Rabu, 06 Januari 2016

Jamita Minggu 10 Januari 2016 Ev: Lukas 3:15-17.21-22

                                                    
Bacaan Injil kita saat ini mengungkapkan tentang peristiwa pembaptisan Tuhan Yesus oleh Yohanes pembaptis. Ketika Yohanes pembaptis menyerukan kepada banyak orang bertobat, seruan itu rupanya mendapatkan respon yang positif dari orang-orang dijamannya. Berduyun-duyun orang meminta untuk dibaptis karena mereka ingin bertobat.
Peristiwa pembaptisan tersebut memberikan harapan baru kepada mereka bahwa dengan pembaptisan yang mereka terima, dosa-dosa mereka telah dihapuskan.
1.       Penantian  akan datangnya  Mesias untuk menyelamatkan orang Israel telah lama ditunggutunggu, meskipun sikap dalam penantian akan Mesias tersebut motifnya lebih dominan pada dimensi politisnya dari pada aspek teologisnya. Sikap tersebut secara manusiawi dapat dipahami karena melihat situasi dan kondosi umat Yahudi pada waktu itu berada dalam situasi yang sangat sulit, baik dari segi social ekonomi, politik, budaya, agama dan sebagainya. Dalam konteks tersebutlah umat mengharapkana datangnya seorang yang dapat memperjuangkan eksistensi mereka sebagai umat yang di klaim sebagai pilihan Allah. Oleh sebab itu kehadiran dan keberadaan Yohannes pembaptis yang vocal dalam menyuaran “pertobatan” diyakini sebagai refresentasis Mesia yang mereka nantikan selama ini.
2.       Dalam Nats ini Yohannes pembaptiskan menegaskan dan memproklamirkan Mesias yang sejati sesungguhnya bukan pada dirinya melainkan ada dalam diri Yesus Kristus. Yohannes pembaptis menyatakan bahwa dirinya hanyalah manusia biasa. Sikap Yohannes dalam nats ini menyatakan tentang KUASA dari Allah dinyatakan di dalam diri Yesus Kristus, Ia akan MEMBAPTIS dengan ROH Kudus dan Api. Pernyataan itu menegaskan bahwa kuasa Allah sagat luarbiasa.  Sikap dan tindakan Yesus yang mau dibabtis menunjukkan sikap, bahwa Ia mau memposisikan diriNya masuk dalam keberdosaan manusia meskipun dia hidup tanpa Dosa. Paptisan Roh Kudus dapat didefinisikan sebagai karya Roh Allah yang mempersatukan orang percaya dengan Kristus dan dengan orang-orang percaya lainnya dalam Tubuh Kristus pada saat orang itu diselamatkan. 1 Korintus 12:12-13 dan Roma 6:1-4 adalah ayat-ayat utama dalam Alkitab yang mengajarkan doktrin ini. 1 Korintus 12:13 mengatakan, “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.” Roma 6:1-4 mengatakan, “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” Meskipun Roma 6 tidak secara khusus menyebut Roh Allah, bagian Alkitab ini menggambarkan kedudukan orang percaya di hadapan Allah dan 1 Korintus 12 memberitahu kita bagaimana hal itu terjadi.

Tiga fakta perlu diperhatikan untuk menguatkan pengertian kita akan baptisan Roh. Pertama, 1 Korintus 12:13 dengan jelas menyatakan bahwa semua telah dibaptis sama seperti semua telah diberi minum (berdiamnya Roh Kudus). Kedua, Alkitab tidak pernah menasehati orang-orang percaya untuk dibaptiskan dengan/dalam/oleh Roh. Ini menunjukkan bahwa semua orang percaya telah mengalami pelayanan ini. Akhirnya, Efesus 4:5 nampaknya menunjuk pada baptisan Roh. Jikalau ini memang demikian, baptisan Roh adalah kenyataan hidup dari setiap orang percaya, sama seperti, ”satu iman” dan ”satu Bapa.”

Sebagai kesimpulan, baptisan Roh Kudus menggenapi dua hal, (1) menyatukan kita dengan Tubuh Kristus, dan (2) mengaktualisasikan penyaliban kita bersama dengan Kristus. Berada dalam tubuh Kristus berarti kita bangkit bersama dengan Dia dalam hidup yang baru (Roma 6:4). Kita perlu menggunakan karunia rohani kita untuk memastikan bahwa tubuh itu berfungsi sebagaimana mestinya seperti yang dijelaskan dalam 1 Korintus 12:13. Mengalami baptisan dari Roh yang sama menjadi dasar untuk memelihara kesatuan gereja seperti yang dikatakan dalam Efesus 4:5. Menjadi sama dengan Kristus dalam kematian, penguburan dan kebangkitanNya melalui baptisan Roh menjadi dasar untuk mewujudkan pemisahan kita dari kuasa dosa dan untuk kita berjalan dalam hidup yang baru (Roma 6:1-10; Kolose 2:12) Pembaptisan Yesus sekaligus menegaskan tentang PERTOBATAN bagi umat manusia. Kesediaan Yesus memberi diri-Nya dibaptis adalah tanda solidaritas-Nya terhadap manusia dan tanda telah dimulainya misi kemanusiaan Tuhan Yesus di tengah-tengah dunia. Segera setelah Yesus dibaptis, turunlah Roh Kudus sebagai tanda bahwa Allah Bapa berkenan atas-Nya ( Luk 3:22*). Dengan demikian karya penebusan Allah dalam diri Tuhan Yesus Kristus menjadi karya yang realistis dan menjawab permasalahan umat. Jadi misi Yesus adalah misi surgawi, misi Allah sendiri untuk umat manusia.
3.       Yohanes sudah mulai dengan mengarahkan fokus perhatian orang banyak bukan kepada dirinya, melainkan kepada Yesus. Apa bukti bahwa Yesus adalah Mesias yang diutus Allah dan berkuasa menyelamatkan manusia dari perbudakan dan penghukuman dosa?  Kepada orang banyak, Allah Bapa mendemonstrasikan pengurapan-Nya atas Yesus. Di dalam baptisan Yesus, suara Allah Bapa, kehadiran Roh Kudus menegaskan akan ke-Allah-an Yesus dan misi keselamatan diemban Yesus
4.       Untuk menyelamatkan manusia, Yesus rela meninggalkan kemuliaan ke-Allah-an-Nya menjadi manusia sejati. Siapkah kita menjadi Kristen yang rela mengorbankan hak-hak kita untuk menjangkau sesama kita yang masih di dalam dosa? Tuhan telah datang untuk menebus dosa kita, dan dia telah rela mati untuk dosa kita, oleh sebab itu marilah kita hidup dalam kehendakNya, bertobatlah.


Tidak ada komentar: