Senin, 09 Maret 2015

Khotbah Minggu 08 Maret 2015 Kel. 20: 1-17


I.             Pendahuluan
 Nats ini merupakan sumber Alkitabiah dari Sepuluh Hukum yang diberikan Allah kepada Musa di gunung Sinai, tiga bulan setelah bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir. Hukum ini diberikan kepada bangsa Israel agar bangsa tersebut dapat berkaca dan melihat apakah sikap mereka telah sejalan dengan kehendak Allah. Andaikata hukum tersebut tidak ada maka hidup manusia akan semakin kacau. 'Hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang' (Galatia 3:24). Kita tidak dapat diselamatkan oleh karena melaksanakan Hukum Taurat, melainkan oleh karena imanlah kita dapat diselamatkan. Tetapi karena buah dari iman kepada Allahlah maka kita melaksanakan Hukum Taurat. Hukum yang paling mendasar (basic code) dalam hukum ilahi bangsa Israel adalah ayat 2-17 yang dinamakan dengan berbagai sebutan, antara lain "sepuluh hukum", "sepuluh ucapan", dekalog' dan "sepuluh perintah Allah".
II.           Keterangan:
Ayat Ayat 1-2: Lalu Allah mengucapkan segala Firman ini, yang berarti bahwa Allah mengucapkan sebuah ucapan yang sarat dengan aturan teknis (terminus teknikus) kepada 'ketentuan perjanjian' di Timur Dekat, dan kita dapat membaca pada buku Ulangan: "Dan la memberitahukan kepadamu perjanjian, yang diperintahkanNya kepadamu untuk dilakukan, yakni kesepuluh Firman dan la menuliskannya pada dua loh batu" (Ulangan 4:13), dan dipertegas dengan perkataan 'Akulah Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar', inilah yang merefleksikan struktur perjanjian kerajaan kontemporer. Perjanjian Kerajaan pada awal perjanjian lama sering diawali dengan identifikasi (perkenalan) diri sendiri seorang Raja, melalui prolog historis yang singkat (Bnd Kejadian 15:7). Berdasarkan kepada identifikasi diri sendiri mengenai Allah, serta prolog historis singkat yang menerangkan bahwa Allah sendirilah yang mengeluarkan bangsa Israel, sehingga ditekankan kembali di dalam perintahNya harus dilaksanakan/dilakukan dengan cara melaksanakan perintah Allah (selaku patron/patokan perjanjian kerajaan), sehingga diakui bahwa Allah adalah raja di tengah-tengah bangsa Israel, dan sebagai kesaksian bahwa bangsa Israel adalah bangsa Allah. Selaku bangsa Allah maka setiap orang Israel tanpa terkecuali harus memperlihatkan kepatuhan (obedience) dan penyerahan diri secara penuh kepadaNya, karena Allah telah memberikan kepada mereka kasih karunia dan berkat. Bangsa Israel harus yakin kepada kedaulatan Allah yang akan menemani bangsa Israel secara berkelanjutan (continuing care). Ayat 3-6: "Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku" (You shall have no other gods before me) bertujuan untuk menekankan agar tidak ada lagi 'allah' yang lain (secara nyata atau secara imajinasi) yang akan menjadi tandingan/saingan Tuhan Allah yang penuh dengan kasih karunia di hati dan pikiran bangsa Israel, agar mereka juga tidak mendua hati. Karena pada awalnya agama bangsa Israel telah ditekankan agar 'Monotheisme' (bukan polytheisme). Satu Tuhan, jangan ada lagi tuhan yang lain. Rasul Paulus juga menekankan mengenai kesatuan kepada Allah: "namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari padaNya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup" (I Korintus 8:6). Dan Allah juga memerintahkan untuk tidak membuat patung yang menyerupai apapun yang ada di langit atas, atau yang ada di bumi di bawah atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Seperti yang kita ketahui, Tuhan Allah bukan yang berbentuk 'visible' (dapat dilihat mata), oleh karena itu bangsa Israel menentang setiap patung atau penyembahan yang bertujuan memperlihatkan bentuk Allah dan itu merupakan sebuah dosa. Oleh karena itu, sebuah dosa apabila ada yang menyembah allah lain, serta yang membuat patung penyembahan meniru allah lain (Ulangan 4:19+23-28). Konsekuensi dari hukum ke dua memperlihatkan kepada bangsa Israel bahwa Allah adalah Allah yang pencemburu yang akan membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku. Allah tidak suka memiliki saingan atau menyembah Dia dengan setengah hati, melainkan harus dengan sepenuh hati dan pikiran untuk menyembah Dia. Sebenarnya sikap 'cemburu' dan 'membalaskan' merupakan bagian dari kasih Allah karena: a.  Allah mau meminta ketaatan yang khusus dari manusia yang hanya kepadaNya (Ulangan 4:24) b. Dia akan mengiring semua manusia yang melawan kepadaNya ke dalam penghukuman (1 Raja-raja 14:22) c. Allah selalu setia melindungi bangsaNya (2 Raja-raja 19:31) Siapa yang mengingkari janji Allah dan yang menolak Allah sebagai Raja, berarti membawa hukuman kepada diri sendiri dan kepada seluruh keturunan keluarganya. Kita juga dapat melihat bagaimana Yosua bersama-sama bangsa Israel disuruh Allah untuk menghukum orang Israel yang melawan Allah bersama bangsa Kanani yang berada di sekitar Israel. Biasanya keturunan atau keluarga orang Israel dihitung sampai kepada keturunan ketiga. Ayat 7: Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan. Dalam alkitab bahasa Inggris (NIV) tertulis "misuse the name of the lord" yang berarti salah mempergunakan nama Tuhan dilarang diperintah Allah, misalnya memakai nama Tuhan untuk ingkar janji kepada sesama manusia, berbohong untuk menunjukkan kebenarannya, memakai nama Tuhan untuk mengutuk atau memakai formula magis dengan nama Tuhan. Kita tidak dapat mengendalikan Allah dengan memakai namaNya (Bnd Imamat 19:12;5; Ulangan 5:11; Yeremia 7:9). Dalam Perjanjian Baru saat Yesus berkhotbah di bukit, Kristus juga mengelaborasi mengenai tidak dibenarkannya bersumpah palsu (Matius 5:33-37). Ayat 8-11: Perintah ini khusus untuk menguduskan hari Sabbat, agar enam hari manusia bekerja. Dalam ayat inilah pertama sekali istilah 'Sabbat' muncul sebagai hari perhentian yang harus dikuduskan, walaupun secara prinsipil telah ada dalam proses penciptaan. Dalam Kejadian 2:3 dikatakan "Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah la berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuatNya itu". Walaupun istilah 'Sabbat' tidak dipakai dalam ayat tersebut, tetapi di dalam bahasa Ibrani yang dipakai untuk kata 'berhenti' berasal dari kata benda 'Sabbat'. Keluaran 20:11 ini mengutip setengah dari bagian Kejadian 2:3, tetapi kata 'ketujuh' diganti menjadi 'Sabbat'. Inilah yang menunjukkan bahwa kata 'Sabbat' sama dengan kata 'Hari yang Ketujuh'. Catatan pertama mengenai kewajiban menguduskan hari Sabbat adalah yang dilakukan bangsa Israel saat di padang gurun antara Mesir dan Sinai (Keluaran 16), dan dalam Nehemia 9:13-14 hari Sabbat bukanlah sebuah perjanjian yang bersifat 'obligatoris' sampai kepada penerimaan Hukum Taurat di gunung Sinai. Bangsa Israel disuruh untuk menguduskan hari Sabbat, bukan mau mengatakan bahwa hari ketujuh lebih kudus dari diriNya sendiri. Tetapi kekudusannya karena kehadiran Allah di dalam hari tersebut. Kekudusan Sabbat berarti: memakai hari yang ketujuh sebagai hari khusus untuk memuji Allah. Karena hari ketujuh berbeda dengan hari-hari yang lain (hari-hari kerja), maka Allah memerintahkan untuk tidak melaksanakan pekerjaan apapun pada hari itu karena: a. Allah berhenti pada hari yang ketujuh setelah la selesai menciptakan, oleh karena itu bangsa Israel harus melaksanakan 'kerja - istirahat' yang sama. b.Bangsa Israel haruslah berhenti pada hari Sabbat, dan para pekerja/pesuruh/budak dapat juga berpartisipasi pada hari Sabbat, karena Allah juga telah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir (Ulangan 5:14-15). Sabbat sebagai tanda (sign) akan perjanjian Allah kepada bangsaNya di gunung Sinai (31:12-17). Ayat 12: Hormatilah ayahmu dan ibumu (honor your father and your mother), yang mau dikatakan di ayat ini adalah agar semua orang menghormati ayahnya dan ibunya, seperti yang diperintahkan dalam Imamat 19:3, dan ditekankan kembali "Apabila ada seorang yang mengutuki ayahnya atau ibunya, pastilah ia dihukum mati; ia telah mengutuki ayahnya atau ibunya, maka darahnya tertimpa kepadanya sendiri" (Imamat 20:9). Seperti itulah pentingnya untuk menghormati orangtua di tengah-tengah komunitas bangsa Israel dalam Perjanjian Lama, bahkan sampai dikatakan siapa yang tidak mau mendengarkan pengajaran orang tuanya, maka dia akan ditangkap oleh ayahnya dan ibunya serta membawanya kehadapan para pemuka agama serta kepada tetua kampung. Dan semua laki-laki akan melempari dia dengan batu sampai mati (Ulangan 21:18-21). Namun dalam Perjanjian Baru tidaklah seperti itu beratnya hukuman secara fisik, tetapi Rasul Paulus mengatakan "Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian" (Efesus 6:1). Ada sebuah janji di dalam perintah Allah ini yaitu supaya lanjut umurmu di tanah yang berikan Tuhan Allah kepada bangsa Israel. Janji ini diekspresikan ketika bangsa Israel meneruskan perjalanan dari Sinai menuju ke tanah Kanaan melewati sisa perjalanan mereka di padang gurun. Ayat 13-17: Dalam ayat ini, diuraikan kembali panggilan agar tidak membunuh, berzinah, mencuri, bersaksi dusta, dan mengingini rumah sesama. Agar bangsa Israel tidak membunuh apabila tidak ada alasan yang kuat untuk melakukannya (bnd Matius 5:21-26). Dikatakan disini jangan berzinah, merupakan dosa kepada Allah dan kepada hubungan rumah tangga (Matius 5:27-30). Jangan mencuri, maksudnya adalah agar didalam kerendahan hatiiah orang memakai apa yang diberikan Allah kepadanya, jangan memakan yang bukan bagian kita. Dikatakan juga jangan bersaksi dusta, berarti mengajari manusia untuk selalu mengatakan yang benar. Jangan mengingini rumah sesamamu, agar tidak ada didalam hati seseorang sebuah motivasi yang jahat untuk merampas sesuatu yang diinginkannya (Matius 15:19). Melanggar perintah Allah di dalam hati juga sama dengan melawan secara fisik (Matius 5:21-30).
III.         Aplikasi Khotbah/ Bahan Renungan 1.Yang harus kita mengerti dan kita renungkan dari khotbah Evangelium ini adalah masalah ketaatan kepada Allah yang penuh dengan kasih karunia. Jangan sampai mendua hati untuk menyembah kepadaNya, jangan ada dari kita warga jemaat yang masih mau menyembah arwah-arwah dari nenek moyang kita yang telah meninggal, demikian juga jangan lagi ada yang menjadi hamba uang. Saat ini banyak orang menjadi penyembah harta, seakan-akan harta adalah segala-galanya di dalam kehidupannya. Inilah yang menjadi tugas kita untuk memberitakan firman Tuhan kepada orang yang telah mendua hatinya, agar imannya menjadi murni kembali.Jangan ada lagi dari warga jemaat yang mengatakan "Orang tua adalah Allah yang terlihat". Pandangan tersebut sama sekali tidak mempunyai dasar dari firman Tuhan. Tidak mungkin orang tua selaku manusia digambarkan sebagai Allah yang terlihat di dunia ini, karena hakekat manusia dan hakekat Allah adalah berbeda. Kita hanya disuruh untuk menghormati orang tua kita! 2.Jangan sampai kita menganggap orang tua adalah Allah yang terlihat. Apabila kita menghormati orang tua pada masa-masa hidupnya maka umur kita akan panjang di dunia ini, tetapi kata 'panjang/lama' disini bukanlah secara kronologis tetapi juga secara ontologis. 3. Allah mengajari kita untuk memakai waktu istirahat pada hari 'Sabbat' (Setelah di / Perjanjian Baru menjadi hari minggu, karena pada Minggu subuh hari kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian). Kita pakailah hari minggu sebagai hari istirahat dari berbagai pekerjaan, fokuslah kita pada hari minggu untuk memuji Tuhan. Aktifitas di hari minggu pun haruslah berkaitan dengan memuji dan memuliakan Tuhan, misalnya: Ibadah di gereja, memberikan penguatan dan penghiburan. 4. Janganlah kita iri dan dendam kepada sesama manusia, karena iri dan dendam sama dengan yang membunuh. Dan janganlah kita berzinah serta berbohong/bersaksi dusta serta mencuri. Mari kita manfaatkan waktu yang diberikan Tuhan Allah kepada kita untuk mencari dan melaksanakan yang sesuai dengan kehendak Allah. Mari kita jauhkan sifat rakus dan sikap yang hedonis yang hanya mencari kenikmatan dunawi. Amin 




Tidak ada komentar: