Sabtu, 15 Agustus 2015

Khotbah Minggu 16 Agustus 2015 Ibrani 13: 1-15 Thema Minggu : “Aku Sekali-kali Tidak Meninggalkan Engkau”/ Sandok Tung Na So TinggalhononKu do Ho


I. Pendahuluan
Surat  Ibrani adalah Surat yang dialamatkan pertama sekali kepada orang Yahudi yang telah menjadi pengikut Kristus. Mereka telah menerima dan menjadi pengikut Kristus, namun karena terjadi penganiayaan yang begitu berat, baik secara kehidupan sosial maupun secara fisik, baik dari pihak bangsa Yahudi maupun Romawi, mereka mulai bimbang dan goyah untuk mempertimbangkan kembali menjadi agama Yahudi. Dengan demikian, Surat Ibrani memberikan penguatan dan peneguhan serta mengingatkan mereka supaya tetap beriman kepada Yesus dan tinggal tetap dalam Kekristenan. Untuk Itulah dalam kitab Ibrani diperlihatkan kesempurnaan Kristus sebagai keselamatan dan kehidupan yang jauh lebih unggul dan sempurna dari siapapun dalam dunia ini. Sang Penulis menyatakan identitas sejati Yesus sebagai Allah. Dialah Penguasa Tertinggi. Ia lebih mulia daripada agama atau malaikat manapun. Ia lebih tinggi dari pemimpin Yahudi manapun (seperti Abraham, Musa, atau Yosua) dan lebih tinggi daripada Imam manapun
Tidak jarang kita melihat kasus-kasus kehidupan yang terjadi ditengah-tengah kehidupan kita sehari-hari akibat satu masalah dapat merembes memunculkan masalah yang lain. Contoh sederhananya bisa akibat permasalahan ekonomi keluarga dapat berdampak pada keharmonisan rumahtangga atau bahkan dapat membuat seseorang mencari uang dengan jalan yang tidak benar.
Jika kita tidak mampu mengendalikan diri menghadapi suatu tantangan hidup dapat berdampak ke bagian kehidupan yang lain.
Sehingga dalam tujuan penulisan surat Ibrani ini kita diingatkan oleh Tuhan supaya orang percaya di dorong untuk tetap tabah dan setia di dalam iman, semakin dewasa secara rohani dan mempertahankan kekudusan sebagai umat pilihan Allah. Seberapa beratpun tantangan yang sedang dihadapi oleh orang percaya supaya jangan pernah meninggalkan kesetiaan kepada iman, tetap menjaga kekudusan.
Disinilah diingatkan kembali bagaimana orang Kristen itu supaya semakin dewasa secara rohani, setiap saat perjalanan kehidupan yang boleh kita lalui kita manfaatkan untuk semakin mendewasakan dan mematangkan kita. Sehingga setiap kondisi kehidupan yang kita lalui adalah untuk menempah kita menjadi orang Kristen yang tangguh dan kuat.
Beberapa nasehat diperlihatkan kepada kita untuk menjaganya dan memperhatikan dengan seksama sekalipun beratnya tantangan kehidupan yang harus kita hadapi, beberapa nasehat itu diantaranya:
-    Kasih persaudaraan
-    Menjaga kekudusan pernikahan
-    Tidak menjadi hamba uang
-     Memperhatikan dan meniru iman orang-orang yang menjadi pembimbing iman dan yang telah mendahului mereka yang tetap berpengang dalam iman.
-     Ucapan bibir yang memuliakan Tuhan
Sebagai umat yang percaya kita mempunyai tujuan hidup yaitu “mencari kota yang akan datang” (ay.14). Sebab dunia bukanlah tempat tinggal yang tetap. Sehingga nasehat yang disampaikan Firman Tuhan ini sangat jelas supaya dalam menghadapi persoalan kehidupan apapun, kita tidak diombang-ambingkan nasehat-nasehat yang menyesatkan kita.
Sebaliknya, kita diteguhkan bahwa apapun pergumulan yang sedang kita hadapi ada Tuhan yang menjadi penolong kita (ayat 6). Kuasa pertolongan Tuhan itu tetap nyata sepanjang masa, Allah tetap bekerja ditengah-tengah kehidupan umatNya. Sebab Tuhan Yesus adalah kekal dahulu sekarang dan sampai selamanya (ayat 8).
Maka dibutuhkan kesabaran di dalam iman menghadapi segala apapun kondisi yang kita hadapi. Jika kita mendahului dengan ketakutan dan kekawatiran, maka nasehat-nasehat penyesat akan mudah merasuki kehidupan kita, akhirnya yang terjadi satu masalah dapat merambat membawa masalah baru dalam kehidupan kita. Biarlah setiap apapun yang terjadi dapat kita hadapi dengan iman bahwa Tuhan ada, melihat dan akan menolong kita. 
Pertama, hidup saling mengasihi dan menghormati.
Kasih adalah dasar dari keluarga, oleh sebab itu mengasihi bukan hanya tugas seorang suami tetapi juga seorang istri (Titus 2:4-5).  Perempuan diciptakan oleh Allah dengan tujuan menjadi penolong bagi laki-laki.  Jadi istri adalah “penolong” bagi suami bukan penodong atau perongrong.  Demikian pula dengan para suami harus mengasihi istri dengan tulus, jujur dan sungguh-sungguh.  Didalam menanggung beban suami istri harus saling tolong menolong (Gal 6:2).  Hidup tolong menolong adalah bukti bahwa orang itu saling mengasihi, seperti memberi tumpangan kepada yang membutuhkan dan memperhatikan orang hukuman dan orang yang diperlakukan sewenang-wenang ialah bukti dari kasih persaudaraan (Ibrani 13: 1-3)

Kedua, menjaga kekudusan keluarga. (ayat 4)
Kekudusan perkawinan sangatlah berharga dihadapan Allah sebab kekudusan perkawinan pada dasarnya mencerminkan kekudusan Allah.  Oleh sebab itu diperintahkan: “ Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.  Suami istri harus menjaga kekudusannya sebab dengan demikian mereka diberkatin oleh Tuhan dan menjadi alat bagi kemuliaan-Nya.

Ketiga, percaya akan pemeliharaan Tuhan (ayat 5 – 6)
Tidak dapat dipungkiri bahwa kecintaan akan materi secara berlebihan telah menjadi budaya umum dalam masyarakat.  Segala sesuatu diukur berdasarkan kepemilikan atas materi.  Demikian pula dalam kehidupan keluarga, masalah ekonomi, keinginan akan materi seringkali menjadi pemicu bagi retaknya bangunan kokoh sebuah keluarga.  Oleh sebab itu diperingatkan: “ Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.”  Pemujaan akan uang pada hakekatnya ialah pengingkaran akan Allah.  Pengingkaran bahwa Allah memiliki kesanggupan oleh kuasa-Nya untuk memelihara kehidupan kita dari sehari ke sehari. TERPUJILAH TUHAN. Amen
Dari Berbagai Sumber



Tidak ada komentar: