbahkan) kita dapat bertemu dengan Tuhan, ketika kita bernyanyi syair lagu yang kita lantunkan dapat membawa jiwa kita kepada Tuhan sehingga kita merasakan bertemu dengan Tuhan.
Marilah mencari Tuhan dengan segenap hati tanpa dinodai dengan motivasi-motivasi yang lain, kuburan bukan tujuan menjadi Kristen (karena ada sebagian orang menjadi Kristen agar nanti mati ada yang mengurus penguburannya), kekayaan bukan menjadi tujuan datang kehadirat Tuhan (karena ada sebagian jemaat mengikut Yesus supaya berlimpah hal ini yang diajarkan oleh teologia sukses yang sangat bertentangan dengan teologia salib)
Sumber kebahagiaan yang kekal ada di dalam Tuhan, sehingga pemazmur rindu berjalan di jalan Tuhan tidak sedikitpun menyimpang dari perintah-perintah Tuhan.
(3) Hati yang menyimpan janji-janji Tuhan
Hati adalah jendela mata artinya apa yang ada dihatimu akan terpancar dari matamu, kalau hatimu lagi marah maka matamu akan merah, kalau hatimu lagi bersukacita maka matamu akan berseri-seri.
Suasana hati itu sendiri tergantung dari apa yang ada dialamnya jika hati didisi dengan kebencian maka yang maka seluruh hidup kita akan memancarkan rada kesal, marah, kebencian. Jika hati kita dipenuhi dengan janji-janji maka akan terpancar suatu gelora yang membara, semangat yang luar biasa. Sebuah janji pasti membuahkan pengharapan, jadi hati-hati kalau kita berjanji, karena janji yang kita ucapkan akan menumbuhkan pengharapan dan ketika pengharapan itu tidak terpenuhi akan timbul “sakitnya tu di sini di dalam hatiku”
Pamazmur mengisi hatinya dengan “janji-janji Tuhan”, janji Tuhan yang akan menyelamatkan, janji Tuhan yang tidak pernah diingkari, karena Tuhan itu penuh kasih dan setia, dan kuasa apapun tidak mampu membatalkan janji-Nya. Janji-janji Tuhan yang ada dihatinya membuat dia terus rindu menjalin hubungan dengan Tuhan memalui perenungan Firman Tuhan (Mzm 119: 97 “betapa kucintai Taurat-Mu....” biasanya orang yang jatuh cinta...mau makan ingat si dia....mau tidur ingat si dia...mau mandi ngat si dia.... di dompet ada si dia.... di kamar ada si dia...” di sisi lain apa yang kita pikirkan hal itu juga yang terpancar dalam hidup kita.
Mari kita menyimpan-janji keselamtan, janji kekekalan Tuhan di hati kita sehingga janji Tuhan itu meberikan pengharapan yang teguh di hati kita, dan pengharapan itu akan memampukan kita mengalahkan tantangan dan cobaan serta godaan yang menggiurkan sekali pun, sehingga kita tetap suci walaupun didalam debu
(4) Menceritakan Firman Tuhan
Surat Paulus kepada Timotius, dalam 1 Timotius 4:16 “ Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau”, kelemahan kita sebagai orang Kristen adalah kurangnya dalam menceritakan Firman Tuhan, itu kelihatan dalam kebaktian rumah tangga dan juga PA, begitu diberikan kesempatan untuk bersaksi semuanya tertunduk.... bahkan ada yang toel kiri dan kanan.... yang mau bersaksi orangnya hanya itu-itu saja.
Satu prinsip yang harus kita pegang “pada akhirnya akan menjadi hakim pada dirinya sendiri” walaupun saat ini masih banyak orang hanya banyak berbicara tanpa bukti tetapi akhirnya kata-kata yang diucapkan itu akan terus terngiang di telinga dan berbisik di hatinya, akan timbul perasaan malu sendiri jika perkataannya tidak sesuai dengan prilakunya. Hal inilah yang membuat pemazmur selalau rindu menceritakan hukum Tuhan yang dia ucapkan, karena ucapan-ucapannya itu akan menjadi pagar/rel menjaga dia tetap berjalan dalam undang-undang Tuhan.
Marilah kita memperkatakan Firman Tuhan sehingga kita juga diproses hidup dalam apa yang kita perkatakan, Hanya Firmna Tuhan yang terus di perkatakan, diperdengarkan dapat memperbaharui hati kita....

Jika hati kita sudah diperbaharui oleh Firman Tuhan....akan terjadi revolusi mental yang akan membawa perubahan yang radikal dalm hidup ini. Hidup benar di tengah kehidupan dunia penuh dosa, mungkin dianggap ketinggalan zaman, tidak relevan, akan ditindas dan dilindas, jangan takut karena Kristus yang tidak memuliakan diri-Nya sendiri menjadi Imam Besar dimuliakan oleh Dia yang telah berfirman kepada-Nya “Anakku Engkau” (Bahan Bacaan Ibrani 5:5-10). Amen

Khotbah Minggu 15 Maret 2015 Ibr 12:18-29 “Beribadah dengan Hormat dan Takut”


Penguraian dalam kitab Ibrani meneguhkan seruan dalam berbagai hal. Pasal 11 adalah daftar yang terkenal tentang saksi-saksi iman yang berpuncak pada Kristus dalam psl.12. Topik itu beralih ke pentingnya menerima didikan Allah sebagai anak. Kemudian, dalam ayat-ayat sebelum perikop kita (aa.14-17), ada pentingnya tidak menolak anugerah Allah seperti Esau. Perikop kita memberi alasan untuk seruan itu (perhatikan kata “sebab” pada awal a.18).
Dalam bagian ini penulis kembali ke perbandingan yang dikembangkan dalam pp.3-4 antara Israel dalam pengembaraan di padang gurun dengan jemaat dalam pengembaraan di dunia. Peringatan di sana ialah bahwa ada banyak dari mereka yang berbagian dalam anugerah Allah tetapi tidak sampai pada tujuan yang dijanjikan Allah karena ketidaktaatan (4:1-3).
 Di sini perbandingannya antara titik awalnya setelah ditebus, masing-masing dilambangkan oleh sebuah gunung. Setelah Israel dibebaskan dari Mesir mereka berkumpul di gunung Sinai, seperti yang diceritakan dalam Kel 19. Pemandangan pada saat itu sangat menakutkan, menegaskan betapa Allah itu kudus sehingga berbahaya bagi umat yang najis seperti Israel (aa.18-20). Sebaliknya, gunung Sion di sorga dalam aa.21-24 memberi gambaran yang sangat menyemangatkan. Penulis menggambarkan kumpulan malaikat yang meriah dan orang-orang benar yang karena disempurnakan luput dari penghakiman Allah. Semua itu karena Yesus sudah mengadaan perjanjian baru oleh darah-Nya (a.24; bnd. p.8 & 9:15). Titik awal kita dalam Kristus adalah penuh harapan.
Jika darah Kristus berbicara, jangan janji itu ditolak, lebih lagi karena Kristus yang menyampaikannya berasal dari sorga, bukan dari bumi seperti Musa (a.25). Untuk mendukung itu penulis mengembangkan suatu implikasi dari kuasa dahsyat Allah. Di gunung Sinai bumi digoncangkan, tetapi ada janji dalam Hag 2:6 bahwa Allah akan menggoncangkan bumi dan langit. Ayat itu merujuk pada tujuan Allah untuk menempatkan bangsa-bangsa di bawah kedaulatan-Nya (Hag 2:7), tetapi penulis Ibrani hanya mengambil satu aspek, yaitu bahwa dalam janji itu penggoncangan tinggal satu lagi. Jika tidak ada penggoncangan lagi, maka yang dapat digoncangkan sudah diubah menjadi tak tergoncangkan (aa.26-27). Artinya bahwa kerajaan yang dijanjikan adalah mantap, kokoh, sangat layak disyukuri dengan rasa hormat dan takut (a.28).
Kalimat terakhir mungkin mengagetkan kita, karena sepertinya kembali ke gambaran gunung Sinai, dari pada gambaran gugung Sion dsb. Tetapi sebenarnya penulis tidak menyampaikan dua gambaran Allah yang bertolak belakang. Allah adalah Allah yang dahsyat, hakim semua orang. Oleh karena itu, ada harapan bahwa Dia dapat menghanguskan semua yang jahat, bertentangan dengan kehendak Allah (aa.26-27). Gunung Sion lebih menjanjikan bukan karena keadilan Allah diganti dengan anugerah-Nya, melainkan karena dalam Kristus keadilan dan anugerah-Nya berjumpa. Orang-orang benar disempurnakan dalam darah Kristus sehingga dapat berdiri di hadapan Sang Hakim (aa.23-24).
Jadi, jika pada dasarnya penulis mau supaya pembaca tetap berpegang pada Kristus, dalam a.28 kita melihat respons yang diperlukan oleh yang berpegang. Intinya bersyukur. Kita bersyukur karena Kristus sudah membawa kita kepada tempat yang menyemangatkan; kita sudah dianggap sebagai umat Allah yang berada di sorga memuji Dia. Kita juga bersyukur karena tujuan kita adalah kerajaan yang kokoh, tak tergoncangkan. Bersyukur adalah cara beribadah yang berkenan. Dengan bersyukur kita menghormati Allah dan menunjukkan bahwa kita kagum atas semua yang Dia lakukan.
TANGGUNG JAWAB YANG BERAT; Murka Allah sangat mengerikan pemandangan itu, sehingga Musa berkata: "Aku sangat ketakutan dan sangat gemetar."
Tetapi kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah/atau GEREJA/SORGA;
·       anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga
·       Allah, yang menghakimi semua orang,
·       roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna,
·       Tuhan Yesus, Pengantara perjanjian baru”
jangan menolak Dia, yang berfirman atau  berpaling dari Dia yang berbicara dari sorga?
·       Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: "Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga."
·       Artinya akan ada  perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan/kekekalan.
Untuk menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita
·       mengucap syukur
·       dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya,
·       dengan hormat dan takut.
Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.
RAHASIA BESAR ; JIKA KITA MENGHORMATI TUHAN YESUS, AKAN ADA KUASA MUJIZAT YANG TERJADI DALAM HIDUP KITA. CAMKAN ITU.



Khotbah Minggu 08 Maret 2015 Kel. 20: 1-17


I.             Pendahuluan
 Nats ini merupakan sumber Alkitabiah dari Sepuluh Hukum yang diberikan Allah kepada Musa di gunung Sinai, tiga bulan setelah bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir. Hukum ini diberikan kepada bangsa Israel agar bangsa tersebut dapat berkaca dan melihat apakah sikap mereka telah sejalan dengan kehendak Allah. Andaikata hukum tersebut tidak ada maka hidup manusia akan semakin kacau. 'Hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang' (Galatia 3:24). Kita tidak dapat diselamatkan oleh karena melaksanakan Hukum Taurat, melainkan oleh karena imanlah kita dapat diselamatkan. Tetapi karena buah dari iman kepada Allahlah maka kita melaksanakan Hukum Taurat. Hukum yang paling mendasar (basic code) dalam hukum ilahi bangsa Israel adalah ayat 2-17 yang dinamakan dengan berbagai sebutan, antara lain "sepuluh hukum", "sepuluh ucapan", dekalog' dan "sepuluh perintah Allah".
II.           Keterangan:
Ayat Ayat 1-2: Lalu Allah mengucapkan segala Firman ini, yang berarti bahwa Allah mengucapkan sebuah ucapan yang sarat dengan aturan teknis (terminus teknikus) kepada 'ketentuan perjanjian' di Timur Dekat, dan kita dapat membaca pada buku Ulangan: "Dan la memberitahukan kepadamu perjanjian, yang diperintahkanNya kepadamu untuk dilakukan, yakni kesepuluh Firman dan la menuliskannya pada dua loh batu" (Ulangan 4:13), dan dipertegas dengan perkataan 'Akulah Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar', inilah yang merefleksikan struktur perjanjian kerajaan kontemporer. Perjanjian Kerajaan pada awal perjanjian lama sering diawali dengan identifikasi (perkenalan) diri sendiri seorang Raja, melalui prolog historis yang singkat (Bnd Kejadian 15:7). Berdasarkan kepada identifikasi diri sendiri mengenai Allah, serta prolog historis singkat yang menerangkan bahwa Allah sendirilah yang mengeluarkan bangsa Israel, sehingga ditekankan kembali di dalam perintahNya harus dilaksanakan/dilakukan dengan cara melaksanakan perintah Allah (selaku patron/patokan perjanjian kerajaan), sehingga diakui bahwa Allah adalah raja di tengah-tengah bangsa Israel, dan sebagai kesaksian bahwa bangsa Israel adalah bangsa Allah. Selaku bangsa Allah maka setiap orang Israel tanpa terkecuali harus memperlihatkan kepatuhan (obedience) dan penyerahan diri secara penuh kepadaNya, karena Allah telah memberikan kepada mereka kasih karunia dan berkat. Bangsa Israel harus yakin kepada kedaulatan Allah yang akan menemani bangsa Israel secara berkelanjutan (continuing care). Ayat 3-6: "Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku" (You shall have no other gods before me) bertujuan untuk menekankan agar tidak ada lagi 'allah' yang lain (secara nyata atau secara imajinasi) yang akan menjadi tandingan/saingan Tuhan Allah yang penuh dengan kasih karunia di hati dan pikiran bangsa Israel, agar mereka juga tidak mendua hati. Karena pada awalnya agama bangsa Israel telah ditekankan agar 'Monotheisme' (bukan polytheisme). Satu Tuhan, jangan ada lagi tuhan yang lain. Rasul Paulus juga menekankan mengenai kesatuan kepada Allah: "namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari padaNya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup" (I Korintus 8:6). Dan Allah juga memerintahkan untuk tidak membuat patung yang menyerupai apapun yang ada di langit atas, atau yang ada di bumi di bawah atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Seperti yang kita ketahui, Tuhan Allah bukan yang berbentuk 'visible' (dapat dilihat mata), oleh karena itu bangsa Israel menentang setiap patung atau penyembahan yang bertujuan memperlihatkan bentuk Allah dan itu merupakan sebuah dosa. Oleh karena itu, sebuah dosa apabila ada yang menyembah allah lain, serta yang membuat patung penyembahan meniru allah lain (Ulangan 4:19+23-28). Konsekuensi dari hukum ke dua memperlihatkan kepada bangsa Israel bahwa Allah adalah Allah yang pencemburu yang akan membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku. Allah tidak suka memiliki saingan atau menyembah Dia dengan setengah hati, melainkan harus dengan sepenuh hati dan pikiran untuk menyembah Dia. Sebenarnya sikap 'cemburu' dan 'membalaskan' merupakan bagian dari kasih Allah karena: a.  Allah mau meminta ketaatan yang khusus dari manusia yang hanya kepadaNya (Ulangan 4:24) b. Dia akan mengiring semua manusia yang melawan kepadaNya ke dalam penghukuman (1 Raja-raja 14:22) c. Allah selalu setia melindungi bangsaNya (2 Raja-raja 19:31) Siapa yang mengingkari janji Allah dan yang menolak Allah sebagai Raja, berarti membawa hukuman kepada diri sendiri dan kepada seluruh keturunan keluarganya. Kita juga dapat melihat bagaimana Yosua bersama-sama bangsa Israel disuruh Allah untuk menghukum orang Israel yang melawan Allah bersama bangsa Kanani yang berada di sekitar Israel. Biasanya keturunan atau keluarga orang Israel dihitung sampai kepada keturunan ketiga. Ayat 7: Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan. Dalam alkitab bahasa Inggris (NIV) tertulis "misuse the name of the lord" yang berarti salah mempergunakan nama Tuhan dilarang diperintah Allah, misalnya memakai nama Tuhan untuk ingkar janji kepada sesama manusia, berbohong untuk menunjukkan kebenarannya, memakai nama Tuhan untuk mengutuk atau memakai formula magis dengan nama Tuhan. Kita tidak dapat mengendalikan Allah dengan memakai namaNya (Bnd Imamat 19:12;5; Ulangan 5:11; Yeremia 7:9). Dalam Perjanjian Baru saat Yesus berkhotbah di bukit, Kristus juga mengelaborasi mengenai tidak dibenarkannya bersumpah palsu (Matius 5:33-37). Ayat 8-11: Perintah ini khusus untuk menguduskan hari Sabbat, agar enam hari manusia bekerja. Dalam ayat inilah pertama sekali istilah 'Sabbat' muncul sebagai hari perhentian yang harus dikuduskan, walaupun secara prinsipil telah ada dalam proses penciptaan. Dalam Kejadian 2:3 dikatakan "Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah la berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuatNya itu". Walaupun istilah 'Sabbat' tidak dipakai dalam ayat tersebut, tetapi di dalam bahasa Ibrani yang dipakai untuk kata 'berhenti' berasal dari kata benda 'Sabbat'. Keluaran 20:11 ini mengutip setengah dari bagian Kejadian 2:3, tetapi kata 'ketujuh' diganti menjadi 'Sabbat'. Inilah yang menunjukkan bahwa kata 'Sabbat' sama dengan kata 'Hari yang Ketujuh'. Catatan pertama mengenai kewajiban menguduskan hari Sabbat adalah yang dilakukan bangsa Israel saat di padang gurun antara Mesir dan Sinai (Keluaran 16), dan dalam Nehemia 9:13-14 hari Sabbat bukanlah sebuah perjanjian yang bersifat 'obligatoris' sampai kepada penerimaan Hukum Taurat di gunung Sinai. Bangsa Israel disuruh untuk menguduskan hari Sabbat, bukan mau mengatakan bahwa hari ketujuh lebih kudus dari diriNya sendiri. Tetapi kekudusannya karena kehadiran Allah di dalam hari tersebut. Kekudusan Sabbat berarti: memakai hari yang ketujuh sebagai hari khusus untuk memuji Allah. Karena hari ketujuh berbeda dengan hari-hari yang lain (hari-hari kerja), maka Allah memerintahkan untuk tidak melaksanakan pekerjaan apapun pada hari itu karena: a. Allah berhenti pada hari yang ketujuh setelah la selesai menciptakan, oleh karena itu bangsa Israel harus melaksanakan 'kerja - istirahat' yang sama. b.Bangsa Israel haruslah berhenti pada hari Sabbat, dan para pekerja/pesuruh/budak dapat juga berpartisipasi pada hari Sabbat, karena Allah juga telah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir (Ulangan 5:14-15). Sabbat sebagai tanda (sign) akan perjanjian Allah kepada bangsaNya di gunung Sinai (31:12-17). Ayat 12: Hormatilah ayahmu dan ibumu (honor your father and your mother), yang mau dikatakan di ayat ini adalah agar semua orang menghormati ayahnya dan ibunya, seperti yang diperintahkan dalam Imamat 19:3, dan ditekankan kembali "Apabila ada seorang yang mengutuki ayahnya atau ibunya, pastilah ia dihukum mati; ia telah mengutuki ayahnya atau ibunya, maka darahnya tertimpa kepadanya sendiri" (Imamat 20:9). Seperti itulah pentingnya untuk menghormati orangtua di tengah-tengah komunitas bangsa Israel dalam Perjanjian Lama, bahkan sampai dikatakan siapa yang tidak mau mendengarkan pengajaran orang tuanya, maka dia akan ditangkap oleh ayahnya dan ibunya serta membawanya kehadapan para pemuka agama serta kepada tetua kampung. Dan semua laki-laki akan melempari dia dengan batu sampai mati (Ulangan 21:18-21). Namun dalam Perjanjian Baru tidaklah seperti itu beratnya hukuman secara fisik, tetapi Rasul Paulus mengatakan "Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian" (Efesus 6:1). Ada sebuah janji di dalam perintah Allah ini yaitu supaya lanjut umurmu di tanah yang berikan Tuhan Allah kepada bangsa Israel. Janji ini diekspresikan ketika bangsa Israel meneruskan perjalanan dari Sinai menuju ke tanah Kanaan melewati sisa perjalanan mereka di padang gurun. Ayat 13-17: Dalam ayat ini, diuraikan kembali panggilan agar tidak membunuh, berzinah, mencuri, bersaksi dusta, dan mengingini rumah sesama. Agar bangsa Israel tidak membunuh apabila tidak ada alasan yang kuat untuk melakukannya (bnd Matius 5:21-26). Dikatakan disini jangan berzinah, merupakan dosa kepada Allah dan kepada hubungan rumah tangga (Matius 5:27-30). Jangan mencuri, maksudnya adalah agar didalam kerendahan hatiiah orang memakai apa yang diberikan Allah kepadanya, jangan memakan yang bukan bagian kita. Dikatakan juga jangan bersaksi dusta, berarti mengajari manusia untuk selalu mengatakan yang benar. Jangan mengingini rumah sesamamu, agar tidak ada didalam hati seseorang sebuah motivasi yang jahat untuk merampas sesuatu yang diinginkannya (Matius 15:19). Melanggar perintah Allah di dalam hati juga sama dengan melawan secara fisik (Matius 5:21-30).
III.         Aplikasi Khotbah/ Bahan Renungan 1.Yang harus kita mengerti dan kita renungkan dari khotbah Evangelium ini adalah masalah ketaatan kepada Allah yang penuh dengan kasih karunia. Jangan sampai mendua hati untuk menyembah kepadaNya, jangan ada dari kita warga jemaat yang masih mau menyembah arwah-arwah dari nenek moyang kita yang telah meninggal, demikian juga jangan lagi ada yang menjadi hamba uang. Saat ini banyak orang menjadi penyembah harta, seakan-akan harta adalah segala-galanya di dalam kehidupannya. Inilah yang menjadi tugas kita untuk memberitakan firman Tuhan kepada orang yang telah mendua hatinya, agar imannya menjadi murni kembali.Jangan ada lagi dari warga jemaat yang mengatakan "Orang tua adalah Allah yang terlihat". Pandangan tersebut sama sekali tidak mempunyai dasar dari firman Tuhan. Tidak mungkin orang tua selaku manusia digambarkan sebagai Allah yang terlihat di dunia ini, karena hakekat manusia dan hakekat Allah adalah berbeda. Kita hanya disuruh untuk menghormati orang tua kita! 2.Jangan sampai kita menganggap orang tua adalah Allah yang terlihat. Apabila kita menghormati orang tua pada masa-masa hidupnya maka umur kita akan panjang di dunia ini, tetapi kata 'panjang/lama' disini bukanlah secara kronologis tetapi juga secara ontologis. 3. Allah mengajari kita untuk memakai waktu istirahat pada hari 'Sabbat' (Setelah di / Perjanjian Baru menjadi hari minggu, karena pada Minggu subuh hari kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian). Kita pakailah hari minggu sebagai hari istirahat dari berbagai pekerjaan, fokuslah kita pada hari minggu untuk memuji Tuhan. Aktifitas di hari minggu pun haruslah berkaitan dengan memuji dan memuliakan Tuhan, misalnya: Ibadah di gereja, memberikan penguatan dan penghiburan. 4. Janganlah kita iri dan dendam kepada sesama manusia, karena iri dan dendam sama dengan yang membunuh. Dan janganlah kita berzinah serta berbohong/bersaksi dusta serta mencuri. Mari kita manfaatkan waktu yang diberikan Tuhan Allah kepada kita untuk mencari dan melaksanakan yang sesuai dengan kehendak Allah. Mari kita jauhkan sifat rakus dan sikap yang hedonis yang hanya mencari kenikmatan dunawi. Amin 




Senin, 02 Februari 2015

Khotbah Minggu 01 Februari 2015. Markus 1: 21-28 Thema: “Tuhan Mengajar dan Mengusir Roh Jahat”


Setelah memanggil murid-muridnya yang pertama Yesus mengawali kegiatannya di Kapernaum dengan mengajar di sebuah tempat ibadat. Orang-orang takjub mendengar pengajarannya. Pada kesempatan itu juga ia mengeluarkan roh jahat dari orang yang kerasukan. Orang banyak mulai bertanya-tanya apa sebenarnya yang sedang terjadi. Dan sejak itu tersiarlah berita tentang dia di seluruh wilayah Galilea.
 MENGGUGAH PERHATIAN
Markus kerap menceritakan pelbagai reaksi orang ketika mendengar pengajaran Yesus tanpa menuliskan apa yang diajarkannya. Ia memang ingin menunjukkan bagaimana Yesus dipandang sebagai guru yang membuat pikiran orang terbuka. Para pendengarnya sudah cukup tahu ajaran-ajaran agama. Yang mereka butuhkan ialah rasa mantap. Pengajaran pokok Yesus sebenarnya sudah ditampilkan Markus dalam Mrk 1:15, yakni bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Dan inilah yang diajarkannya hari itu di sinagoga di Kapernaum. Jadi yang dikatakan orang-orang nanti pada akhir petikan hari ini sebagai “ajaran baru” ialah pewartaan mengenai sudah datangnya Kerajaan Allah tadi. Dan ujud nyata kerajaan ini ialah mulai tersingkirnya kuasa-kuasa jahat.
Kita akan tertarik pada kisah mengenai orang yang kerasukan setan di sinagoga tempat Yesus mengajar hari itu. Markus memang hendak menekankan hubungan antara kegiatan mengajar Yesus dengan pengusiran roh jahat. Bisa ditengok Mrk 1:39 tentang Yesus memberitakan Injil di rumah-rumah ibadat di Galilea dan mengusir setan-setan.; juga 3:14 tentang dua belas rasul yang ditetapkannya ditugasinya memberitakan Injil dan diberi kuasa mengusir setan; menurut 6:12 mereka pun berbuat demikian. Orang dari zaman itu, juga dari zaman kita sekarang, akan lebih tertarik pada pengusiran roh jahat. Memang Yesus kerap mengusir roh jahat dan menyembuhkan penyakit yang tak bisa ditangani tabib. Tapi sebenarnya Yesus hadir di tengah masyarakat terutama untuk mewartakan hadirnya Kerajaan Allah. Pengusiran roh dan penyembuhan ajaib adalah kelanjutan dari benarnya warta itu, bukan sebaliknya.
Begitulah pada hari itu, di sebuah tempat ibadat, ia mulai mewartakan Kerajaan Allah. Orang-orang datang untuk menjalankan ibadat Sabat dan mendengarkan bacaan dari Taurat dan Para Nabi beserta penjelasannya. Setelah itu mereka juga berbincang-bincang mengenai macam-macam hal. Itulah latar peristiwa yang dikisahkan Injil hari ini. Markus mencatat bagaimana orang-orang takjub mendengar Yesus. Hati mereka tersentuh. Ia dapat menyalurkan kekuatan batin kepada pendengarnya dengan kata-kata pengajarannya.
BAGI ORANG YANG KERASUKAN
Hari itu juga ikut datang orang yang kerasukan. Orang dulu percaya bahwa ada roh baik, yakni yang berasal dari Allah, ada roh yang jahat, yang memisahkan diri dari sumbernya, yakni Allah, dan melawannya. Bila kita bahasakan secara sederhana, roh jahat itu kekuatan-kekuatan yang “ndak bener”, yang tidak murni, ada sisi-sisi kotornya, tidak bersih. Yang dilakukannya menimbulkan banyak perkara yang ndak bener tadi. Jadi roh jahat ialah kekuatan-kekuatan yang tak teratur. Tapi tetap kuat dan susah dihadapi dan sering membingungkan. Ia mengacaukan tatanan, membuat orang kehilangan pegangan sampai berputar-putar tanpa arah dan menjauh dari tatanan yang diadakan oleh roh baik. Pada zaman Yesus dulu, penyakit aneh-aneh yang tak dapat ditangani tabib sering dipandang sebagai akibat kerasukan. Orang yang demikian ini biasanya disendirikan. Kalau di Jawa dulu dipasung. Mereka tidak dibiarkan mengikuti macam-macam kegiatan di masyarakat, termasuk datang ke tempat ibadat. Kita akan bertanya, lho orang yang kerasukan kali ini kok ada di sinagoga. Tidak biasa. Bisa jadi memang belum diketahui bahwa orang tadi kerasukan. Ia boleh jadi termasuk orang baik-baik di Kapernaum. Mungkin ia sudah sedikit aneh, rada mejenun, tapi masih bisa ditolerir.
Orang tadi – yang belum diketahui bahwa kerasukan – ikut datang mendengarkan warta Yesus. Tentunya warta Kerajaan Allah sudah dekat, bertobatlah, dan percayalah kepada Injil seperti tertulis dalam Mrk 1:15. Apa yang terjadi? Roh jahat yang bersembunyi di dalam diri orang tadi tak tahan mendengar semua itu. Ia berteriak, memakai mulut orang yang malang itu. Tak tahan berada di dekat kehadiran dia yang membawakan keilahian. Kini ada pembicaraan antara roh jahat dan Yesus. Boleh dicatat, bagi Yesus berhadapan dengan roh jahat bukan barang baru. Beberapa waktu sebelumnya, selama 40 hari, ia disertai roh baik dan malaikat berada bersama dengan macam-macam kekuatan gelap dan mengenali gerak gerik mereka (Mrk 1:12-13).
Roh jahat itu meneriakkan tiga kalimat keras. Yang pertama bernada umpatan, “Apa urusanmu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret!”. Ia merasa terganggu oleh kehadiran Yesus. Merasa dirusuhi. Marah. Kenapa tidak ngurus daganganmu sendiri, begitu jalan pikirannya. Ia mengira Yesus sama seperti dia, mencari pengaruh, memasarkan komoditi perkara batin dan kekuatan-kekuatan supernatural. Yang kedua, roh jahat mulai merasa terancam, “Apakah engkau datang untuk membinasakan kami?” Akhirnya ia malah menggertak bahwa ia kenal siapa dia, yakni “Yang Kudus dari Allah.” Mengatakan aku kenal siapa kamu kerap bisa membuat orang jadi rada “groggy”. Ada hal-hal yang disembunyikan yang diketahui! Tapi benar juga bahwa kekuatan jahat betul-betul mengenal apa dan siapa yang ada di situ. Ada wilayah suci yang tak memungkinkan roh jahat bergerak. Dan wilayah itu ada pada “orang dari Nazaret” ini. Keunggulannya jelas dirasakan. Itulah yang disaksikan orang-orang waktu itu dan diberitakan kepada kita sekarang. Mereka makin bertanya-tanya, lalu siapa sebetulnya dia yang diakui kewibawaannya bahkan oleh kawanan roh jahat yang memakai kata “kami” itu. Jadi roh-roh seperti itu merasa terancam dan gentar di hadapan orang Nazaret yang sedemikian dekat dengan Allah yang Mahasuci.
Yesus menghardik  dan  menyuruh  Roh  itu  diam. Kerasukan  kerap  berujud  sebagai  pergi  datangnya  suara-suara yang tak keruan, yang mengacaukan dan menakutkan. Kata-kata roh kepada Yesus itu kedengarannya biasa saja, tapi sebenarnya amat mengacaukan.  Suara-suara itu mau membuat Yesus pergi tanpa mencampuri urusan ini. Mereka mau agar ia tidak menanggung risiko dicurigai berkawan dengan kaum roh seperti itu. Juga diteriakkan apa ia mau menghabisi. Yesus tidak membinasakan roh jahat. Tindakan ini bukan urusannya. Itu urusan Allah Yang Maha Kuasa. Yesus mengeluarkan roh dari dalam diri orang yang kerasukan yang mau mendekat kepadanya. Bahkan boleh dikatakan, roh yang menjahati itu masih diberi kesempatan untuk tidak menjahati lagi dan menemukan kembali asalnya yang sejati.
Sebelum dikeluarkan, roh tadi masih berusaha membingungkan Yesus dan mungkin orang-orang lain dengan gelar “Yang Kudus dari Allah”. Ia mau membuat Yesus mulai takabur, merasa besar, dan mulai merasa diri sama dengan Yang Maha Kuasa sendiri. Tadi roh jahat sudah berteriak apa Yesus itu mau “membinasakan kami” – hal yang hanya bisa dilakukan Allah Maha Kuasa sendiri. Maklum gelar “Yang Kudus” itu dalam kesadaran orang dulu dikenakan kepada Allah sendiri, lihat Yes 40:25 dan 57:15, atau kepada imam Harun yang dipilih Allah untuk berkurban bagi umat seperti Mzm 106:16, atau kepada nabi besar Elisya dalam 2Raj 4:9. Yesus hendak dibuat merasa seperti orang-orang besar itu, bahkan seperti Allah sendiri! Karena itulah Yesus menyuruh roh tadi diam. Lihat betapa pintarnya roh jahat. Mengakui kalah tapi sekaligus mau menanamkan benih ketakaburan yang bakal menjatuhkannya! Tetapi Yesus tetap pada jalannya: ia menyuruh roh itu keluar dari diri orang malang tadi.
APA INI?
Reaksi orang-orang dicatat Markus dalam 1:27. Terjemahan LAI berbunyi, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh ….”. Memang teks aslinya digemakan. Tetapi naskah-naskah tua tidak memakai tanda baca sehingga dapat pula dimengerti dan diterjemahkan sebagai berikut: “Apa ini? Suatu ajaran baru! Disertai dengan kuasa ia memberi perintah kepada roh-roh…” Apa yang hendak dijelaskan Markus dengan ungkapan “disertai dengan kuasa” itu? Ajarannya yang didengar orang banyak atau perintahnya kepada roh-roh? Kedua terjemahan tadi sama cocoknya dengan teks asli. Bila demikian, kiranya Markus hendak menyampaikan bahwa ajaran Yesus dan tindakan mengeluarkan roh jahat berhubungan erat satu sama lain. Kedua-duanya “disertai dengan kuasa”. Bacaan ganda ini juga termasuk makna teksnya.
Injil Markus mengajak kita mendekat kepada pribadi Yesus. Bukan kepada sekumpulan ajaran belaka. Keterpukauan orang-orang yang mengenal Yesus itu disampaikan kepada kita supaya kita berani datang mendekat dan mendengarkannya. Markus juga hendak membuat kita melihat bahwa dalam memberi pengajaran, Yesus juga menyingkirkan pengaruh roh jahat yang mengancam kita. Inilah kebesarannya. Inilah kuasanya. Dan kita diajak mendekat padanya. Amen


Senin, 26 Januari 2015

Khotbah Awal Tahun Komp. Cikarang
Thema: Jgn lah hendaknya kamu Kuatir Fil 4:6;
 Bersukacita di dalam Tuhan Fil 4:4

FILIPI 4:4 “ Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan:Bersukacitalah!
Rasul Paulus mengingatkan kita agar senantiasa Bersukacita dalam Tuhan, bahkan diulang dua kali Apa bedanya sukacita didalam Tuhan dan sukacita yang dunia berikan?
Kalau Sukacita dunia hanya sementara, tetapi sukacita yang dari Tuhan itu bersifat Kekal Sukacita kita bukan di dasari uang, pangkat, harta kemewahan karena kalau kita bersukacita karena hal-hal yang bersifat materi, kita akan sangat kecewa.
Sukacita merupakan hal yang penting untuk membangun karakter yang kuat dan tangguh.
Sukacita juga adalah salah satu cara pola hidup sehat karena” Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”( Amsal 17:22) orang yang mempunyai hati yang gembira pasti ada sukacita dan orang yang bersukacita pasti mempunyai semangat hidup.
Tuhan Yesus berkata didalam Yohanes 15:11 “Semuanya itu kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh” Bagaimana caranya supaya kita selalu hidup penuh dengan sukacita?
1.Ingatlah akan masa lalu yang baik. (Mazmur 143:5, Ratapan 3:20, Amsal 10:7).
Mengingat dan merenungkan kembali kebaikan Tuhan akan menolong kita mengatasi pikiran dan perasaan buruk yang membuat kita kehilangan sukacita. 
Mengingat kebaikan orang-orang yang pernah menolong kita akan mendatangkan berkat dan sukacita tetapi sebaliknya kalau kita mengingat hal-hal yang buruk yang menimpa kita akan membuat kita sakit hati,kecewa susah ,sedih dan tertekan sehingga kita akan kehilangan sukacita oleh sebab itu pikirkanlah hal-hal yang positif (Filipi 4:8).

2.Tetap memuji Tuhan dan menyembah Tuhan di tengah-tengah masalah (Yesaya 61:3c) Nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar, jadi cara kita kita menganti perkabungan dengan sukacita adalah dengan memuji Tuhan.
Saya percaya disaat kita memuji dan menyembah Tuhan dengan sungguh-sungguh maka Allah akan bertahta diatas pujian kita dan Dia akan datang melawat kita dan membebaskan kita Contoh Paulus dan Silas saat di penjara (Kis. 16:25-26).
Mungking saat ini ada di antara saudara merasakan seperti dalam penjara misalnya di penjara dengan sakit-penyakit, dipenjara dengan kegagalan, dipenjara dengan kesulitan-kesulitan ekonomi atau saudara sedang mengalami keadaan yang paling buruk tetaplah memuji dan menyembah Tuhan maka Allah akan datang menolong dan memberikan kebebasan sehingga hidup saudara dipenuhi dengan sukacita dari Sorga.
Pujian dan sorak-sorai dapat meruntuhkan tembok Yerikho, apapun yang menjadi tembok atau penghalang bagi kita untuk maju Allah sanggup meruntuhkannya.
Pujian membawa mujizat terjadi dan hati kita terhibur, tetaplah memuji Tuhan apapun yang terjadi di dalam kehidupan ini.

3.Mintalah pertolongan Tuhan (Mazmur 143:7)
Raja Daud meminta pertongan Tuhan saat menghadapi masalah yang berat. Dalam menghadapi masalah, seringkali kita lebih dulu mencari pertongan manusia, bahkan ada yang sering pergi ke paranormal, dukung dan hasilnya hanya kekecewaaan dan masalah yang makin berat.
Pertolongan dari manusia terbatas tetapi pertolongan dari Tuhan tidak terbatas.
Kadangkala ketika kita meminta pertolongan manusia 1x dia tolong kita, 2x dia masih tolong kita tetapi 3x dia bukan tolong tapi dia todong kita.
Tuhan Yesus berkata dalam Matius 11:28 Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan member kelegaan kepadamu.
Yesus menyuruh agar kita datang menghampiriNya , responilah undangan Yesus .
Yesus sanggup memberi kekuatan dan pertolongan kepada kita yang letih lesu dan berbeban berat.
Tuhan Yesus tidak sekedar mengundang untuk siapa saja yang datang padaNya, melainkan Ia akan memberi kelegaan, memulihkan setiap persoalan kita oleh sebab itu
terimalah kelegaan yang Yesus berikan.
Di bawah kaki Yesus segala beban hidup kita pasti terlepas dan Dia sanggup menganti dukacita menjadi sukacita, air mata jadi mata air, tidak ada yang Mustahil bagiNya dan bagi orang yang percaya.

4. Tetaplah mengucap syukur dalam segala hal (1 Tes. 5:18)
Dalam segala keadaan dan situasi , susah maupun senang, kita harus tetap mengucap syukur. 
Keputusasaan, kegagalan jangan membuat kita bersungut-sungut karena persungutan tidak menyelesaikan masalah, malah menambah masalah dan beban kita bertambah berat , mengucap syukurlah senantiasa. Walaupun ditahun ini mungkin banyak kita mengalami tantangan dan pencobaan tetapi janganlah itu menjadi penghalang bagi kita untuk mengucap syukur kepada Tuhan.
Ucapan syukur akan menyenangkan hati Tuhan, dan membuat hidup kita penuh dengan sukacita.
Ucapan syukur adalah obat kekurangan kita (Yohanes 6:11)
Ucapan syukur membuat kita mengalami kuasa kebangkitan (Yohanes 11:41)
Ucapan syukur adalah kunci kemenangan kita.
Ucapan syukur membuat berkat yang lebih cepat lebih baik. 
“SEMAKIN KITA BERSYUKUR, SEMAKIN BESARLAH KEKUATAN KITA UNTUK MEMPEROLEH BERKAT”
Bersyukurlah dan bersukacitalah senantiasa, walaupun beban dan penderitaan terasa berat. 

5. Lakukanlah hal-hal yang baik (Galatia 6:9-10) 
Apa yang kita tabur itulah yang kita tuai nanti.
Jika kita menabur kejahatan kita akan menuai kejahatan tetapi sebaliknya jika kita menabur kebaikan kita akan menuai kebaikan juga. Orang yang menabur kebaikan hidupnya pasti dipenuhi dengan sukacita.
Yesus selalu memberikan teladan kasih dan kebaikan bagi UmatNya.
Sebab itu , dimana pun kita berada, kita harus jadi berkat buat orang lain. Bagaimana kehidupan kita mencerminkan Kristus, jika kasih Yesus tidak ada dalam diri kita? 
Bagaimana orang dapat meneladani sikap dan cara hidup kita, jika permusuhan dan dendam mewarnai hati kita?
Firman Tuhan hari ini dengan tegas mengatakan bahwa kita harus selalu berbuat baik dengan siapa pun.
Jangan jadikan sikap berbuat baik itu sebagai paksaan tetapi kita harus selalu memberi dengan sukacita .
Sebagai orang percaya kita harus memiliki Kasih Kristus, hidup dalam damai dan memancarkan kebaikan bagi setiap orang.
Janganlah bosan berbuat baik dan biarlah di sepanjang hari ini, kita selalu memberikan kedamaian serta memancarkan kebaikan bagi sesama kita agar namaTuhan dipermuliakan.
Maju terus dalam Tuhan dan jadikanlah sukacita itu menjadi gaya hidup kita, Tuhan Yesus Memberkati.

“S E N Y U M” 
Sekali senyum curiga hilang 
Duakali senyum jadi sahabat 
Tigakali senyum hati penuh damai 
Empatkali senyum beban jadi ringan 
Limakali senyum rejeki datang 
Enamkali senyum gigi jadi kering 

" T E R T A W A "
Sekali tertawa pusing kepala hilang
Dua kali tertawa bencipun sirna
Tigakali tertawa persoalan lari 
Empatkali tertawa penyakit sembuh
Limakali tertawa jadi awet muda
Enamkali tertawa hati penuh sukacita 
Tetapi awas, jangan senyum-senyum dan tertawa sendirian, nanti dikira orang gila.
Ayat penutup: Mazmur 37:4  dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan
 kepadamu apa yang diinginkan hatimu .  


Khotbah Minggu 18 Januari 2015 Dipanggil Untuk Mengikut Yesus I Sam. 3:1-10; Mzm. 139:1-6, 13-18; I Kor. 6:12-20; Yoh. 1:43-51


Pengantar
Motivasi seseorang untuk dibaptis dan mengaku percaya kepada Kristus pada prinsipnya memiliki alasan dan latar-belakang yang berbeda-beda. Namun satu hal yang sangat mendasar dan dapat dipertanggungjawabkan secara teologis dari berbagai motivasi tersebut  apabila baptisan dan sidi dilakukan karena kesadaran akan panggilan Kristus. Memang benar, menjadi umat percaya sesungguhnya karena panggilan Kristus. Kita mengikut Kristus bukan semata-mata karena keinginan atau cita-cita manusiawi diri sendiri.
Pada tataran iman disadari bahwa Kristus memanggil dia walaupun sesungguhnya dia semula enggan untuk meresponNya. Namun panggilan Kristus tersebut begitu kuat, menyentuh hati dan membuka suatu kesadaran rohaninya. Saat itulah kita mengalami  pencerahan berupa “spiritual awareness” (kesadaran rohani).  Sehingga akhirnya kita bersedia mengikut Kristus dengan segala konsekuensinya. Namun sayang sekali kesadaran rohani tersebut sering tertutup dan terhambat. Karena orang-tua telah beragama Kristen, maka anak-anak mereka sering dipaksa untuk mengikuti katekesasi dan mengaku percaya. Seharusnya anak-anak kita dibimbing untuk mengenali iman Kristen dari lubuk hatinya yang paling dalam. Mereka perlu dibimbing dengan penuh kasih untuk mengenal Kristus secara pribadi dan bukan sekedar diajar mengenal seperangkat ajaran atau doktrin Kristen. Sehingga pada waktu yang tepat, mereka dengan kesadaran rohani yang cukup matang dapat merespon panggilan dari Kristus. Jadi tanpa kesadaran rohani yang dihayati sebagai panggilan Kristus, seseorang tidak akan berani menanggung segala konsekuensi untuk mengikut Kristus. Dia hanya dapat secara formal menjadi anggota jemaat, tetapi sesungguhnya dia tidak dapat mengikut Kristus. Bukankah sangat menyedihkan jikalau mayoritas anggota jemaat kita ternyata hanya menghayati kekristenan sebagai keanggotaan organisasi gereja, tetapi mereka tidak mengikuti panggilan Kristus secara pribadi? Jadi betapa bermaknanya kata sebuah “panggilan” dalam kehidupan kita. Tanpa dilandasi oleh dimensi spiritual “panggilan”, maka sesungguhnya kehidupan kita hanya berada di level rohani yang sangat dangkal. Tepatnya kehidupan kita sebatas hadir di tingkat permukaan saja!
                Sebaliknya semakin kita mau membuka diri untuk menerima panggilan yang ilahi yaitu Kristus, maka kehidupan kita akan terus-menerus bergerak ke arah “kedalaman” (in depth). Kita dapat menemukan makna hidup yang otentik.  Orientasi hidup kita tidak lagi terarah kepada hal-hal yang sifatnya fisik, ekonomis dan menguntungkan secara duniawi. Sebab mata batin kita makin terbuka untuk mengalami “spiritual awareness” (kesadaran rohani) yang mendorong kita untuk melakukan karya Allah. Kesadaran rohani tersebut bukan sekedar suatu dorongan dari perasaan religiusitas, tetapi suatu dorongan untuk melakukan tindakan yang diyakini dikehendaki oleh Allah; yaitu panggilan hidup yang diyakini sungguh suci. Itu sebabnya makna “panggilan” yang tepat bukan diterjemahkan dengan istilah “calling”. Seharusnya panggilan hidup lebih tepat diterjemahkan sebagai “vocation”, yang sebenarnya berasal dari perkataan “vocare” dari bahasa Latin yang artinya: “suara yang memanggil”. Dalam Longman Dictionary of Contemporary English, pengertian “vocation” diterjemahkan dengan: 1). A job which one does because one thinks one has a special fitness or ability to give service to other people, 2). A special call from, or choosing by, God for the religious life.  Namun sayangnya pengertian “vocation” dalam sehari-hari sering dipersempit sekedar untuk menunjuk suatu lapangan pekerjaan yang sifatnya khusus, misal pekerjaan di bidang apoteker, dokter, desain interior, pengacara, hakim, pendeta, pedagang, musikus, dan sebagainya.  Padahal di balik pekerjaan yang bersifat khusus tersebut sesungguhnya terkandung makna sebuah “panggilan dari Allah”.  Tepatnya karena kita tersentuh dan terdorong karena panggilan dari yang Ilahi, maka kita bersedia untuk melakukannya dengan tekun, rajin dan setia bahkan rela menanggung segala risikonya. Jadi karena dihayati sebagai panggilan dari Kristus, maka kita akan rela untuk mempertaruhkan nyawa demi sesuatu yang suci yaitu karya keselamatan Allah. Itu sebabnya seorang yang “terpanggil” untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu akan bersedia melakukannya dengan segenap hati. Dia tidak pernah memperhitungkan untung dan rugi dalam melaksanakan suatu pekerjaan, atau parameter yang sifatnya ekonomis dan materialistis.
Peka Dan Sigap Merespon
Kepribadian seorang pemimpin umumnya terbentuk oleh proses waktu dan pengalaman. Pernyataan tersebut tidaklah keliru. Tetapi kepribadian atau karakter seorang pemimpin juga terlihat sejak awal sebagai benih-benih potensi rohani yang kelak dapat mendukung proses pembentukannya. Di kitab I Sam. 3 mengisahkan pemanggilan Allah kepada Samuel yang masih  belia. Saat Samuel tidur, Allah memanggil namanya: “Samuel, Samuel!”. Dengan sigap Samuel segera berlari ke arah imam Eli karena dia menyangka dipanggil oleh imam Eli.  Tetapi imam Eli menjawab bahwa dia tidak memanggil Samuel. Sampai 3 kali Allah mengulang panggilanNya kepada Samuel, dan 3 kali pula Samuel selalu sigap memberi respon dengan datang dan bertanya kepada imam Eli walau telah dijawab bahwa imam Eli tidak memanggil dirinya. Barulah imam Eli mengetahui bahwa Allah yang memanggil Samuel, karena itu dia memberitahu Samuel, apabila Allah memanggil namanya kembali, dia harus memberi jawab: “Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar" (I Sam. 3:9).  Sikap Samuel yang selalu sigap memberi respon dengan bertanya kepada imam Eli, “Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?" (I Sam. 3:5,6) menunjukkan Samuel seorang yang memiliki kepekaan diri yang sangat tinggi. Walau dia dalam keadaan tertidur lelap, dia tetap peka dengan suara yang memanggil dirinya. Bandingkan saat kita tertidur pulas, umumnya kita tidak lagi mampu mendengar suara orang yang memanggil dan menggerak-gerakkan tubuh kita.  Samuel bukan sekedar peka dan terbangun dari tidurnya, tetapi kepekaan diri tersebut senantiasa diikuti dengan sikap yang sigap bertindak agar tidak ada tugas yang terlalai.  Jelas sekali Samuel tidak membuat “tafsiran” sendiri dengan hanya membuat perkiraan subyektif, tetapi dia lebih memilih segera bertanya kepada imam Eli kebenarannya. Jadi dalam peristiwa ini telah terlihat bakat Samuel untuk menjadi seorang pendengar yang baik dan taat, sehingga sepanjang hidupnya Samuel  terbukti selalu belajar mendengar suara dan kehendak Allah untuk dilakukannya dengan setia.
                Panggilan Allah sesungguhnya juga terjadi dalam setiap kehidupan kita. Tetapi belum tentu kita memiliki sikap yang peka dan sigap seperti Samuel. Mungkin berulangkali Allah memanggil kita, namun kita sering lebih memilih tidak peduli dan mengeraskan hati. Kita sering lebih disibukkan dengan berbagai pikiran dan perasaan kita dari pada kesediaan diri untuk selalu mau terbuka dan peka dengan panggilan Allah. Itu sebabnya yang paling dominan dan berpengaruh dalamseluruh langkah kehidupan kita adalah pendapat, pikiran dan kemauan kita sendiri. Tetapi kehendak dan rencana Allah sering terabaikan. Atau yang kerap terjadi adalah sepertinya kita melakukan kehendak dan rencana Allah, tetapi intinya kita sedang memaksakan kehendak dan kemauan kita sendiri.  Kita sering menyebut-nyebut sedang melakukan kehendak dan rencana Allah, tetapi semua ungkapan tersebut kita pakai hanya untuk membenarkan diri kita sendiri. Kita sering cukup lihai dan taktis untuk mempermanis sesuatu yang sebenarnya sarat dengan berbagai ambisi dan kepentingan diri. Bukankah lebih indah apabila kita menyebut “mempermuliakan Allah” padahal sebenarnya kita sedang mempermuliakan diri sendiri. Sangatlah saleh saat kita menyebut sedang melakukan “pelayanan”, padahal kita sedang getol memperbesar ambisi-ambisi diri yang terselubung. Lebih mengesankan saat kita menyatakan kepada orang banyak bahwa hidup ini kita “persembahkan” kepada Kristus padahal sebenarnya kita sedang memanipulasi nama Kristus untuk menutupi berbagai kepentingan diri yang egoistis. Semua sikap tersebut terjadi karena kita kurang peka, tidak mau mendengar dan melakukan panggilan Allah. Tepatnya kesadaran rohani (spiritual awareness) kita kurang berfungsi sebagaimana seharusnya.  Sehingga walaupun Allah telah memanggil kita berulang-ulang, kita selalu mengabaikan suaraNya sampai akhirnya ajal menjemput kita. Akibatnya selama hidup kita belum pernah melakukan apa yang menjadi kehendak dan rencana Allah. Betapa vital dan berharganya makna kepekaan hati-nurani dan iman, karena tanpa kepekaan hati-nurani dan iman kita akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh keselamatan dan membagikan keselamatan kepada orang-orang di sekitar kita. 
Sikap Etis Menyadari Kehadiran Tuhan
Bagi umat percaya kita mengimani kehadiran Allah yang tak terbatas dan senantiasa melingkupi segala sesuatu. Allah adalah maha-hadir (omnipresent), sekaligus Dia adalah Allah yang maha-tahu (omniscient).  Keyakinan iman itulah juga yang dialami oleh pemazmur di Mzm. 139. Dia berkata: “Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN” (Mzm. 139:2-4). Allah yang maha-hadir pada hakikatnya berada di semua tempat baik yang sifatnya fisik maupun non-fisik (mental), sehingga Dia selalu mengetahui segala jalan dan isi pikiran kita. Allah yang maha-tahu telah mengetahui terlebih dahulu apa yang akan kita katakana atau ucapkan. Itu sebabnya di hadapan Allah tidak ada yang tertutup dan tersembunyi. Seluruh aspek kehidupan kita terbuka secara jelas dan transparan di hadapanNya. Karena itu manusia tidak mungkin dapat lari dan bersembunyi dari  hadapan Allah.  Namun dalam realita hidup sehari-hari  kita sering mencoba berdusta dan menyembunyikan segala kesalahan dan dosa kita di hadapanNya. Tepatnya manusia memiliki kecenderungan untuk membangun “benteng” diri setinggi mungkin agar dosa-dosanya terlindung dan tidak diketahui oleh siapapun termasuk Allah. Kita sering  tanpa sadar mencoba untuk mendustai Allah dengan menganggap Dia tidak “maha-tahu”. Tetapi tidaklah demikian sikap pemazmur. Itu sebabnya di Mzm. 139:2, dia berkata: “TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku”. Pemazmur justru mohon agar Allah berkenan untuk menyelidiki dan mengenal dirinya yang paling dalam. Dia menempatkan kemaha-tahuan Allah pada tempat yang seharusnya, dengan tujuan etis yaitu  agar Allah menerobos dan menguduskan seluruh kegelapan dosa yang terdapat  di dalam dirinya. Bukankah sikap pemazmur tersebut mencerminkan sikap kerendahan-hati seorang yang beriman? Dia tidak mencoba untuk menutup-nutupi dosanya, tetapi justru membuka dan menyingkapkan diri apa adanya. Sikap spiritualitas pemazmur tersebut justru akan membawa dia kepada kesadaran rohani (spiritual awareness) yang semakin jernih dan mendalam. Dia makin dimampukan untuk lebih peka terhadap seluruh keberadaannya di hadapan Tuhan. Jadi sikap pemazmur tersebut makin menunjukkan bahwa dia seorang yang peka secara etis akan makna kehadiran Allah yang maha-tahu dan maha-hadir dalam kehidupan ini.
                Kebanyakan kita selaku anggota jemaat juga mampu mengamini kemaha-hadiran dan kemaha-tahuan Allah. Namun seringkali keyakinan tersebut sekedar suatu kepercayaan doktrinal belaka, sebab gagal  kita wujudkan dalam tindakan etis-moril. Kita percaya Allah adalah maha-tahu dan maha-hadir, tetapi sering kehidupan kita tetap duniawi.  Keyakinan akan kemaha-tahuan dan kemaha-hadiran Allah tersebut ternyata sering tidak disertai oleh rasa takut akan Allah, sehingga hidup  kita tetap mengikuti keinginan daging dan hawa-nafsu duniawi. Di I Kor. 6 rasul Paulus menjumpai bahwa beberapa anggota jemaat ternyata tetap hidup dalam percabulan dan perzinahan. Sebagai anggota jemaat, mereka tentunya orang-orang yang percaya akan kemaha-tahuan dan kemaha-hadiran Allah; tetapi ternyata mereka tidak berusaha menjauh dari dosa seksual tersebut. Mereka lebih memilih untuk mengikuti kebiasaan orang-orang Korintus yang pada waktu itu menganggap hubungan seks secara bebas merupakan hal yang biasa.  Sehingga mereka juga melupakan satu aspek teologis yang sangat mendasar bahwa Kristus telah menebus dosa-dosa mereka dengan harga yang lunas di atas kayu salib. Mereka tampaknya hanya disadarkan akan kemaha-tahuan dan kemaha-hadiran Allah secara umum, tetapi mereka mengabaikan kehadiran Allah yang khusus dan sungguh-sungguh nyata di dalam Kristus yang telah menyelamatkan diri mereka dari kuasa dosa. Tepatnya karya keselamatan Allah di dalam penebusan Kristus tidak dihargai oleh  beberapa jemaat Korintus secara etis-moril.  Padahal di dalam iman kepada Kristus, tubuh mereka kini bukanlah milik mereka sendiri tetapi milik Allah. Sebab karya keselamatan Allah di dalam Kristus telah berkenan menjadikan tubuh mereka sebagai Bait Roh Kudus (I Kor. 6:19). Bukankah sikap anggota jemaat Korintus tersebut menunjukkan ketidakpekaan mereka terhadap makna “kebertubuhan” dirinya sebagai tempat atau bait dari Roh Kudus? Sikap ketidakpekaan anggota jemaat Korintus tersebut juga menyiratkan bahwa mereka telah gagal mengintegrasikan secara etis makna keyakinan akan kemaha-tahuan dan kemaha-hadiran Allah dengan kehadiran Allah di dalam penebusan Kristus.
Peka Dalam Mengikut Yesus
Saat Tuhan Yesus berangkat ke Galilea, Dia berjumpa dengan Filipus. Perjumpaan tersebut ternyata mengubah perjalanan hidup Filipus, karena dia merespon saat Tuhan Yesus berkata: “Ikutlah Aku” (Yoh. 1:43). Sama seperti Samuel yang dipanggil oleh Allah dan memberi respon yang positif, demikian pula Filipus saat dia dipanggil oleh Kristus. Tampaknya peristiwa perjumpaan dan pengalaman hidup saat Filipus mengikut Kristus begitu mengesankan, sehingga ketika Filipus berjumpa dengan Natanael dia segera memberi kesaksian: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret" (Yoh. 1:45).  Dasar kesaksian Filipus yang dikemukakan kepada Natanael adalah bahwa dia telah menemukan Messias sebagaimana yang telah dinubuatkan oleh Musa dan kitab para nabi. Karena di Ul. 18:15 dinyatakan oleh Musa, yaitu: “Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan”. Salah satu tolok ukur untuk menilai Messias yang dijanjikan Allah adalah Messias tersebut memiliki ciri-ciri kehidupan seperti Musa yang melakukan karya keselamatan dan kuasa Allah melalui berbagai perbuatan mukjizat. Apabila Musa dipanggil oleh Allah untuk membebaskan umat Israel dari kuasa perbudakan Mesir, maka Messias yang dijanjikan oleh Allah tersebut akan membebaskan umat manusia dari kuasa perbudakan dosa. Selama Filipus mengikut Kristus, dia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah telah menunjukkan kuasaNya yang begitu besar di dalam diri Tuhan Yesus. Itu sebabnya saat dia bertemu dengan Natanael, dia segera mengajak Natanael untuk mengikut Kristus. Tetapi tampaknya Natanael seorang yang memiliki sikap kritis dan tidak mudah begitu saja percaya, apalagi disebutkan bahwa Yesus sang Messias berasal dari kota Nazaret. Pertanyaan yang muncul dalam diri Natanael adalah bagaimana mungkin dari kota yang tak ternama seperti Nazaret dapat muncul seorang yang disebut Messias. Itu sebabnya dia berkata kepada Filipus:"Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" (Yoh. 1:46).
                Namun sangat menarik justru Tuhan Yesus tidak menganggap Natanael sebagai seorang yang tidak peka atau buta secara rohaniah. Justru Tuhan Yesus berkata: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" (Yoh. 1:47). Ini berarti sikap kritis yang membuat seseorang tidak mudah percaya tidaklah senantiasa identik dengan sikap orang yang tidak peka dengan kehadiran Kristus. Dalam kasus Natanael, sikap kritisnya justru memperlihatkan jati-diri dariseseorang  yang tidak memiliki kepalsuan atau keyakinan iman yang munafik. Sebab yang menjadi landasan spiritualitas dari  orang-orang yang seperti Natanael adalah kegairahan untuk mencari kebenaran dan keselamatan yang sejati. Manakala mereka pada akhirnya dapat menemukan kebenaran dan keselamatan Allah yang dinyatakan dalam diri Kristus, maka mereka akan secara total mempersembahkan hidup mereka kepada Allah. Itu sebabnya hanya kepada Natanael, Tuhan Yesus berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia" (Yoh. 1:51). Tuhan Yesus menegaskan bahwa Natanael kelak akan melihat langit terbuka dan para malaikat Allah turun-naik kepada Anak Manusia, yaitu Dia sendiri. Natanael akan melihat kemuliaan Allah yang dinyatakan di dalam Kristus seperti yang pernah dialami oleh Yakub saat dia tertidur dan bermimpi di Betel (Kej. 28:12). Dengan demikian makna bersikap peka dalam mengikut Kristus bukanlah identik dengan orang-orang yang mudah dipengaruhi secara doktriner. Sebab orang-orang yang mudah dipengaruhi secara doktriner memang kelihatannya mudah sekali dibawa kepada pengertian akan ajaran tentang Kristus, tetapi tidak berarti mereka memiliki pola hidup yang lurus dan benar di hadapan Allah. Sebaliknya makna dari seseorang yang peka dalam mengikut Kristus adalah senantiasa mampu bersikap kritis, menguji segala sesuatu dan mau mencari kebenaran dengan segenap hatinya serta mempraktekkan secara konsisten dalam seluruh aspek kehidupannya. Tepatnya makna peka mengikut Kristus akan mendorong seseorang untuk selalu mendengar isi hati dan kehendak dari Allah yang dibarengi dengan sikap yang kritis. Kepekaan seorang beriman untuk mendengar denyutan hati Allah (“heartbeat of God”) tidak menutup fungsi hati-nurani yang selalu dibimbing oleh akal-budi.
Panggilan
Anak-anak imam Eli yakni Hofni dan Pinehas hidup di tengah-tengah kehidupan dan komunitas yang sarat secara rohani, tetapi mereka tidak pernah belajar peka mendengar dan mentaati firman Tuhan. Berbeda dengan sikap Samuel yang masih muda. Dia senantiasa peka dan sigap untuk melakukan tugas panggilannya. Itu sebabnya seluruh kehidupan Samuel ditandai oleh karakter yang tidak bercela. Dia selalu menjaga kehidupannya agar tetap etis dan berintegritas. Demikian pula panggilan hidup kita selaku umat percaya. Kita bukan hanya mampu mengamini kemaha-tahuan dan kemaha-hadiran Allah, tetapi juga harus mampu mewujudkannya dengan hidup yang kudus. Sebab tubuh kita telah ditebus oleh Kristus dan dijadikan  sebagai  Bait Roh Kudus. Jika demikian, apakah kehidupan kita selalu peka dalam mengikut Kristus? Apakah kita hanya mudah terkesan oleh pengajaran tentang Kristus secara doktrinal saja, tetapi kita gagal untuk menyatakan kemuliaan Allah dalam kehidupan kita? Dalam hal ini kita perlu memiliki sikap peka yang dibarengi dengan sikap kritis, khususnya sikap kritis terhadap diri sendiri. Amin.



Jumat, 26 Desember 2014

Khotbah Akhir Tahun 31 Desember 2014 Mazmur 121:1-7 “Thema: Tuhan Penjaga dan Naungan Kita”



Saudara yang dikasihi Tuhan, ada satu hal yang Tuhan perintahkan bagi orang-orang Yahudi yang ditulis dari Kitab Keluaran. Bagaimana setiap orang Yahudi terutama laki-laki, tiga kali dalam waktu satu tahun harus menuju ke Bait Tuhan.
Dan pada waktu dulu, Bait Allah itu ada di Kota Yerusalem. Mereka paling tidak satu tahun tiga kali harus naik ke Bukit Tuhan, naik ke Bukit Sion untuk bertemu dengan Tuhan di sana. Pada hari-hari raya tertentu, mereka menuju ke sana. Pada waktu mereka naik ke Kota Yerusalem, tingginya 800 meter dari permukaan laut sehingga suatu kota yang ada di satu bukit satu kota yang indah luar biasa. Dan setiap kali kita ada di sana, rasanya ingin untuk kembali lagi pergi ke sana. Daerah ini cukup tinggi, kalau di sini kurang lebih seperti di Puncak yang 1000 meter dari permukaan laut.
Mereka naik dari daerah sekitar Kota Yerusalem ke atas sambil membawa korban-korban persembahan, domba, lembu, bermacam-macam. Korban yang harus dibawa adalah korban-korban yang tidak bercacat cela. Pada waktu dulu tentu tidak seperti sekarang ada jalan-jalan yang indah yang enak dilalui, dulu jalan-jalannya berbatu-batu, bukit-bukit terjal menghadang mereka pada waktu naik ke kota Yerusalem. Pada waktu sambil naik, mereka menyanyikan nyanyian ziarah. Mazmur artinya adalah mizmor yang artinya nyanyian puji-pujian pada waktu suka dan duka. Mereka menyanyikan nyanyian-nyanyian ziarah, pujian-pujian untuk Tuhan.
Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.
Waktu mereka naik ke Bukit Sion, tentu berat, membawa domba-lembunya, mereka berjalan tertatih-tatih, suatu perjalanan yang cukup berat. Waktu mereka ada di tengah perjalanan, mereka melepaskan pandangannya ke sekitar gunung-gunung yang ada. Daerah Israel banyak gunung-gunung. Mungkin mereka mengalami pergumulan di daerah mereka masing-masing, mereka mau bawa masalah-masalah yang ada menuju ke Bait Tuhan, mereka bersuka cita menaikkan nyanyian ziarah, karena mereka tahu bahwa sebentar lagi akan bertemu dengan Tuhan, mereka tahu ada jawaban-jawaban di dalam pergumulan-pergumulan mereka, bahwa hanyalah di dalam Tuhan, pada waktu mereka bertemu Tuhan, itu ada pertolongan untuk mereka. Bukankah ini adalah gambaran dari perjalanan orang-orang percaya, orang-orang Kristen, Saudara dan saya? Di mana Tuhan sebenarnya mau kita melakukan seperti mereka lakukan.
Ada 3 hal yang mereka lakukan yang tersirat daripada ayat-ayat tadi:
=Fokus kepada Tuhan
=Pertolongan hanya dari Tuhan
=Hidup kekristenan kita harus makin lebih tinggi lagi

Fokus kepada Tuhan
Mazmur 121:1,
Nyanyian ziarah. Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?
Saudara yang dikasihi Tuhan, orang-orang Israel dalam perjalanan mungkin dia ingat masalah yang dihadapi. Tapi dia nyanyikan nyanyian ziarah dengan suka cita. Karena dia tahu, sebentar lagi dia tahu akan bertemu dengan Tuhan, dia tahu sebentar lagi dia akan dapat pertolongan, dia lepaskan pandangannya ke daerah gunung-gunung itu, dari manakah akan datang pertolonganku?. Saudara, mari kita fokus kepada Tuhan. Gunung-gunung bisa berbicara mengenai persoalan kita, masalah-masalah yang kita hadapi. Mereka melayangkan pandangannya ke gunung-gunung. Di antara masalah-masalah yang kita hadapi, kita mencari pertolongan.
Suatu waktu, Abram dan Lot sama-sama berkembang dan makin kaya. Tempat mereka berdua, makin lama makin kecil. Dan rupanya pegawai keduanya ribut karena tempatnya kekecilan. Lalu Abram tahu harus berpisah, lalu dia panggil Lot, karena keduanya adalah kerabat tidak baik ribut. Sebagai orang Kristen, kalau ada yang bertengkar keluarga lepas keluarga, suami-istri bertengkar, segera bertobat dalam nama Yesus Kristus.
Tidak baik sebagai orang Kristen kita ribut terus, suami-istri ribut, anak-anak dengan orang tua ribut, gembala dengan jemaat, jemaat dengan jemaat ribut terus, tidak jadi contoh yang baik. Abram berkata, lebih baik berpisah supaya tidak bertengkar. Kalau Lot ke kiri, Abram ke kanan. Abram memberi priviledge kepada Lot untuk memilih, mempersilakan Lot untuk mengambil wilayah duluan, nanti baru Abram sisanya. Ternyata Lot salah.
Kejadian 13:10,
Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. --Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora. --
Rupanya Lot salah, waktu diberi kesempatan, dia melayangkan pandangannya ke Lembah Yordan, ternyata di lembah itu banyak airnya. Dia hanya melihat hal-hal yang jasmani saja, hal-hal yang berkat saja yang dilihatnya. Di ayat-ayat selanjutnya, keluarga Lot menjadi keluarga yang berantakan, karena dia salah melayangkan pandangannya. Saudara yang dikasihi Tuhan, Abram memberi kesempatan padahal dia lebih tua, lebih kaya, yang membuat Lot kaya itu adalah Abram. Tapi Abram mau mengalah lebih dulu. Saudara, ternyata mengalah itu indah.
Memang Abram mengalah, tapi ternyata dia mengalami berkat dan pertolongan Tuhan. Mungkin hari-hari ini kita ada pergumulan, rasanya kita tidak mau kalah, logika manusia berkata bahwa kita tidak boleh kalah. Tapi coba Saudara lakukan seperti Abram lakukan, maka seperti Abram mengalah, seperti Yesus mengalah, bahkan seperti firman-Nya katakan, "kalau ditampar pipi kiri, beri yang kanan," maka kita akan melihat ke depan bagaimana justru kita akan diberkati.
Jadi kalau Saudara melayangkan pandangan, pergi ke ibadah, nomor satu Saudara harus cari Tuhan. Waktu Lot melayangkan matanya, ternyata dia lihat hal yang jasmani dan keluarganya mengalami keterpurukan.
Mazmur 121:2,
Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.
Apakah masih ada mujizat Tuhan sampai dengan hari ini? Bukankah mujizat Tuhan itu yang dulu saja, 2000 tahun yang lalu?"
Firman Tuhan berkata: Ibrani 13:8, Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. Halelulya! Katakan, "pertolonganku hanya dalam nama Yesus Kristus!"
Saudara, apa yang menjadi pergumulan Saudara? Kalau hari-hari ini Saudara mungkin bergumul untuk kesembuhan, sakit-penyakit, kesembuhan finansial, persoalan-persoalan rumah tangga, persoalan-persoalan di dalam bisnis Saudara, persoalan-persoalan di dalam sakit-penyakit Saudara.
Dengarkan baik, yang pertama, miliki antusiasme, artinya semangat, untuk kita datang kepada Tuhan Yesus Kristus. Seperti orang-orang Israel, di dalam masalah, biarpun berat, mereka tahu, pada waktu nanti bertemu dengan Tuhan, ada pertolongan daripada Tuhan. Saudara jangan patah semangat, pada waktu patah semangat kita sudah mengalami kekalahan. Tetapi pada waktu kita memiliki semangat, kita memiliki roh yang menyala-nyala untuk bertemu dengan Tuhan. Itu berarti 50%, sebagian besar, setengah bagian dari persoalan Saudara, itu sudah Saudara menangkan! Kita sudah mengalami kemenangan!
Lalu Saudara mulai melangkah dengan penuh semangat, dengan iman percaya, bahwa hanya dengan bilur-bilur Yesus, hanya dengan kuasa Yesus, kesembuhan itu boleh terjadi. Kita mau mulai melangkah, dan Saudara imani dengan sungguh bahwa mujizat dan kesembuhan itu tetap terjadi sampai dengan hari ini. Tapi perlu saya ingatkan, ada satu perkara, Matius 5:23-24, Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Saudara, garis bawahi ayat 24, kata "berdamai". Ini kata kunci untuk kita boleh mengalami terobosan-terobosan yang dahsyat dalam kehidupan. Kita harus Berdamai dengan Tuhan dan sesama.
Penutup
Perjalanan kekristenan adalah perjalanan mendaki puncak bukit. Mendaki puncak bukit Sion di mana Tuhan menunggu di puncak bukit itu. Dia menunggu dengan mahkota kehidupan. Memang kita tahu perjalanan ini adalah perjalanan yang berat, tapi Tuhan sudah memberikan kita penolong, yaitu Roh Kudus yang ada di dalam kehidupan kita pribadi lepas pribadi. Dia sungguh akan menolong kita pada waktu kita mau untuk hidup kekristenan kita makin hari makin lebih tinggi. Makin hari kita makin lebih lagi menjadi pelaku firman. Makin lagi hidup kita mengeluarkan buah roh. Dalam perjalanan, ada banyak masalah yang menghadang kita, ada banyak persoalan yang menghadang kita, tapi justru di tengah-tengah gunung persoalan yang ada, di situlah ada pertolongan Tuhan.
Tapi kita jangan salah untuk melayangkan pandangan kita, tapi biar tetap fokuskan, pertolongan kita hanya dari Tuhan. Jangan mencari pertolongan yang lain, karena itu akan menjadi sia-sia.
Tuhan berpesan kepada kita, kuatkan dan teguhkan hatimu, jangan menyimpang ke kanan dan ke kiri, perkatakanlah firman-Ku. Terima kasih Tuhan. Dan dengarkan baik Gereja Tuhan, pertolongan kita hanya dalam satu nama, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Jangan pernah ragu! Dia tidak pernah berubah dahulu, sekarang, sampai dengan selama-lamanya. Dia tetap Allah yang mengasihi kita, Dia tetap Allah yang sanggup melakukan banyak mujizat yang ajaib dalam hidup kita.
Mari, sebelum kita masuk lebih lagi, Tuhan sudah ingatkan dari kata berdamai, mari kita berdamai dengan Tuhan, kita berdamai dengan sesama, karena itu adalah perintah dari Dia, untuk mengasihi Tuhan Allah kita dan juga mengasihi sesama manusia seperti kita mengasihi diri kita sendiri.  Amen. RHL